PENCARIAN: Mursyad, Magetan, yang terseret arus Kali Catur di Wana Wisata Grape, Kabupaten Madiun, kemarin PENCARIAN: Mursyad, Magetan, yang terseret arus Kali Catur di Wana Wisata Grape, Kabupaten Madiun, kemarin

Duka di Pengujung Senja di Wana Wisata Grape, Madiun

Duka mendalam dirasakan keluarga besar MTs Bani Ali Mursyad, Magetan, Jawa Timur, Senin (10/4). Enam siswa madrasah itu dilaporkan tenggelam di Kali Catur di bawah Wana Wisata Grape, Kabupaten Madiun. Dua tewas dan empat lainnya belum ditemukan.

CHOIRUN NAFIAH, ARFINANTO A., Madiun

     Bagi masyarakat Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Wana Wisata Grape termasuk destinasi wisata jujukan. Pada hari-hari libur, lokasi tersebut menjadi tempat wisata favorit. Eksotisme alam di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, itu memang cukup membius wisatawan yang berkunjung. Ditambah wahana outbound yang membuat pengunjung betah berlama-lama.  Hanya, derasnya arus Kali Catur yang mengalir tepat di bawah tempat wisata itu tak boleh dianggap remeh. Sejauh ini, jarang ada pengunjung yang berani mandi di sungai tersebut.
     Namun, kemarin sejumlah siswa MTs Bani Ali Mursyad dari Dusun Banaran, Desa Kerik, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, tak menghiraukan larangan itu. Mereka memisahkan diri dari rombongan siswa lainnya dan nekat nyemplung ke sungai dengan aliran deras itu. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Di antara 15 siswa yang turun ke sungai, enam siswa yang masih duduk di bangku kelas VII dan VIII tersebut hanyut diseret arus. ’’Sebenarnya sejak awal anak-anak dilarang mandi di sungai oleh gurunya,’’ ungkap Kapolres Madiun AKBP I Made Agus Prasatya kepada Jawa Pos Radar Madiun.
     Mereka baru diketahui hilang dari rombongan setelah siswa yang selamat naik dan berteriak-teriak minta pertolongan. Alangkah kaget para guru dan siswa lainnya ketika mengetahui enam siswa hanyut di sungai yang berarus deras tersebut. Itu terjadi sekitar pukul 14.30.  Maka, sejak itu, para guru bingung mencari enam siswanya yang hilang. Tak lama kemudian, aparat kepolisian dan tim reaksi cepat (TRC) dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun turun mencari keberadaan anak-anak seumuran SMP itu. Mereka menyusuri sungai dan tempat-tempat yang sekiranya memungkinkan tubuh anak-anak itu tersangkut.
     Benar saja, pukul 15.57, tim pencari berhasil menemukan Hasmi, salah seorang siswa, di dekat area bumi perkemahan Grape, tak jauh dari TKP (tempat kejadian perkara) awal. Tubuhnya tersangkut di bebatuan di tengah sungai dan sudah tak bernyawa. Wajah dan punggung siswa 14 tahun tersebut terluka karena terseret air sungai dan terbentur bebatuan kali. Tangis histeris para siswa dan guru pun langsung pecah begitu melihat jasad korban dievakuasi ke atas sungai. Begitu pula saat korban kedua, Ahsan Nur Fuad, ditemukan. Remaja tersebut ditemukan pukul 16.20 di bawah RM Pondok Catur. Juga belum jauh dari TKP. Kedua korban langsung dibawa ke RS Paru Dungus, Madiun, untuk divisum. ’’Empat siswa lainnya masih kami cari. Tapi, hingga cuaca mulai gelap, belum kami temukan,’’ kata Made. Empat siswa yang hilang itu adalah Ma’arif Sachaf, 13; Adliyan, 13; Ramadhani, 14; dan Gandi, 13.
     Pencarian para siswa yang hanyut itu terbilang sulit. Petugas dihadapkan pada kondisi terjal dan licinnya medan. Ditambah arus Kali Catur yang sangat deras –karena mendapat limpahan air dari wilayah di atasnya–, pencarian perlu ekstrahati-hati. Apalagi kontur sungainya berbatu.  Penyisiran terus dilakukan hingga Dam Sewu yang berjarak 3 kilometer dari lokasi korban tenggelam. Petugas melakukan penyisiran dengan ban hingga pukul 18.00. ’’Karena terkendala cuaca dan minimnya penerangan, pencarian hari ini (kemarin) kami hentikan. Tapi, kami tetap menempatkan petugas di sekitar Dam Sewu,’’ jelasnya.
     Pencarian akan dilanjutkan hari ini (11/4) mulai pukul 07.00. Pencarian hari kedua ini masih dipusatkan di sekitar Dam Sewu. Selain itu, tim bakal menyisir sepanjang Kali Catur hingga Bengawan Madiun. Mengingat rentang waktu tenggelamnya keempat siswa yang belum ditemukan sudah lewat hari, dimungkinkan posisi mereka telah bergeser jauh terbawa derasnya arus sungai. ’’Kami juga bakal membuat posko pencarian di dekat lokasi tenggelam,’’ tegasnya.
     Pascainsiden tenggelamnya enam remaja belia itu, Wana Wisata Grape juga ditutup sementara. Petugas telah memasang spanduk penutupan persis di dekat area masuk. Penutupan terus dilakukan sepanjang pencarian korban berlangsung. ’’Jadi, belum bisa dipastikan kapan bakal dibuka kembali,’’ tuturnya. Made menambahkan, enam siswa nahas itu merupakan bagian dari rombongan siswa-siswi MTs Bani Ali Mursyad yang total berjumlah 128 orang. Mereka tengah mengikuti outbound di Wana Wisata Grape. ’’Sekarang cuaca sedang tidak bersahabat. Jadi, ada baiknya untuk mengurangi kegiatan di sekitaran sungai,’’ imbaunya.

     Pihak MTs Bani Ali Mursyad, Takeran, Magetan, masih menanti empat siswanya yang belum ditemukan. Tak dimungkiri, insiden yang terjadi di sela kegiatan outbound itu menyisakan duka yang mendalam bagi sekolah tersebut, terutama bagi keluarga keenam korban. ’’Outbound menjadi agenda rutin madrasah kami setiap tahun. Kegiatan di Wana Wisata Grape kali ini diikuti 128 siswa kelas VII dan VIII,’’ jelas Muhammad Antoni Rosyid, penanggung jawab kegiatan outbound MTs Bani Ali Mursyad. Outbound yang dimulai sejak pukul 08.30 itu mengambil jeda istirahat selepas salat Duhur. Lepas salat berjamaah di Masjid Annur, Grape, siswa diajak makan siang di RM Pondok Grape sekitar pukul 13.30. Setiba di rumah makan itu, petugas pengelola Wana Wisata Grape telah memperingatkan agar para siswa tidak turun bermain ke Kali Catur.
     Sepuluh guru pendamping outbound juga berkali-kali mempertegas larangan tersebut. Sebab, area sungai di bawah RM Pondok Grape berkontur licin dan berbatu.  ’’Kami sudah berkali-kali mengingatkan siswa untuk tidak turun ke sungai. Soalnya, sungai itu arusnya sangat deras,’’ tegas Antoni. Namun, sekejap luput dari pantauan, 15 siswa putra keluar dari rombongan dan tidak mengindahkan larangan guru pendamping. Mereka diam-diam turun ke sungai dan beberapa di antara mereka nyemplung untuk mandi. Benar saja, arus Kali Catur yang mendadak tambah deras menyeret tubuh anak-anak itu. Sembilan siswa berhasil naik ke permukaan dan lolos dari seretan arus. Namun, enam lainnya tak bisa lolos dari seretan arus Kali Catur.  ’’Begitu ada yang teriak-teriak minta tolong, kami segera turun. Dan, ternyata enam siswa itu sudah tidak ada,’’ paparnya.
     Para guru pendamping lantas mencari bantuan. Hingga akhirnya, petugas dari kepolisian, tim reaksi cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun, TNI, dan para relawan bersama-sama menyisir Kali Catur. ’’Yang jelas, kami sudah kondisikan para siswa untuk tidak mendekat ke arah sungai,’’ ungkapnya. Hingga petang kemarin, bantuan tenaga relawan terus berdatangan untuk mencari empat siswa yang masih hanyut tersebut. Bahkan, Basarnas dari pos Trenggalek langsung menuju ke TKP. ’’Mendengar ada siswa dari daerah kami yang tenggelam, kami bergegas ke sini ikut membantu,’’ kata Anjar dari tim BPBD Kabupaten Magetan. (*/jpg/kox)