Dulu Diburu, Kini Nelayan Menjaganya Mati-matian

  • Thursday, Jan 12 2017
Pendiri Konservasi Taman Laut Kima, Habib Nadjad Buduha menujukkan salah satu jenis Kima di perairan Pulau Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara Pendiri Konservasi Taman Laut Kima, Habib Nadjad Buduha menujukkan salah satu jenis Kima di perairan Pulau Labengki, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara

Melihat Pemulihan Populasi Kima di Toli-Toli dan Labengki, Sulawesi Tenggara

Populasi kima yang terus susut di perairan Pulau Labengki, Konawe, menggerakkan Habib Nadjar Buduha, warga Desa Toli-Toli, Konawe, Sulawesi Tenggara. Dia mendirikan konservasi taman laut secara swadaya untuk menyelamatkan kehidupan biota laut jenis kerang itu.



AGUS DWI PRASETYO, Konawe



HABIB menghirup napas dalam-dalam sebelum nyemplung ke laut. Gerakannya terlihat lincah. Dalam sekejap, tubuhnya sudah tidak terlihat, angslup di dasar perairan sedalam 3 meter tersebut.

Untuk menyelam cukup lama itu, dia tidak membawa tabung oksigen untuk membantu pernapasannya. Dia hanya memakai snorkel di bagian mulut dan hidung agar tidak kemasukan air. Tentu saja, itu sulit dilakukan penyelam biasa.

Beberapa menit kemudian, Habib muncul di permukaan air. Napasnya tampak ngos-ngosan tidak beraturan. ’’Arusnya (di bawah laut) lumayan deras. Jadi, harus hati-hati,’’ ujarnya sambil membetulkan posisi snorkel yang menutupi wajahnya.

Sabtu siang itu (31/12), Habib turun ke laut untuk mengecek beberapa ekor kima yang hidup di terumbu karang di pinggiran perairan Pulau Labengki, Konawe. Spesies laut tersebut baru saja diambilnya dari laut lepas untuk dikonservasi. Kegiatan itulah yang dalam tujuh tahun terakhir dijalani Habib.

Kawasan yang berada di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pulau Labengki itu merupakan satu di antara dua lokasi konservasi taman laut kima yang didirikannya. Satu lagi berada di Toli-Toli. Jarak dua lokasi itu sekitar satu setengah jam perjalanan laut dengan menggunakan kapal motor.

Habib tidak sendiri. Dia bersama delapan warga sekampungnya mengelola balai konservasi secara mandiri sejak Oktober 2009. Mereka sudah menempatkan 8.400 ekor kima di perairan Desa Toli-Toli dan Labengki.

Jumlah tersebut meliputi tujuh spesies kima yang ada di Asia. Yakni, kima raksasa (Tridacna gigas), kima air (derasa), kima sisik (squamosa), kima besar (maxima), kima lubang (crocea), kima pasir (hippopus), dan kima cina (porcelanus). Ada dua spesies kima lagi yang sampai saat ini belum memiliki nama ilmiah alias masih baru.

Kegiatan para aktivis lingkungan itu berawal dari rasa prihatin terhadap populasi kima di perairan Toli-Toli yang setiap tahun terus berkurang. Bahkan bisa dibilang hampir punah. Kondisi itu terjadi seiring rusaknya terumbu karang di perairan yang berjarak 30 kilometer dari Kota Kendari tersebut.

Kima merupakan biota laut yang hidup di karang. Dengan sistem filter alami yang melekat di tubuhnya, air laut akan selalu bersih. Telur kima juga menjadi makanan yang kaya protein bagi ikan-ikan. Kelebihan itulah yang harus dijaga.

’’Kalau kima punah, ekosistem laut terancam,’’ ujar pria yang genap berusia 53 tahun pada Maret mendatang itu.

Menyusutnya kima di perairan kampung pesisir Sulawesi Tenggara itu menyadarkan warga setempat yang mayoritas berprofesi nelayan untuk bergerak. Gerakan pemulihan yang digagas Habib tersebut dimaksudkan mencegah perburuan kima yang masif kala itu. Maklum, daging kima yang kaya protein menjadi incaran banyak nelayan. Terutama nelayan dari luar negeri.

Tentu saja, perburuan kima secara masal menjadi ancaman nyata bagi kehidupan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup di laut lepas. Terlebih, mayoritas spesies kima membutuhkan waktu lama untuk tumbuh dan berkembang. Setahun rata-rata hanya tumbuh 2–12 cm. Dengan begitu, dibutuhkan waktu puluhan tahun agar kima mencapai ukuran maksimal 100–150 cm.

Sebenarnya, Habib semula tidak begitu mencintai kehidupan laut meski lahir di kampung pesisir. Sejak kecil mantan jurnalis di salah satu media cetak di Makassar tersebut sering bepergian jauh daripada berdiam di kampung.

’’Saat pulang (kampung), saya kaget. Kima yang dulu banyak di perairan dekat rumah sekarang kok habis. Saya penasaran dan ingin mencarikan solusi,’’ ungkapnya.

Rasa penasaran itulah yang medorong Habib untuk mendirikan kawasan konservasi taman laut kima. Dia mengajak nelayan yang dulu sering menangkap ikan dengan menggunakan bom dan obat bius di kawasan tersebut. Penangkapan ikan secara serampangan itu tidak memperhatikan keberlangsungan ekosistem laut.

’’Sekarang mereka sadar bahwa yang mereka lakukan selama ini membuat kima di perairan habis,’’ ujarnya. Saat ini puluhan nelayan terlibat dalam gerakan pemulihan kima tersebut.

Yang dilakukan Habib cs untuk memulihkan kima sebenarnya cukup sederhana. Mereka hanya mengumpulkan biota indah tersebut dari laut lepas dan menempatkannya di perairan Toli-Toli serta Labengki.

Habib membagi anggotanya dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 4–5 orang. Mereka mengarungi laut lepas untuk mencari habitat kima. Jaraknya bisa belasan mil dari kampung mereka.

Setelah menemukan lokasi kima, beberapa anggota kelompok itu melakukan penyelaman. Tentu saja mereka menggunakan alat selam komplet untuk safety. Di dasar laut, mereka mengambil sejumlah kima untuk dikonservasi di taman laut yang telah mereka tentukan. Yakni, di perairan Toli-Toli dan Labengki.

Dengan cara begitu, ikan dan hewan laut lain akan berkumpul di kawasan pesisir dua wilayah tersebut. Semakin banyak kima yang dikonservasi, semakin banyak pula populasi ikan yang akan mengerumuninya. Sebab, kima merupakan sumber makanan bagi ikan.

Setelah menempatkan ribuan hewan laut lunak itu di tempatnya, para anggota tim konservasi mengajak masyarakat untuk menjaga populasi kima dan tidak memburunya. Sosialisasi tidak hanya dilakukan kepada masyarakat Toli-Toli, tapi juga 460 penduduk suku laut Bajo yang tinggal di Labengki.

’’Dulu memburu kima, sekarang mereka sadar untuk bersama-sama memperbaiki (ekosistem laut),’’ tutur Habib.

Hebatnya, seluruh aktivitas itu dibiayai dari hasil sumbangan masyarakat setempat. Mereka menyisihkan uang hasil menjual ikan, lobster, dan teripang yang mereka peroleh saat melaut. Bila ditotal sejak 2009, sudah Rp 500 juta yang dihabiskan untuk membiayai kegiatan konservasi itu. Mulai membeli peralatan selam hingga bahan bakar minyak (BBM) untuk pengoperasian kapal.

Meski tidak mendapat perhatian dari pemerintah, semangat tim konservasi kima Konawe tak pernah surut. Bahkan, pada 2011 aksi mereka mendapat apresiasi dari para peneliti kima asal Australia. Gara-garanya, ada spesies kima raksasa di kepulauan Labengki yang belum masuk jurnal ilmiah mereka.

’’Saya kirim gambar sama video ke mereka. Dari gambar itu, mereka mengkajinya secara ilmiah,’’ tuturnya.

Oleh suku Bajo, kima misterius itu diberi nama boe. Secara kasatmata, hewan bercangkang tersebut mirip spesies kima iblis (Tridacna tevoroa) yang hidup di perairan kepulauan Fiji dan Tonga di Samudra Pasifik. ’’Sampai sekarang belum diketahui jenis apa kima itu,’’ kata Habib sambil menunjukkan gambar di laptopnya.

Oleh peneliti The Western Australian Museum di Perth, kima yang mempunyai ukuran hingga 50–100 cm itu disebut-sebut masuk spesies hippopus. Namun, oleh peneliti Australia lain, kima tersebut dianggap lebih mirip spesies tridacna karena tinggal di karang.

’’Kalau hippopus, hidup di laut padang pasir dan lamun. Itulah yang jadi perdebatan,’’ terang Habib.

Spesies yang belum teridentifikasi itu kini dijaga baik-baik oleh masyarakat setempat. Sekali dalam seminggu Habib melakukan penyelaman di lokasi konservasi kima itu di Labengki dan Toli-Toli untuk memastikan keberadaannya. Dia berencana membawa sampel kima langka tersebut ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta agar bisa diteliti dan dipatenkan sebagai spesies kima baru. ’’Tapi, sampai sekarang belum ada respons dari pihak-pihak terkait,’’ tandasnya.(jpg/kai)