MERUGI: PT Dirgantara Indonesia adalah salah satu BUMN yang mengalami kerugian. Ft : The President Post Indonesia. ft : The President Post Indonesia MERUGI: PT Dirgantara Indonesia adalah salah satu BUMN yang mengalami kerugian. Ft : The President Post Indonesia. ft : The President Post Indonesia

JAKARTA - Meskipun sudah mendapat Penyertaan Modal Negara (PMN), namun enam BUMN justru mengalami kerugian.
BUMN tersebut adalah PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero), PT Dirgantara Indonesia (Persero), PT Perkebunan Nusantara X (Persero), PT Perkebunan Nusantara IX (Persero), PT Perkebunan Nusantara VII (Persero), dan Perkebunan Nusantara III (Persero).
Keenam BUMN tersebut mendapatkan PMN di tahun anggaran 2015, masing-masing PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) Rp 200 miliar, PTDI Rp 400 miliar, PTPN III Rp 3,150 triliun, PTPN VII Rp 18 miliar, PTPN IX Rp 100 miliar, dan PTPN X Rp 98 miliar.
Sekretaris Kementerian BUMN, Imam A. Putro, mengungkapkan diberikannya PMN kepada BUMN masuk ke struktur permodalan, bukan masuk ke pendapatan perseroan yang bisa mempengaruhi laba/rugi. Selanjutnya, dampak dari PMN kepada BUMN baru dapat dirasakan beberapa tahun setelahnya. "Kalau lihat accounting treatment PMN mengalirnya ke balance sheet ke equity, enggak mampir income statement enggak mampir ke perhitungan laba rugi. Bahwa dampak PMN baru akan muncul setelah project," kata Imam, seperti dikutip dari detikfinance.
Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius Kiik Ro, mengungkapkan penggunaan PMN BUMN 2015 mencapai 60 persen, dari Rp 41,2 triliun baru terealisasi Rp 24,9 triliun. Kendala yang dihadapi antara lain pengerjaan proyek yang membutuhkan waktu lama dan membutuhkan waktu beberapa tahun alias multiyears. "Seperti pelabuhan juga butuh waktu beberapa tahun," tutur Aloy.
Di 2016, penggunaan PMN BUMN 2016 Rp 41,8 triliun baru terealisasi 21 persen atau Rp 8,9 triliun. Kendala yang dihadapi antara lain pencairan dana PMN dilakukan akhir Desember 2016. Ditambah lagi penyelesaian proses perizinan dan pemilihan mitra strategis membutuhkan waktu yang lama.
Jika dilihat lebih rinci beberapa BUMN yang mendapatkan PMN dan tambah rugi adalah PT Dok Perkapalan Surabaya (Persero) mendapatkan PMN Rp 200 miliar dengan realisasi penggunaan 56,34 persen. PMN tersebut digunakan untuk pengadaan floating dock 8.500 TLC dan modernisasi peralatan kerja.
Selain itu kondisi pasar perbaikan kapal relatif belum membaik, ditambah lagi termin pembayaran pelanggan terlalu lamam dan penurunan kapasitas produksi sudah tua menyumbang kerugian perseroan di 2016 sebesar Rp 81,54 miliar. PTDI mendapatkan PMN Rp 400 miliar dengan realisasi penggunaan 42,75 persen. Dana PMN tersebut rencananya digunakan untuk pengembangan pesawat maritim, peningkatan fasilitas perakitan pesawat dan pendukungnya, peningkatan kemampuan dan kapasitas pesawat, dan peningkatan modal kerja.
PTDI (Dirgantara Indonesia) pada 2016 mengalami kerugian Rp 271,21 miliar karena adanya kerugian selisih kurs yang signifikan. Nilai penjualan pesawat juga tidak mencapai target dalam Rancangan Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP), serta perseroan masih menanggung beban akibat barang produksi yang tidak terkirim tepat waktu.
PT PAL (Persero) juga tercatat sebagai salah satu BUMN yang mendapatkan PMN, namun mengalami kerugian yang bertambah Rp 395,22 miliar di 2016 dan Rp 187,24 miliar di 2015. PAL mendapatkan PMN Rp 1,5 triliun dengan realisasi penggunaan 78 persen. Kerugian disebabkan oleh rugi selisih kurs Rp 58,27 miliar, akumulasi beban proyek sampai 2016 Rp 20,27 miliar, selisih nilai penjualan atas barang-barang fidusia proyek terminasi dengan nilai Rp 288,77 miliar.
Kemudian PTPN III mendapatkan PMN Rp 3,150 triliun dengan realisasi penggunaan 100 persen. Di 2016, PTPN III mengalami kerugian Rp 1,378 triliun atau naik dari kerugian 2015 Rp 1,082 triliun.
PTPN VII mendapatkan PMN Rp 17,5 miliar dengan realisasi 33,81 persen. Di 2016, PTPN VII mengalami kerugian Rp 546,87 miliar atau naik dari 2015 yang untung Rp 46,58 miliar. PTPN IX mendapatkan PMN Rp 100 miliar dengan realisasi 2,25 persen. Di 2016, PTPN IX mengalami kerugian Rp 304,28 miliar atau naik dari 2015 yang untung Rp 115,13 miliar.
PTPN X mendapatkan PMN Rp 97,5 miliar dengan realisasi 211,41 persen. Di 2016, PTPN X mengalami kerugian Rp 155,78 miliar atau naik dari 2015 yang untung Rp 126,43 miliar. Keempat BUMN perkebunan tersebut mengalami kerugian karena rendahnya pencapaian produksi gula di samping Harga Pokok Pembelian (HPP) gula yang tinggi dan dampak kemarau basah 2016 yang berakibat pada rendahnya rendemen gula. (dtc/onk).