DAHLAN Iskan saat menbacakan pledoi di Pengadilan Tipikor Surabaya, kemarin (13/4) DAHLAN Iskan saat menbacakan pledoi di Pengadilan Tipikor Surabaya, kemarin (13/4)

Duplik Lengkap Dahlan Iskan


Bapak-Bapak Majelis Hakim Yang Mulia,


Jalannya perkara ini mungkin seperti rujak cingur untuk Saudara Wisnu Wardhana, tapi seperti rujak sentul untuk saya: kami ngalor jaksa ngidul.

Karena tidak ada yang baru dari replik bapak jaksa dan hampir tidak ada sanggahan sama sekali atas pleidoi kami, maka duplik ini saya manfaatkan untuk mengungkapkan rasa syukur saya kepada Allah SWT bahwa:

Selama sidang saya bisa melewati masa kritikal saya sehingga lolos dari serangan penyakit lupus yang hampir saja mengenai saya. Saya berterima kasih atas izin berobat yang diberikan kepada saya.

Semula saya masih berharap hasil diagnosis tim dokter Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya yang mengatakan bahwa saya di ambang terserang penyakit lupus itu keliru. Ternyata, hasil pemeriksaan di RS Di Yi Zhong Xin Yi Yuan, Tianjin, sama. Alhamdulillah, langsung ditangani.

Sayang, waktu berobat hanya satu minggu sehingga tidak mungkin mengatasi ancaman penyakit tersebut secara tuntas. Serangan lupus tersebut datang akibat terganggunya keseimbangan imunitas di tubuh saya. Alhamdulillah bahwa izin berobat tersebut telah membuat masa kritikal saya itu lewat.

Memang, ancaman penyakit lupus masih terus mengintai saya setiap saat. Ini karena obat yang saya minum setiap hari memang berdampak menurunkan sistem imunitas tubuh saya. Namun, saya tidak mungkin tidak minum obat tersebut karena hati yang terpasang di tubuh saya sejak 10 tahun yang lalu itu tetap dianggap benda asing oleh sistem tubuh saya yang asli.

Seperti diketahui, 14 tahun yang lalu, saya didiagnosis terkena sirosis dan kanker hati. Selama dua tahun (2003–2005) saya harus mondar-mandir Surabaya–Singapura untuk mencoba segala macam upaya.

Upaya yang darurat adalah bagaimana mengatasi munculnya banyak gelembung darah di sepanjang saluran pencernaan saya agar tidak muntah darah lagi. Juga untuk mengatasi bengkaknya tubuh saya. Susu saya kian montok sehingga mirip perempuan. Kaki saya juga membesar sehingga tiap tiga bulan harus ganti ukuran sepatu. Semua itu saya jalani sambil terus bekerja keras untuk perusahaan-perusahaan saya dan untuk membenahi PT PWU. Tentu banyak dokumen yang mau tidak mau tetap harus saya tanda tangani meski sering kali harus menunggu kepulangan saya dari luar negeri.

Sampai saat itu, saya masih bisa merahasiakan sakit saya. Saya baru tidak bisa lagi merasa sehat setelah harus menjalani kemoterapi di Singapura yang mengakibatkan kondisi tubuh saya menurun drastis. Namun, karena kemo tersebut tidak berhasil pada tahun 2005, saya harus lebih banyak tinggal di RRT mencoba pengobatan alternatif di Kota Yantai, Provinsi Shandong. Juga di Kota Harbin, Provinsi Heilongjiang, dekat Rusia.

Ternyata juga gagal. Kanker-kanker hati saya terus membesar. Saya kemudian menjalani pengobatan modern lagi. Tiga buah kanker yang sudah besar di dalam hati saya itu dibakar. Agar mati. Yang kecil-kecil dibiarkan dulu. Sebulan kemudian ternyata hidup lagi. Dibakar lagi. Dua bulan kemudian hidup lagi. Sementara itu limpa saya juga terus membesar yang mendekati pecah. Dokter memutuskan memotong limpa saya sepertiganya.

Operasi pemotongan limpa ini sangat kritis. Dokter Singapura sebenarnya melarang pemotongan itu mengingat risikonya fatal. Dokter Singapura memilih membuang saja limpa saya. Saya harus mondar-mandir RRT–Singapura untuk membuat keputusan apakah limpa saya dipotong atau dibuang. Akhirnya, saya memutuskan dipotong saja. Di sebuah rumah sakit tradisional di RRT.

Semua itu belum menyentuh inti persoalan, sebelum kanker hatinya dituntaskan. Limpa yang sudah dipotong pun membesar lagi. Kanker yang sudah dibakar hidup lagi. Akhirnya, saya jalani upaya sapu jagat: ganti hati. Belum tentu berhasil, tapi tidak ada pilihan lain. Berhasil pun ada syaratnya: saya harus minum obat penurun imunitas setiap hari. Seumur hidup.

Risiko berikutnya adalah saya mudah terkena penyakit. Atau tertular penyakit. Atau terkena lupus seperti yang hampir terjadi beberapa minggu lalu itu. Kini, setiap kali saya terkena sariawan yang bersamaan dengan munculnya bintik-bintik merah di wajah saya atau ada gumpalan ketombe di dalam rambut saya, saya harus ekstrawaspada.

Alhamdulillah Yang Mulia, di tengah tekanan bertubi-tubi ini, saya bisa melewati masa-masa kritikal itu. Seberat apa pun perjalanan ini tidak lagi saya rasakan berat karena saya sudah merasakan yang jauh lebih berat dari semua ini.

Lebih alhamdulillah lagi, dari persidangan ini terbukti tidak ada fakta yang mengatakan saya menikmati uang atau menerima aliran uang atau menerima sesuatu.

Kepada Saudara Sam Santoso yang mengakibatkan saya jadi terdakwa ini, saya tetap mendoakan agar cepat sembuh, kian kaya raya, dan berumur panjang.

Kepada jaksa yang masih muda-muda dan ganteng-ganteng, ini saya doakan karirnya lancar, pangkatnya terus naik, dan jabatannya meningkat setelah selesainya perkara ini.

Yang Mulia,

Kapal layar keadilan harus terus diarungkan.

Alhamdulillah ya Allah, layarku bisa berkembang.

Alhamdulillah ya Allah, tiba-tiba badai menerpa dan layarku tetap berkembang.

Alhamdulillah ya Allah, lautku tenang.

Alhamdulillah ya Allah, tiba-tiba datang gelombang dan layarku tetap berkembang.

Alhamdulillah ya Allah, langit terang penuh bintang.

Alhamdulillah ya Allah, tiba-tiba mendung dan badai menyapunya, namun arah layarku tidak berubah.

Alhamdulillah, lautku pasang.

Alhamdulillah, lautku surut.

Alhamdulillah, lautku tenang.

Alhamdulillah, lautku ribut.

Alhamdulillah, lautku terang.

Alhamdulillah, lautku berkabut.

Alhamdulillah, ada laut.

 

Tipikor Surabaya, 18 April 2017

 



Dahlan Iskan