MASJID Alfatah dan Gereja Lahairoi MASJID Alfatah dan Gereja Lahairoi

Mengunjugi Pediwang, Desa yang Menjunjung Tinggi Toleransi

    Desa Pediwang, Kecamatan Kao Utara, Kabupaten Halmahera Utara bisa jadi pioneer toleransi umat beragama. Tidak hanya di Maluku Utara. Tapi juga  di Indonesia. 

Samsir Hamajen, Tobelo. 

    Mengunjungi Desa Pendiwang tidak sulit. Dari terminal Tobelo, Ibu Kota Halmahera Utara cukup dengan naik angkot. Membutuhkan waktu sekira 2 jam dengan jarak tempuh kurang lebih 40 kilo meter.  Seperti kebanyakan desa di Halmahera Utara, desa dengan jumlah penduduk 1.654 Kepala Keluarga itu, penduduknya mayoritas beragama Kristen. Sementara warga muslim hanya 17 Kepala Keluarga dengan 86 jiwa.  Namun inilah  kelebihannya. Warga yang mayoritas itu sangat menjaga warga minioritas muslim. Tidak hanya dalam interaksi dalam keseharian. Tapi juga dalam menjaga keharmonisan  beragama. 

    Hubungan kerukununan dan keharmonisan beragama itu tergambar dalam pembangunan rumah ibadah. Di desa ini, masjid dan gereja dibangun secara bersama-sama dalam satu kepanitian. 
   
    Imam Masjid Alfatah, Samsudin Mandai mengisahkan tentang kerukunan yang hingga sekarang terjaga dengan baik. Didampingi wakil imam Suheri Sukasno, Samsuding mengatakan Islam masuk ke desa itu pada tahun 1950.  Yang membawanya adalah orang tua mereka Salim Mandai asal Batani, Morotai. 
   
    Dalam perjalanannya, Salim menikah dengan ibu mereka Sarifa Tinangon yang mualaf setelah memeluk agama Islam. “Dari sini, lahirnya kami ini. Di sini terjadi perkawinan silang sehingga muslim dan nasrani kami anggap keluarga,”katanya memulai pembicaan.  Hubungan itu  kata dia terus berlanjut.   Puncaknya pada tahun 1971 saat mereka membangun rumah ibadah. Mereka membaur membentuk panitia pembagunan rumah ibadah bersama-sama dan dikerjakan secara gotong royong. ”Hasilnya Masjid Alfatah dan Gereja Lahairoi bersamaan,” ujarnya.
    Rasa saling memiliki itu terus terjaga. Bahkan terbawa dalam kehidupan sehari-hari.  Termasuk saat gejolak horizontal beberapa tahun silam. Rumah mereka dijaga oleh keluarga mereka yang mayoritas nasrani.  Di Desa Pediwang kata dia yang didahulukan adalah gotong royong.  Hidup saling menghormati.  Saat ada keluarga yang merayakan Natal ataupun duka mereka datang. Begitupula sebaliknya. Jika ada kegiatan Isra Miraj maupun lebaran,  warga Nasrani  membaur bersama.
    Hal sama disampaikan Pdt Ahmad Saya, Pendeta Gereja Lahairoi, Desa Pendiwang. Ia mengatakan wujud toleransi umat beragama di desanya sudah ada sejak lama.  “Kami yang mayoritas melindungi minirororitas, saling melindungi dan menghargai. Bahkan saat gejolak horizontal terjadi, rumah keluarga kami yang muslim kami jaga.  Jangan sampai orang lain memutuskan tali persaudaran kami. Begitu  juga dengan masjid. Kami jaga,” ujarnya.
    Bahkan Gubernur Abdul Gani Kasuba, kata dia, angkat topi atas toleransi kerukungan beragama di desanya. Karena setiap kegiatan keagamaan,  baik muslim maupun nasrani dihadiri bersama-sama. ”Dalam makan bersama saja,  sudah dipisahkan mana yang haram dan mana yang halal. Itu karena kami saling menghargai,” ujarnya.
    Diawal pembangunan masjid dan gereja, kata dia,  sengaja dibangun pada tahun yang sama dan diresmikan pada tahun yang sama pula. “Dan yang paling penting, panitia pembangunannya hanya satu. Ini adalah wujud toleransi itu,” ujarnya. Ia mengaku belajar banyak dari desanya tentang arti sesungguhnya toleransi antar umat beragama itu.  “Soal agama sudah final. Masing-masing saling menghargai,” ujarnya.
    Ditemui di tempat terpisah, Sekretaris Desa Pediwang  Beni Weda juga menjelaskan soal toleransi itu. Pemerintah desa bersama-sama mengusulkan program rehap fisik masjid dan gereja dengan anggaran dari Kondev PT. NHM “ini usulan kesepakatan masyarakat. Setiap keputusan yang diambil,  pemerintah desa selalu melibatkan masyarakat.  Memutuskan keputusan yang seadil-adilnya. ”Jadi hidup kami rukun dan saling menghargai,”tutupnya (*)