TIDORE— Angka perceraian di wilayah kerja Pengadilan Agama Soasio dalam 3 tahun terakhir, terus meningkat. Dalam tempo tersebut ada 481 ibu rumah tangga menjadi janda. Banyak alasan muncul dalam perkara perceraian yang ditangani hakim pengadilan agama. Yakni karena orang ketiga, ketidak harmonisan rumah tangga dan penelantaran atau lepas tanggung jawab.
    Wakil Ketua Pengadilan Agama Soasio Amran  Abas   dikonfirmasi di kantornya  belum lama ini menjelaskan, pengadilan agama Soasio adalah kabupaten Halteng, Haltim dan kota Tikep.     Meningkatnya angka perceraian di tiga daerah itu naik 58 persen. Untuk datanya adalah sebagai berikut. Ada 143 perkara ditangani 2014, terdiri dari 91 cerai gugat dan 52 perkara cerai talak. Angka perceraian terus naik di 2015, yakni 154 kasus, terdiri dari 95 cerai gugat dan 59 cerai talak. Sementara di 2016 lalu, tercatat 184 kasus perceraian. Diantaranya 124 cerai gugat dan 60 cerai talak. “Maraknya kasus perceraian ini yang paling banyak mengadu  ke Pengadilan Agama yakni pihak perempuan, dengan alasan ketidakharmonisan dalam keluarga dan ada pihak ketiga,” ungkap Amran.
    Menurutnya, dari data yang dikumpulkan, ada beberapa faktor penyebab  perceraian. Yakni faktor ekonomi, moral, dan faktor tidak bertanggung jawab terhadap keluarga. Hal ini, menjadi penyebab paling dominan. Ia mengatakan, di Tikep, setiap  tahunnya  angka perceraian semakin meningkat dan berbagai faktor turut melatarbelakangi jumlah perceraian.  (far/ici)


GRAFIS
2014  143  Kasus   91 cerai gugat  dan 52 cerai talak.  
2015, 154  kasus,  95 cerai gugat dan 59 cerai talak.
2016, 184 kasus. 124 cerai gugat  dan 60 cerai talak