Papua Dilepas Sultan Tidore untuk Bergabung dengan NKRI

  • Saturday, Apr 15 2017
Hj. Sarah Samsudin Fabanyo saksi sejarah yang mengalungkan  bunga untuk  Presiden Sukarno Hj. Sarah Samsudin Fabanyo saksi sejarah yang mengalungkan bunga untuk Presiden Sukarno

Tidore  dan NKRI dari Sabang Sampai Meraoke

Di Hari Jadi Tidore (HJT) ke 909 12 April kemarin, seorang nenek tampak duduk berjejer di deretan kursi VIP yang disediakan panitia. Nenek  yang diundang ke Sonyie Salaka Kadato Kie Kesultanan Tidore terbilang spesial. Dia adalah Hj. Sarah Samsudin Fabanyo (89), saksi sejarah Papua dilepas Sultan Tidore kembali ke ibu pertiwi menyatu dengan Negera Kesatuan RI.


Fakhruddin Abdullah—Tidore


      Saat upacara HJT itu, Hj Sarah, diundang secara khusus oleh Sultan Tidore Husain Syah untuk hadir pada upacara  HJT ke 909. Wanita kelahiran Tidore 15 mei 1927 ini, diundang karena dia adalah salah satu saksi sejarah Presiden Pertama Sukarno datang ke Maluku Utara, melakukan diplomasi dengan Sultan Tidore Zainal Abidin Syah agar Papua bergabung dengan NKRI.
Saat itu Tidore, Ternate dan sejumlah wilayah lainnya, ramai ketika presiden pertama Soekarno datang ke Malut. Saat Ir. Sukarno datang, Hj. Sarah saat itu masih berusia 24 an diutus mengalungkan bunga kepada bapak proklamator itu. Hj. Sarah waktu mudanya cantik dan cerdas, serta memiliki mental yang baik karena dididik di lembaga penerangan.
Menurutnya saat itu kunjungan Sukarno di Malut ini, tak lain yaitu ingin berdiplomasi dengan para Sultan, termasuk sultan Tidore. Suasana kota Ternate maupun Tidore di sekitar  1951, tampak ramai, mulai dari pihak kesultanan, tokoh pemuda dan lainnya berkumpul di Ternate menyambut kedatangan tokoh kharismatik itu.
Penjemputan Soekarno saat itu menurut Hj. Sarah dilakukan di  Pelabuhan Ahmad Yani. Tampak di sepanjang lautan Tidore dan Ternate, dipenuhi kapal kora-kora, yang berhiaskan janur kuning. Lantas tanggal berapa waktu pastinya  dan hari apa, istri (alm) Awat Tukan ini, mengaku sudah tidak ingat.
Kunjungan berikutnya ketika Papua dilepas Sultan Tidore bergabung dengan NKRI, menurut Hj Sarah, saat itu ia sudah berada di Papua, tepatnya sekarang di Pulau Dom Kota Sorong provinsi Papua Barat.
Diceritakan saat Papua masuk NKRI suasana Papua biasa- biasa saja.  Menurutnyaa saat kunjungan Sukarno menerima Papua bergabung NKRI, bukan lagi dirinya  mengalungkan  bunga,  tetapi adik kandungnya bernama Rabea Samsudin Fabanyo.
Ketika Papua bergabung dengan NKRI   Sultan Tidore Zainal Abidin Syah, diangkat  menjadi Gubernur pertama Irian Barat, beribukota di Soasio Tidore. Saat itu kantor gubernurnya  saat ini  SMA Negeri 1 Kota Tikep. Kantor Poldanya, saat ini menjadi Mapolres Tidore.
Sementara dalam upacara HJT ke 909 kemarin, Sultan Tidore Husain Syah menyampaikan, bahwa negeri ini (wilayah Kesultanan Tidore) pernah menjadi negera yang besar, dan berdaulat, serta Negara yang punya hubungan- kerja dengan negara-negara besar di dunia, sperti Spanyol, Inggris Belanda, Portugis, Arab, dan Negara Timur jauh. Dari kebesaran sejarah itu, Sultan mengajak masyarakat menyimak, bahwa pendahulunya mulai dari Sultan Muhammad Naqil sampai Sultan Zainal Abidin Syah, adalah orang-orang hebat yang hidup dalam keterbatasan pada saat itu, tetapi mereka mampu menunjukkan eksistensi dan jati diri mereka, hingga diakui dan dihormati berbagai manusia di berbagai negera di belahan dunia pada masa itu.(*)