Dulunya Tempat Kumpul Kaum Pergerakan, Kini Entah jadi Apa

  • Monday, Jun 08 2015
MONUMEN: tugu kemerdekaan di Jl Chasan Boesoirie MONUMEN: tugu kemerdekaan di Jl Chasan Boesoirie

Kisah Tugu Kemerdekaan yang Nyaris Terlupakan

Di lahan bekas Terminal Gamalama, tepatnya di Jl. Chasan Boesoirie, terdapat sebuah tugu batu sederhana. Tugu tersebut dikenal dengan nama Tugu Kemerdekaan. Keberadaannya nyaris dilupakan, meski di situ pernah menjadi saksi pergerakan kelompok pemuda republikan Ternate di masa kemerdekaan.


Ika Fuji Rahayu, Ternate


Ternate dikenal sebagai kota yang memiliki peninggalan sejarah yang kaya. Peninggalan-peninggalan tersebut, baik lokal maupun warisan bangsa asing, sebagian besar masih terawat dengan baik. Meski demikian, tak sedikit pula yang terkesan diabaikan. Salah satu yang nyaris terlupakan adalah Tugu Kemerdekaan yang kini masuk dalam kawasan revitalisasi Benteng Oranje di Kelurahan Gamalama.


Meskipun terletak di depan benteng peninggalan Belanda tersebut, Tugu Kemerdekaan bukan merupakan warisan bangsa asing. Tugu sederhana berbentuk obelisk itu didirikan berdasarkan inisiasi kaum pribumi, untuk memperingati kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945. Dibangun dengan semangat kemerdekaan, tugu tersebut juga pernah digunakan sebagai tempat pengibaran bendera. “Mengapa kita yakin bahwa tugu tersebut didirikan oleh masyarakat pribumi? Sebab kesederhanaan bentuknya. Jika bangsa Belanda yang mendirikannya, maka dipastikan bentuknya pasti lebih megah, lebih mewah, dan kemungkinan juga lebih besar, lengkap dengan embel-embel VOC-nya,” ungkap pemerhati sejarah Rinto Thaib kepada Malut Post kemarin (7/6).


Pada tahun 1954, ketika Presiden Soekarno dan istrinya Fatmawati berkunjung ke Ternate, presiden RI pertama itu sempat meletakkan karangan bunga di tugu tersebut. Arsip mengenai momen tersebut masih tersimpan rapi di Perpustakaan Daerah Kota Ternate. Selain arsip foto tersebut, dokumen mengenai keberadaan Tugu Kemerdekaan nyaris tak ada. Namun menurut Rinto, tugu tersebut diduga menjadi inspirasi didirikannya surat kabar Menara Merdeka yang dimotori oleh Arnold Mononutu, Chasan Boesoirie, M.S. Djahir, Abjan Soleman, dan Abubakar Bachmid. “Pasca kemerdekaan, daerah di mana berdirinya tugu tersebut merupakan basis pergerakan kelompok pemuda republikan seperti Mononutu dan dr. Boesoerie, yakni di sekitar masjid Muttaqin. Dokumen-dokumen sejarah juga menyebutkan tentang tempat berkumpulnya mereka di wilayah depan Benteng Oranje,” lanjut Rinto yang juga merupakan Kepala UPTD Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kota Ternate.


Di dalam buku Sejarah Kepulauan Rempah-Rempah, Adnan Amal menuliskan bahwa Menara Merdeka merupakan media resmi Persatuan Indonesia (PI), partai politik yang digagas oleh Sultan Ternate, Jabir Sjah, Mononutu, dan Boesoerie. Media ini digunakan untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan rakyat pribumi yang menginginkan Ternate menjadi bagian dari NKRI. Salah satu artikel ‘keras’ yang pernah ditulis oleh surat kabar ini adalah protes mengenai hasil Konferensi Malino di Maluku. “Surat kabar ini juga yang menuliskan propaganda mengenai kebrutalan tentara KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda, red) saat mengejar kelompok pemuda yang protes mengenai masih banyaknya intervensi Belanda di Ternate pasca kemerdekaan Indonesia. Protes dilakukan bertepatan dengan kunjungan Anak Agung Gde Agung, Perdana Menteri NIT (Negara Indonesia Timur) ke Ternate pada 1948,” tutur Rinto.


Lebih lanjut, lokasi Tugu Kemerdekaan yang strategis pada masa tersebut ditengarai menjadikannya sebagai pusat berkumpulnya kelompok intelek semacam Mononutu dan kawan-kawan seperjuangannya. Di sekitar tugu itulah, kelompok muda ini berdiskusi, berdebat, dan bertukar pikiran mengenai masa depan Kota Ternate pasca kemerdekaan Indonesia. “Selain sebagai basis perkumpulan kaum gerakan, areal sekitar tugu juga diduga menjadi sentra ekonomi. Pada dokumen sejarah digambarkan tentang para pedagang yang menggelar dagangannya di atas tanah, di depan kawasan Benteng Oranje,” kata pria yang juga menulis sejumlah buku mengenai sejarah Kota Ternate ini.


Seiring berjalannya waktu, kawasan ini kemudian dijadikan terminal transportasi darat yang diberi nama Gamalama. Pada masa tersebut, di sekeliling Tugu Kemerdekaan dibangunkan pagar beton yang mengitarinya. Di luar pagar tersebut para calon penumpang biasanya nongkrong menunggu datangnya angkutan mereka. Pagar tersebut tetap bertahan hingga terminal kemudian dipindahkan ke lahan reklamasi. Tugu Kemerdekaan juga pernah dikelilingi oleh pedagang pakaian ketika lahan tersebut dijadikan pasar baju. “Setelah terminal dipindahkan pada 2002, di sekitar tugu kemudian menjadi pasar tradisional, tempat pedagang berjualan baju. Para pedagang bertahan hingga awal 2014 sebelum akhirnya mereka direlokasi dan tempat tersebut dibangunkan taman,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Malut, Samin Marsaoly, yang juga mantan Lurah Gamalama.


Kini, setelah taman dibongkar untuk kegiatan revitalisasi Benteng Oranje, Tugu Kemerdekaan tampak terabaikan. Tak ada tanda-tanda bahwa bangunan tersebut merupakan salah satu benda peninggalan sejarah. Bahkan mungkin tak banyak warga Ternate yang mengetahui statusnya sebagai situs sejarah. “Idealnya, kawasan sekitar Tugu Kemerdekaan dihidupkan kembali seperti fungsi awalnya sebagai titik berkumpulnya kaum intelek yang progresif dan revolusioner. Supaya kejayaan sejarah masa lampau dan semangat pergerakan pemuda tetap terjaga di lokasi yang bersejarah itu,” tutup Rinto berharap.(*)