Pemerintah Kebut Proyek Panas Bumi Jailolo-Wayaua

  • Thursday, Apr 20 2017

JAKARTA-Dua wilayah di Maluku Utara (Malut) masuk kawasan pengembangan panas bumi alias “harta karun energi” Indonesia.  Dua daerah tersebut adalah Jailolo, Halmahera Barat (Halbar) dan Songa-Wayaua, Halmahera Selatan (Halsel). Pemerintah sendiri menyiapkan lima upaya terobosan terbaru di tahun ini untuk mengembangkan proyek proyek infrastruktur pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) itu.
   
Direktur Panas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yunus Saefulhak, menjelaskan 5 terobosan sebagai upaya percepatan pengembangan panas bumi. Pertama, pelaksanaan lelang 5 (lima) WKP pada tahun 2017 untuk wilayah Indonesia Bagian Timur dengan pertimbangan harga keekonomian yang masih masuk dan menarik untuk investor.
"Lima WKP tersebut yaitu Gunung Hamiding, Simbolon Simosir, Oka Ile-Ange, Bora Pulu, dan Gunung Sirung yang ditargetkan untuk Commercial Operationg Date (COD) pada tahun 2024 dan 2025," kata Yunus sebagaimana dilansir dari situs resmi Kementerian ESDM, Rabu (19/4).

Kedua, lanjut Yunus, penugasan kepada Badan Layanan Umum (BLU) dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melaksanakan kegiatan eksplorasi dan produksi panas bumi di daerah-daerah yang harga keekonomiannya belum masuk.  Dia mengatakan pemerintah telah menugaskan PT PLN (Persero) untuk melakukan kegiatan pengembangan panas bumi Songa-Wayaua (Maluku Utara), di Atadei (NTT),  Ciater dan Tangkuban Perahu (Jawa Barat). Selain PT PLN (Persero), Pemerintah juga memberikan penugasan kepada PT Geo Dipa Energy untuk WKP Candi Umbul Telomoyo dan Gunung Arjuno Welirang. Yunus menjelaskan  terobosan ketiga adalah  mempersingkat perizinan untuk kemudahan investasi bidang panas bumi. “Saat ini sudah diimplementasikan pelayanan satu pintu untuk investasi di BKPM dan pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan prima yang memberikan kemudahan bagi investor,” kata Yunus.

Dia mengatakan terobosan keempat adalah  memberikan Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) kepada Badan Usaha yang memiliki potensi atau ketertarikan melakukan pengembangan panas bumi di wilayah Indonesia Bagian Timur. “Kelima, implementasi program Geothermal Fund untuk menarik minat investor dalam melakukan pengembangan panas bumi untuk WKP di Wilayah Indonesia Bagian Timur. Pada dasarnya program ini bertujuan untuk mengurangi risiko pengusaha panas bumi dan diharapkan mendorong pengembangan panas bumi oleh pengembang swasta dan BUMN,” paparnya. Dia mengatakan program ini dikelola oleh PT SMI dengan tetap melibatkan Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan sebagai steering committee  dengan nilai anggaran APBN yang telah disediakan adalah sebesar Rp 3 triliun dan dana dari World Bank dalam bentuk grant sebesar US$ 55,25 juta.

"Pendanaan program ini bersifat hibah bersyarat di mana pemenang lelang dari lokasi akan mengganti dana eksplorasi dan premi risiko. Penggantian biaya tersebut bertujuan agar dana pemboran eksplorasi dapat bergulir digunakan di wilayah lain yang berbeda (revolving fund),” jelasnya.
 Yunus mengatakan   terdapat 3 area panas bumi yang mendapatkan pembiayaan atau  geothermal fund yaitu Jailolo, Halbar (Maluku Utara) Waisano dan Inelika di NTT. Selain itu, sudah ditetapkan pula 5 WKP untuk eksplorasi dan telah diajukan ke World Bank," kata Yunus.

Dia mengatakan lima upaya terobosan tersebut merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam mempercepat pengarusutamaan energi baru, terbarukan dan konservasi energi, yang pada akhirnya bertujuan memenuhi kebutuhan energi yang berkeadilan demi kesejahteraan masyarakat.  Pemerintah sendiri merancang PLPT Jailolo dengan dengan kapasitas 2x5 MW. Sementara PLTP Songa -Wayaua, Maluku Utara dirancang dengan kapasitas 1x5 MW. (fai)

Yang Lain di Kategori ini : « Harga Barito Anjlok