Tiap Hari Ada Saja Mahasiswa yang Datang Belajar

  • Thursday, Jun 15 2017
TOLERANSI: Pembagian takjil di depan Klenteng Eng An Kiong, Malang, Senin lalu (12/6).CANDRA KURNIA/JAWA POS TOLERANSI: Pembagian takjil di depan Klenteng Eng An Kiong, Malang, Senin lalu (12/6).CANDRA KURNIA/JAWA POS

Harmoni yang Menyejukkan dari Sebuah Perempatan di Malang

Tiap Ramadan, sebuah kelenteng di Malang tak pernah absen menggelar beragam kegiatan sosial sebagai bentuk penghormatan. Juga mengelola puskesmas murah dengan mayoritas dokter dan pegawai muslim.

CANDRA KURNIA, Malang

BEBERAPA pengendara motor melambatkan laju kendaraan di salah satu perempatan jalan di Kota Malang itu. Yang bermobil juga demikian, sembari membuka jendela.

Hari menjelang magrib Senin lalu (12/6) itu. Belasan orang yang berkaus biru muda, dengan lambang Pancasila di lengan kanan, menghampiri satu per satu para pengguna jalan yang melambatkan kendaraan mereka. Di dada kiri kaus mereka tertera tulisan ”Yayasan Kelenteng Eng An Kiong Malang”.

”Assalamualaikum, selamat berbuka,” ucap Eddy Ghozali, ketua Yayasan Kelenteng Eng An Kiong, saat turut turun ke jalan sembari membagikan takjil kepada seorang pengendara motor. Sekitar 15 menit kemudian, 1.000 paket takjil ludes terbagi. Lalu lintas di sekitar persimpangan Jalan R.E. Martadinata, Malang, itu pun kembali lancar.

Saat banyak sudut di negeri ini dikoyak kejadian intoleransi, menyejukkan melihat yang berlangsung di sudut Malang tersebut. Warga dari beragam latar belakang menyatu dalam harmoni. ”Kegiatan sosial kemanusiaan seperti ini adalah bentuk perwujudan ajaran inti agama Khonghucu,” tutur Humas Yayasan Kelenteng Eng An Kiong Anton Trijono.

Mulai Senin lalu itu sampai akhir Ramadan, Yayasan Kelenteng Eng An Kiong akan terus membagikan takjil kepada para pengguna jalan setiap sore. Itu memang sudah rutin mereka lakukan tiap bulan suci umat muslim tersebut datang. Hanya, bentuk kegiatannya berbeda-beda. Misalnya membagi zakat, menyantuni anak yatim, atau mengadakan pengobatan gratis.

Di bagian belakang kelenteng juga ada puskesmas yang dikelola yayasan untuk memberikan layanan kesehatan murah kepada warga setempat. Mayoritas dokternya berhijab dan pegawainya muslim. Bahkan, 80 persen pemain barongsai di kelenteng itu pun pemuda-pemuda muslim.

”Dengan kegiatan membagi takjil ini, kami ingin menghormati saudara sebangsa dan setanah air dalam menghadapi hari besar keagamaan mereka,” kata Anton.

Seperti ada dalam agama lain, jelas Anton, Khonghucu memiliki salam kepada sesama manusia yang berbunyi ”Wie Tiek Tong Thian”. Artinya: ”Hanya dengan Kebajikan Tuhan Berkenan”.

Anton lalu memperagakan sikap salam dalam agama Khonghucu, yaitu melipat kedua lengan di depan dada. Kemudian, tangan kanan menggenggam tangan kiri, sedangkan dua ibu jari saling bertemu.

Formasi tangan tersebut, menurut Anton, membentuk huruf ”ren”. Dalam bahasa Mandarin berarti ”manusia”. ”Jadi, mau tidak mau kami harus memiliki sifat kemanusiaan. Dan ini cocok dengan sila kedua Pancasila: Kemanusiaan yang adil dan beradab,” tambah pria 76 tahun itu.

Kelenteng Eng An Kiong berdiri sejak 1825. Seperti kebanyakan kelenteng atau wihara di mana pun berada, tempat ibadah tersebut sekaligus tetenger bahwa komunitas Tionghoa di sekitar lokasi sudah berkembang lebih dulu ketimbang tempat ibadahnya.

Biasanya komunitas itu dikenal dengan pecinan. Begitu juga halnya di Malang. Berdirinya Eng An Kiong merupakan bukti bahwa masyarakat Tionghoa sudah hidup di kawasan tersebut lama sebelum kelenteng dibangun.

Anton mengaku prihatin terhadap munculnya insiden sektarianisme belakangan di sejumlah tempat di tanah air. Padahal, menurut dia, masalah itu sudah tidak perlu terjadi di Indonesia yang telah 72 tahun merdeka. ”Dengan kesepakatan bersama bapak-bapak bangsa yang menjadikan Pancasila sebagai prinsip hidup bernegara, sebenarnya kita sekarang ini tinggal melaksanakannya saja,” tuturnya.

Meski demikian, Anton tetap menaruh harapan besar kepada generasi muda yang berpikiran terbuka. Hampir setiap hari ada saja mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Malang, dengan latar belakang bermacam-macam pula, yang datang ke Kelenteng Eng An Kiong. Untuk menimba ilmu, mempelajari sejarah.

Umumnya mereka bertanya tentang keberadaan kelenteng yang sudah berusia 192 tahun itu, yang bisa tetap berdiri tegak, kukuh, dan indah. Selama lebih dari tiga generasi meski berada di tengah masyarakat muslim. ”Saya katakan bahwa yang kami lakukan adalah ’kemanusiaan’. Dan itu sejak kelenteng ini berdiri,” paparnya.

Setiap kegiatan dan aksi sosial dibiayai donasi umat yang dikelola yayasan. ”Prinsipnya dari manusia untuk manusia,” kata Anton.

Sebagai bentuk transparansi, di bagian tengah kelenteng terdapat papan besar yang memajang susunan kepengurusan yayasan. Setiap pengampu bagian dan divisi diberi nama lengkap serta foto. Para donatur bisa langsung mengetahui siapa-siapa yang bertanggung jawab mengurusi satu bidang tertentu.

Jika ada komplain, bisa langsung menemui yang bersangkutan. ”Sejak Gus Dur mengembalikan hak-hak sipil kami sebagai warga negara Indonesia, kami langsung menyusun kepengurusan dan membuatnya setransparan mungkin,” terang Anton.

Di masa kepresidenannya yang tergolong singkat, Gus Dur memang meninggalkan banyak warisan berharga bagi harmoni Indonesia. Di antaranya adalah mencabut larangan perayaan Imlek yang tercantum dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967. Bersamaan dengan dicabutnya inpres tersebut, Khonghucu juga diakui sebagai salah satu agama resmi.

Tetap kukuh berdirinya Kelenteng Eng An Kiong juga bukti penghormatan warga Malang terhadap keberagaman di kota mereka. Itu pula sebabnya, meski banyak isu sektarianisme berseliweran di berbagai tempat, Kota Dingin tersebut tetap adem.

Kebetulan Kelenteng Eng An Kiong yang berdiri tepat di perempatan jalan itu juga diyakini bertujuan menolak bala. ”Seperti namanya, Eng berarti abadi, An adalah keselamatan, dan Kiong berarti istana. Jadi, kelenteng ini berarti Istana Keselamatan yang Abadi. Dengan cara apa? Dengan menebar kebajikan,” papar Anton. (JPG/fai)