PT. Nawakara Minta Polda Proses Kasus Pencurian Emas

  • Wednesday, Oct 11 2017

    TOBELO – Manajemen  PT. Nusa Halmahera Mineral (NHM) melalui sub kontraktor PT. Nawakara  meminta  Polda Maluku Utara (Malut) menindaklanjuti laporan kasus dugaan pencurian batu ore (mengandung emas) yang diduga dilakukan pada Agustus 2016 oleh sejumlah karyawan dan dua oknum polisi yang tugaskan di perusahan tersebut.  "Saya selaku penanggung jawab PT. Nawakara yang melakukan penyelidikan internal di perusahaan dan melaporkan ke Bagian Krimum Polda Malut pada tahun  2016 lalu,"kata Andreas, Manajer PT. Nawakara kepada koran ini, kemarin (10/10).
    Ia berharap agar kasus ini dapat diproses dan pelaku dapat mendapat hukuman. "Dalam kasus ini tidak ada keterlibatan manajemen PT. Nawakara.  Tapi melibatkan oknum security dan juga oknum polisi. Kami berharap agar kasusnya ini diproses sampai tuntas oleh Polda, tidak bisa didiamkan,"ujarnya.     Selaku penanggung jawab manajemen di PT. Nawakara, ia  pernah dipanggil penyidik di Polda Malut untuk dimintai keterangan terkait kasus tersebut. "Saya dipanggil pada Februari 2017 lalu untuk diperiksa sebagai saksi. Tapi setelah itu tidak ada lagi tindaklanjutnya  dari kasus ini,"katanya.
    Menurutnya, kronologis kasus dugaan pencurian baru ore di lingkup PT. NHM ini terungkap setelah dirinya meminta keterangan dari salah satu security atas nama Kadin Pakanda.     Andreas menjelaskan, kasus dugaan pencurian ini terjadi pada 17 Agustus 2016 sekitar pukul 17.30 WIT di lokasi PT. Nusa Halmahera Mineral.     Sesuai keterangan Kadin Pakanda (eks security yang sudah diberhentikan), kasus ini bermula saat  dia (Kadin) dan dua teman sesama security melakukan patroli pengecekan lokasi perusahan. Saat patrol itu mereka melihat ada nyala senter dari dari ex helipad lama BLY.
   Karena curiga ada sesuatu yang tidak beres, Kadin dan kedua teman securitinya mendekat dimana cahaya seter itu berasal. Dan saat tiba di lokasi, mereka melihat ada penumpukan batu ore satu dam truc dan terlihat 12 orang bekerja mengisi batu ore tersebut dalam karung. 
   Singkat cerita, mereka juga ikut terlibat dalam  kasus itu setelah dua orang oknum polisi yakni S dan L bekerja sama untuk menyeludupkan batu ore (mengandung emas) dari perusahaan tersebut. Setelah dua hari, tepatnya  20 Agustus 2016, oknum polisi  F dan L meminta Kadin dan Alvian untuk merapat ke kamar milik oknum polisi itu. Saat tiba di kamar, F mengeluarkan uang sebesar Rp 30 juta pecahan Rp 100 ribu sebanyak tiga ikat untuk dibagi rata dengan dua rekannya. "Atas kasus ini saya sudah pecat sejumlah karyawan yang diduga terlibat dalam kasus ini. Dan secara resmi kami juga sudah melaporkan ke Polda Malut,"tandansya.(rid/kox)