UANG EMISI BARU: Tak ada lambang partai terlarang di rupiah emisi baru 2016. Ft onn UANG EMISI BARU: Tak ada lambang partai terlarang di rupiah emisi baru 2016. Ft onn

TERNATE - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Maluku Utara (Malut) Dwi Tugas Waluyanto, membantah isu yang beredar bahwa dalam uang rupiah baru tertera gambar palu arit.
Penegasan itu disampaikan dalam sosialisasi uang emisi baru kepada tokoh agama, kemarin (11/1).  “Itu tidak benar,” tegas Dwi.  Menurutnya,  logo partai terlarang yang diisukan tersebut sebenarnya adalah logo BI yang menggunakan sistem rectovesto. Yaitu sistem pengamanan yang digunakan untuk mencegah terjadinya pemalsuan, dan selama ini sistem pengamanan seperti ini adalah yang paling susah untuk dipalsukan.
Sistem rectovesto sendiri sudah digunakan BI sejak tahun 1999. “Jadi soal logo partai terlarang itu hanya isu liar dan tidak benar, BI sudah gunakan cukup lama kenapa baru sekarang dipolemikan,” tanya Dwi.  Untuk meluruskan persoalan ini, BI kemudian mengundang para tokoh agama, dengan tujuan menyampaikan hal yang sesungguhnya. “Karena yang kita tahu, para guru ngaji, ulama dan sebagainya itu punya jamaah, jadi melalui forum tersebut kita harap bisa disosialisasikan,” harap Dwi.
Selain itu,  dia juga membantah wacana uang emisi baru 2016 mirip dengan mata uang yuan (Tiongkok). Dwi mengatakan proses pencetakan uang  seluruh Bank Sentral di dunia memiliki standar warna, karena itu ada kemiripan warna. “Jadi uang emisi baru ini, bukan saja mirip yuan, dia mirip dolar Singapura, atau mata uang real Arab Saudi, karena tadi mengacu pada standar,” jelas Dwi. Seluruh proses pencetakan dilakukan Perum Peruri, tak dicetak di tempat lain.
Ketua MUI Malut Samlan Ahman, menyayangkan adanya sinyalemen bahwa rupiah baru ada lambang partai terlarang. “Itu isu menyesatkan,” ucapnya usai pertemuan tersebut. (tr-02/onk).