MASIH REMAJA: Firman Syah Souwakil (kiri) dan sang paman, Abdul Rohim Malaka saat ditemui di Masjid Bhara Imam,  Markas Polres Ternate, Rabu (14/6)    MASIH REMAJA: Firman Syah Souwakil (kiri) dan sang paman, Abdul Rohim Malaka saat ditemui di Masjid Bhara Imam, Markas Polres Ternate, Rabu (14/6)

Firman Syah Souwakil, Remaja Penghafal Alquran yang Jadi Imam Masjid

Masa remaja Firman Syah Souwakil mungkin sedikit berbeda dengan anak kebanyakan. Remaja asal Ambalau, Kabupaten Buru Selatan itu lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Alquran dan mendalami ilmu agama. Hafizh ini pun dipercaya menjadi imam di Ternate.

IKRAM SALIM, Ternate

Dua pekan belakangan, salat di Masjid Bhara Imam Markas Polres Ternate terasa sedikit berbeda. Biasanya, ibadah di masjid itu dipimpin dua anggota polisi dan penjaga masjid secara bergantian. Kini, imam masjid yang berdampingan dengan Mako Brimob Polres itu bertambah satu.
Menariknya, imam baru ini masih berusia remaja. 17 tahun tepatnya. Jamaahnya sendiri rata-rata berusia di atas sang imam.
Meski belia, kemampuannya melantunkan ayat-ayat suci Alquran tak perlu diragukan lagi. Firman Syah Souwakil, nama pemuda tersebut, juga memiliki suara yang merdu. Di Masjid Polres, Firman kebagian jadwal mengimami empat kali dalam seminggu, baik salat wajib maupun tarawih.
Pertama kali menjadi imam di Masjid Polres, sebagian jamaah yang didominasi anggota polisi itu masih ragu dengan kemampuan Firman. Namun setelah mendengar lantunan ayat suci yang ia lantunkan, remaja kelahiran 1 Oktober 2000 langsung jadi pusat perhatian. Bahkan ada yang memanggilny ustad. "Saya baru pertama kali jadi imam di atas kapal Sinabung saat dalam perjalanan dari Surabaya menuju Ternate," tutur Firman saat ditemui di lingkungan Mapolres Rabu (14/6) malam.
Kala itu, para penumpang hendak salat Magrib. Namun tak ada satu pun jamaah yang bersedia jadi imam. "Jadi saya langsung maju dan selama empat hari di atas kapal saya yang diminta jadi imam," ujarnya.
Firman sendiri hanya berniat pesiar di Ternate. Kebetulan ia memiliki kerabat yang tinggal di Kota Bahari Berkesan itu.
Jebolan tiga pesantren ini mengaku sudah mulai diajari nengenal huruf Hijaiyah sejak usianya setahun. Firman memang dibesarkan dalam keluarga yang agamais. Ketika memasuki usia SD, orang tua Firman, Samsudin Souwakil dan Mula Latuconsina, mengirimnya untuk belajar di pondok pesantren (ponpes) Al-Fatah Desa Temboro, Magetan, Jawa Timur. Di usia 9 tahun, ia sudah hafal 12 juz Alquran.
Lima tahun di Temboro, Firman melanjutkan perjalanannya mendalami ilmu agama ke Malang. Ponpes Darussalam An Nashr di Kota Batu jadi pilihannya. Di bawah bimbingan Kyai Sufyan Nur, Firman kembali mengulangi hafalan Alquran-nya dari awal. "Di sana saya tambah (hafalan) 3 juz, karena harus ulang dari awal," katanya.
Bagi Firman muda, tak ada kata istirahat dalam mendalami ilmu agama. Setahun di An Nashr, ia lantas melanjutkan pendidikannya di Desa Pirikan, Magelang, Jawa Tengah. Selama tiga tahun di Ponpes Darul Quran An Naser, ia berhasil menghafal 30 juz Alquran. Saat ini, remaja tersebut tengah mendalami kitab kuning di Ponpes Sirojul Huda Desa Windusari, Magelang. "Saat ini fokus belajar tentang fiqih dan hadist," ucapnya.
Merdunya suara Firman sendiri merupakan bawaan dari orang tuanya. Orang tua Firman juga berprofesi sebagai guru agama di Ambon. "Mereka juga sering juara MTQ," imbuhnya.
Menghabiskan hari-harinya belajar agama, remaja berkulit sawo matang itu bercita-cita dapat menjadi seorang kyai. Setelah itu, ia ingin kembali ke kampungnya dan menjadi imam di sana. "Saya biasanya juga diminta murottal di berbagai hajatan di Jawa. Sebelum memimpin salat pun, saya selalu membaca Alquran dulu," tandasnya.(cr-02/kai)