TERNATE - Kredit pada sektor korporasi di Maluku Utara (malut)  memiliki pangsa sebesar 49,43 persen  dengan nilai nominal Rp 2,12 triliun.
Data dari Bank Indonesia Malut menunjukan penyaluran kredit korporasi pada triwulan IV-2016  melambat,  yakni sebesar 9,39 persen (yoy) lebih rendah dari triwulan sebelumnya 11,79 persen (yoy). Perlambatan ini salah satunya dipengaruhi oleh tidak lancarnya pembayaran pemerintah daerah terhadap beberapa rekanan di sektor konstruksi dan jasa.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit modal kerja menguasai pangsa sektor korporasi dengan share 78,49 persen, sementara kredit investasi memiliki pangsa sebesar 21,51 persen. Penyaluran kredit modal kerja pada sektor korporasi di Maluku Utara mengalami peningkatan, pada triwulan IV-2016 pertumbuhannya mencapai 13,62 persen (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 15,15 persen (yoy). Begitu pula kredit investasi pertumbuhannya melambat menjadi  minus 3,70 (yoy) pada triwulan IV-2016 dari 1,40 persen (yoy) di triwulan sebelumnya.
Kredit korporasi didominasi oleh penyaluran pada sektor perdagangan besar dan
eceran, dengan pangsa 70,68 persen, disusul oleh sektor konstruksi dengan pangsa 10,74 persen, dan sisanya terbagi rata di seluruh sektor. Pada kedua sektor utama tersebut, pertumbuhan penyaluran kredit pada triwulan III-2016 menunjukkan adanya peningkatan. Seiring dengan perbaikan pada kinerja perekonomian Maluku Utara. Kredit korporasi sektor perdagangan tumbuh 13,33 persen (yoy) lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang hanya 9,57 persen (yoy).
Sementara, pada sektor konstruksi, penyaluran kredit korporasi tumbuh 3,68 persen (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 3,37 persen (yoy).
Melambatnya kinerja sektor konstruksi di tengah tingginya penyaluran kredit korporasi ke sektor tersebut, berdampak pada meningkatnya risiko kredit dari sektor korporasi. NPL sektor korporasi tercatat sebesar 4,74 persen meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,34 persen. NPL sektor konstruksi tercatat mencapai 8,79 persen. Tingginya NPL pada sektor ini salah satunya dipengaruhi oleh penundaan pembayaran beberapa proyek infrastruktur akibat keterbatasan anggaran pemda.
Pada bagian lain dokumen Kajian Ekonomi Regional Malut triwulan empat 2016 ini, dijelaskan sesuai kategori debiturnya, kredit korporasi didominasi oleh debitur UMKM dengan pangsa sebesar 82,64 persen, sedikit meningkat dari triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 82,16 persen. Kredit korporasi pada debitur UMKM juga terus meningkat secara nominal, yakni Rp 1,75 triliun pada triwulan IV-2016, meningkat dari triwulan sebelumnya yang sebesar Rp 1,74 triliun. Pertumbuhan kredit korporasi UMKM juga tumbuh positif, 9,18 persen (yoy) melambat dari triwulan sebelumnya yang sebesar 12,82 persen (yoy). Terbatasnya kemampuan likuiditas korporasi UMKM, menyebabkan golongan ini rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi.
Namun demikian, risiko kredit korporasi dengan skala UMKM terindikasi menurun. NPL korporasi UMKM pada triwulan IV-2016 tercatat 4,80 persen lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,34 persen. (onk).