2 Bulan Tergeletak di India, Ditodong Tentara di Kamboja

  • Saturday, May 13 2017
MASIH JAUH: Mario Iroth saat berada di perbukitan Selandia Baru. Tahun ini dia akan menjelajahi Afrika dan Eropa MASIH JAUH: Mario Iroth saat berada di perbukitan Selandia Baru. Tahun ini dia akan menjelajahi Afrika dan Eropa

Mario Iroth, Traveling Keliling Dunia dengan Motor

Awalnya sebatas perjalanan antarkota antarprovinsi di Indonesia, kini terobsesi keliling dunia dengan menggunakan sepeda motor. Itulah yang dilakukan Mario Iroth, 30, traveler asal Manado, dalam 10 tahun terakhir.

ANDRA NUR OKTAVIANI, Jakarta

Setidaknya sudah 24 negara dengan total jarak 85 ribu kilometer yang dijelajahi Mario Iroth dalam mewujudkan impiannya mengelilingi dunia. Tahun ini dia kembali akan meneruskan misi menjelajahi 62 negara dengan jarak total 60 ribu kilometer. ’’Saya sedang menyiapkan semuanya. Mudah-mudahan semua lancar,’’ harapnya ketika ditemui Jawa Pos di Jakarta, Senin (8/5).
Mario mengawali hobinya sebagai traveler pada 2005, saat usianya masih 20 tahun. Kala itu, dia melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda motor di seputaran kota-kota di tanah air. Hitungannya masih tak begitu jauh.
Baru pada 2010 dia mulai memberanikan diri untuk backpacker keliling negara-negara ASEAN. Itu pun tidak menggunakan sepeda motor, melainkan masih mengandalkan transportasi umum. ’’Saya sempat menjadi volunteer di NGO (non-governmental organization). Mengajar di sebuah sekolah di Kamboja. Di dekat Angkor Wat,’’ cerita Mario.
Pengalaman mengajar itulah yang membuat Mario ingin kembali ke sekolah tersebut. Tidak hanya mengajar, tapi juga ingin memberikan bantuan materi untuk sekolah tersebut. Dan, keinginan itu terwujud tahun berikutnya. Kali ini dia melaksanakannya dengan menggunakan sepeda motor trail milik kantornya di Bali.
Kisah petualangan keliling ASEAN kali pertama dengan motor diakui Mario sebagai titik balik hidupnya. Perjalanan dengan modal nekat pada 2013 itu berhasil mengubah hidup Mario. ’’Saya ingin kembali ke sana (Kamboja) dengan motor. Jadilah perjalanan ini saya beri nama Wheel Story 1,’’ ucap pria kelahiran Tomohon, Sulawesi Utara, 14 Agustus 1986, tersebut.
Perjalanan selama lima bulan itu dibarengi Mario dengan charity. Sebagai karyawan biasa, dia memang tidak mempunyai banyak duit. Namun, dia tidak menyerah. Dia memutar otak untuk bisa mengumpulkan dana dan memberikannya langsung ke sekolah di Kamboja tersebut.
Mario lalu menggunakan media sosial untuk ’’menjual’’ kilometer yang akan ditempuhnya. Dari Bali, lalu mengelilingi ASEAN, dan kembali ke Bali, Mario setidaknya menempuh 17 ribu kilometer. ’’Per kilometer dihargai Rp 5.000. Jadi, sambil jalan buat fundraising,’’ katanya.
Di Singapura, Mario juga sempat melakukan presentasi untuk menjual kilometernya itu. Dana yang terkumpul dia tukarkan ke dolar Amerika dan selanjutnya disumbangkan untuk perbaikan sekolah bagi anak-anak kurang mampu tersebut.
Setahun kemudian, keinginan Mario untuk traveling kembali muncul. Kali ini dia sudah menjadi manusia bebas. Dia memutuskan untuk keluar dari comfort zone-nya sebagai karyawan dan banting setir menjadi full time traveler. Sejak itu, Mario bisa bebas mengekspresikan ide-ide gilanya.
Setelah menjelajahi Indonesia Barat hingga negara-negara ASEAN, pada 2014 Mario melakukan perjalanan panjang di bumi Indonesia Timur. Dalam petualangan bertajuk Wheel Story 2 itu, dia mengajak serta sang kekasih, Lilis Handayani, 32.
Mario mengakui bahwa bukanlah hal mudah melakukan perjalanan sendiri. Terlebih karena dia harus bisa mendokumentasikan setiap momen dengan baik. ’’Sebelumnya, semua saya lakukan sendiri, termasuk memotret momen-momen penting. Jadinya memang ribet karena harus menggunakan timer. Karena itu, saya lalu mengajak Lilis biar bisa mendokumentasikan perjalanan ini bareng-bareng,’’ kata bungsu tiga bersaudara itu.
Dokumentasi, kata Mario, menjadi bagian yang sangat penting dalam perjalanan tersebut. Hasilnya dia unggah ke media sosial. Dari unggahan di media sosial itulah akhirnya beberapa perusahaan melirik proyek Mario.
Tak lama kemudian, Honda, Castrol, FWD Life, dan Michelin bersedia menjadi sponsor perjalanan Mario selanjutnya. Mario mendapat support penuh dari sponsor saat melakoni perjalanan hingga sekarang.
Sukses menjelajahi kawasan Indonesia Timur, Mario dan Lilis kembali menggelar misi Wheel Story 3 dari Bandung ke Paris, Prancis, dengan menggunakan motor. Tahun berikutnya, 2016, mereka ke Selandia Baru, Australia, dan Timor Leste. Pada perjalanan itu, Mario memilih Selandia Baru sebagai titik start.
Mario mengakui, traveling lintas negara dengan menggunakan sepeda motor bukan hal gampang. Sejak pengurusan dokumen perjalanan, ancaman kelelahan dan dehidrasi, barang bawaan yang tidak sedikit, serta cuaca yang berbeda-beda di setiap negara menjadi tantangan tersendiri. Meski demikian, pengalaman yang didapatkannya selama perjalanan jauh lebih berharga.
Bahkan, tidak sedikit pengalaman ’’luar biasa’’ yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Mulai terserang penyakit hingga ditodong dengan senjata api di tengah jalan. Saat sakit, Mario harus terbaring lemas di tempat tidur selama dua bulan di India. Dia terserang diare akut. Menurut Mario, makanan di India yang tidak higienis membuat tubuhnya bereaksi sampai akhirnya terserang diare. ’’Saya harus istirahat total waktu itu. Tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan,’’ ungkapnya.
Kemalangan lain juga pernah menimpa Mario. Saat melakukan perjalanan ke Kamboja, dia dirampok dan dibuang ke danau. Namun, yang paling menegangkan adalah saat dia ditodong dengan senjata api ketika masuk kawasan offroad yang ternyata terlarang. Tak ayal, tentara yang berjaga di kawasan tersebut menghentikan Mario sambil menodongkan senjata api. ’’Senjatanya sampai menempel di leher. Saya pasrah saja, tapi tetap berusaha tenang. Tidak boleh panik,’’ cerita Mario.
Mario maupun si tentara tidak bisa berkomunikasi karena perbedaan bahasa. Namun, setelah melihat gambar bendera yang tertempel di bodi motor Mario, si tentara mulai melunak. Dia malah mengajak Mario mengobrol dengan bahasa isyarat. ’’Sepertinya, di kawasan tersebut ada ladang opium. Mereka pikir, saya mata-mata. Tapi, setelah saya jelaskan, mereka mengerti dan melepaskan saya dan istri,’’ terangnya.
Mario juga sempat tertahan di Iran karena motornya bermasalah dengan bea cukai di sana. Iran diketahui hanya memperbolehkan sepeda motor berkapasitas 250 cc ke bawah yang melintas di negaranya. Mario akhirnya harus membayar denda USD 60 kepada bea cukai.
Dia juga pernah kena tilang di Turki, saat memacu motornya hingga 140 kilometer per jam. Di Turki, batas kecepatan tertinggi yang diizinkan hanya 90 kilometer per jam.
Kejadian tidak menyenangkan ternyata tidak hanya dia alami saat dalam perjalanan di luar negeri. Ketika Mario dan Lilis berkeliling ke Indonesia Timur, barang mereka sempat dirampok. Tepatnya di Tanjung Bira, Sulawesi Selatan. Saat Mario-Lilis beristirahat di tenda kamping, seorang perampok mengacak-acak barang mereka di motor. Namun, barang berharga yang dicari ternyata tidak ada. ’’Si perampok langsung mendatangi tenda kami dan mengusir kami sambil terus berusaha mencari barang berharga seperti kamera dan laptop. Kami sempat melawan. Tetapi, dia berhasil mendapatkan barang-barang itu,’’ katanya.
Mario langsung melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Untung, tak berapa lama, polisi berhasil menangkap si perampok berserta barang-barang yang dia bawa.
Di luar kejadian-kejadian itu, perjalanan Mario bisa dibilang sangat lancar. ’’Asalkan kita mengikuti aturan yang berlaku di negara tersebut, kita pasti aman. Kita kan cuma numpang lewat. Kalau kita nakal, bisa-bisa kita berakhir di penjara dan dideportasi,’’ tutur Mario.
Meski perjalanan tersebut didanai sponsor, Mario dan Lilis tidak bisa serta-merta seenaknya menghambur-hamburkan uang. Sebaliknya, layaknya backpacker, mereka harus memperhitungkan betul pengeluaran agar tidak lewat dari bujet. Survei tempat menginap yang murah lewat Airbnb hingga mencari rute pesawat ke negara tujuan dengan harga paling murah mereka lakoni. ’’Kadang, kalau pesawat yang direct flight itu mahal. Jadi, kami memilih yang transit-transit. Lebih lama sih, tapi harganya lebih murah,’’ ungkap Lilis.
Untuk urusan akomodasi, Lilislah yang mengatur. Saat malam, Lilis sibuk dengan laptopnya mencari akomodasi yang memungkinkan untuk mereka selama perjalanan. Termasuk mencari perusahaan shipping termurah untuk mengirim motor yang mereka kendarai. Semua harus dilakukan dengan sangat teliti dan hati-hati. Salah sedikit saja bisa berakibat fatal, mereka bisa merogoh kocek lebih dalam.
Tahun ini Mario dan Lilis akan kembali bertualang. Oktober nanti, mereka terbang ke Afrika Selatan untuk melakukan perjalanan keliling Afrika, Eropa, dan Asia. Kali ini Mario akan menunggangi Honda CRF250L yang cocok untuk menjelajahi medan gurun Afrika.
Mario menargetkan bisa menyelesaikan perjalanan itu selama empat bulan. Start dari Afrika Selatan, lalu menyusuri Afrika Timur, kecuali Somalia, dan finis di Alexandria, Mesir. ’’Dari sana, kami akan mengirim motor ke Turki. Sementara itu, kami pulang ke Indonesia untuk mengurus visa untuk masuk Eropa dan Asia,’’ ungkap Mario.
Akhir Maret 2018, Mario dan Lilis terbang ke Turki untuk memulai perjalanan mereka. Dari Turki, mereka berkeliling Eropa sampai menyeberang ke Irlandia dan Inggris serta menjelajahi Skandinavia, lalu masuk ke Eropa Timur dan Rusia. ’’Dari Rusia, kami ke Jepang, Korea Selatan, dan Mongolia melalui jalur trans-Siberian. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan melewati Jalur Sutra menuju Asia Tenggara hingga Indonesia,’’ papar Mario. ’’Total kami akan melewati 62 negara sepanjang perjalanan dari Afrika sampai kembali ke Indonesia,’’ tambahnya.
Menurut Mario, perjalanan sejauh 60 ribu kilometer itu akan diselesaikan dalam waktu 400 hari. Dia dan Lilis rencananya sudah tiba kembali di Indonesia pada November 2018.(jpg/kai)