GELAP: Muhlis Eso menunjukkan bagian dalam museum yang gelap tanpa penerangan setelah listrik diputus sejak tiga bulan lalu SAMSUDIN CHALIL/MALUT POST GELAP: Muhlis Eso menunjukkan bagian dalam museum yang gelap tanpa penerangan setelah listrik diputus sejak tiga bulan lalu SAMSUDIN CHALIL/MALUT POST

Upaya Muhlis Eso Mempertahankan Museum PD II yang Diabaikan Pemerintah

Dibangun 2012 silam, Musem Perang Dunia II yang sempat menggaung namanya saat Sail Indonesia Morotai (SIM) nyaris tinggal kenangan. Tak ingin koleksi museum jadi sia-sia, Muhlis Eso, yang namanya sudah malang melintang di dunia permuseuman, kini berupaya keras menghidupkan kembali museum ini.

SAMSUDIN CHALIL, Daruba

Muhlis Eso hanya bisa pasrah ketika petugas Perusahaan Listrik Negara (PLN) tiba-tiba datang dan memutuskan listrik Museum Perang Dunia (PD) II Morotai yang dijaganya. Selain tak bisa berbuat apa-apa, Muhlis mengaku bingung. Meteran listrik di museum itu menggunakan meteran prabayar (token). Ia sendiri selalu mengisinya. Karena itu, kedatangan petugas PLN membuat keningnya berkerut. ”Katanya kita pencuri aliran listrik, padahal aliran listrik itu dipasang sejak tahun 2012 dan pulsanya selalu diisi," akunya ketika ditemui di Museum PD II di Desa Juanga Kecamatan Morotai Selatan (Morsel), Selasa (16/5).
Sudah sejak Februari lalu, Museum PD II tak teraliri listrik. Tak hanya itu, atap bangunan seluas 20x20 meter persegi itu pun banyak bocornya. Alhasil, plafon ikut rusak ketetesan air hujan. ”Saat musim hujan, lantai gedung jadi tergenang air hujan,”
Tak adanya aliran listrik membuat pengunjung museum sudah akrab dengan alat penerangan darurat. Biasanya Muhlis menggunakan senter dan lampu charger untuk menerangi tamu. Tak ayal, kesan angker justru muncul dalam kunjungan-kunjungan tamu. ”Kalau ada turis yang mau berkunjung, saya (sebenarnya) malu. Karena kondisi ruangan bau dan tidak terurus," ungkap ayah enam anak ini.
Museum PD II sendiri bermula dari ide Muhlis. Suami dari Mahani ini bukan orang baru di dunia permuseuman. Dia merupakan pendiri Museum Swadaya, sebuah museum rumahan yang mengoleksi benda-benda peninggalan PD II. Benda-benda yang dipamerkan di Museum Swadaya adalah koleksi Muhlis pribadi bersama ketujuh rekannya. Para warga pribumi Morotai ini memang senang berburu barang peninggalan perang di lokasi-lokasi yang diyakini pernah menjadi medan peperangan saat perang.
Reputasi Museum Swadaya sendiri sudah dikenal banyak wisatawan asing. Muhlis dan rekan-rekannya berhasil mengukuhkan museum tersebut sebagai salah satu pengoleksi terlengkap peninggalan pasukan sekutu di Pulau Morotai. Namun Muhlis sadar, alangkah lebih baik jika koleksi Museum Swadaya mendapat tempat yang lebih laik dari sekadar gubuknya di Desa Muhajirin. Selain itu, pemerintah tak perlu lagi bersusah payah mengumpulkan benda-benda peninggalan perang untuk dipamerkan pada tetamu.
Maka saat Nurlaila Armayn yang kala itu menjabat Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Maluku Utara berkunjung ke Morotai untuk persiapan gelaran SIM 2012, Muhlis langsung mengusulkan dibangunnya sebuah museum milik pemerintah. Ia bahkan menawarkan koleksinya untuk mengisi museum tersebut. "Mendengar penyampaian saya, Ibu Ila (sapaan Nurlaila, Red) kemudian mengundang saya ke Provinsi untuk membahas tentang bangunan museum dan alhamdulillah dibangun,” kisah pria 47 tahun itu.
Begitu museum selesai dibangun, Muhlis langsung memboyong koleksi Museum Swadaya ke Museum PD II. Museum tersebut menjadi rumah baru bagi ratusan koleksi Muhlis yang terdiri atas selongsong meriam, proyektil peluru, senjata, helm, hingga foto-foto yang dicetak seukuran baliho. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai petani kelapa itu pula yang menjaga museum tersebut. ”Saya hanya disuruh jaga, tanpa digaji,” tutur Muhlis.
Meski tak digaji, Muhlis tak keberatan. Ia terlalu cinta pada benda-benda peninggalan sejarah untuk mengeluhkan kondisinya. Sejauh ini, hanya para pengunjung yang kerap memberinya tip usai didampingi melihat-lihat koleksi museum. ”Kalau masuk museum, tidak bayar,” katanya.
Museum PD II memasuki masa-masa gemilangnya saat pelaksanaan SIM 2012. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri yang meresmikannya. Muhlis bangga bukan kepalang.
Sayangnya, hanya sebatas itu saja museum tersebut diperhatikan pemerintah. Setelah Nurlaila Armayn dimutasi dari jabatannya 2015 lalu, tak ada lagi anggaran pemeliharaan dari Dispar. Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai pun ikut-ikutan tak acuh. ”Sangat disayangkan situs sejarah yang begitu banyak ditampung dalam museum tapi tidak diperhatikan oleh Pemkab Morotai, maupun Pemprov Malut," sesal Muhlis.
Ya, Muhlis pantas menyesalkan kondisi tersebut. Isi koleksi museum tersebut sudah seperti anak-anaknya sendiri. Bersama rekan-rekannya, dia berburu benda-benda bersejarah sejak tahun 1979 atau saat usianya baru 10 tahun. Di sekitar Desa Totodoku dan Joubela, Morotai Selatan, mereka mengamankan banyak benda peninggalan perang. ”Kalau tidak memikirkan daerah ini, mungkin kita sudah terima tawaran dari orang yang pernah menawarkan untuk beli puing-puing itu dengan harga miliaran rupiah. Tapi kami sudah komitmen untuk tidak menjualnya, karena prinsip kami, kalau puing-puing itu dijual sama halnya kita menjual sejarah di negara ini," ungkap alumnus Madrasah Aliyah (MA) Daruba itu.
Bahkan setelah koleksinya dipindahkan ke Museum PD II, Muhlis masih memperlakukan benda-benda itu dengan istimewa. Hingga kini, ia selalu berjaga di museum setiap malamnya. Muhlis mengaku khawatir benda-benda itu dicuri jika tak ada yang menjaganya. ”Morotai dikenal salah satunya karena situs sejarah PD II. Kalau isi dari museum ini dicuri, tidak ada lagi yang mau dilihat di dalam museum ini,” ujarnya.
Muhlis juga mengaku sedih karena hasil temuannya dan rekan-rekannya seakan tak dihargai. Padahal tujuannya menitipkan koleksinya ke Museum PD II adalah untuk memelihara bukti bahwa Morotai merupakan salah satu daerah yang pernah diduduki pasukan sekutu. "Saya sedih, karena merasa hasil temuan kami tidak dihargai oleh Pemkab maupun Pemprov. Jadi setiap malam saya begadang di museum untuk menjaga alat perang itu,” tuturnya.
Kekhawatiran Muhlis bila koleksi museum bakal dijarah bukannya tanpa alasan. Lokasi museum agak jauh dari pemukiman warga. Bangunan di kiri kanannya pun hanya beberapa kantor pemerintahan yang sepi di malam hari. Sedangkan pintu museum hanya memiliki pengaman alakadarnya. ”Karena itu kami berharap pemerintah segera memperbaiki bangunan museum ini. Kalau tidak, maka museum ini kita tutup dan barang-barang peninggalan PD II kita ambil dan simpan di gubuk museum (Museum Swadaya, Red) saja,” katanya setengah putus asa.
Untuk “menyambung hidup” museum tersebut, Muhlis harus menyisihkan sebagian pendapatan yang tak seberapa dari hasil kebun kelapa. Uang tersebut digunakan untuk membeli cat agar Museum PD II tampak sedikit “manusiawi” tampilannya. ”Kami ini orang susah. Hidup saja pas-pasan. Tapi kami masih peduli dengan situs sejarah di daerah ini,” pungkasnya.(din/kai)