Selamatkan Diri Tiap Kali Hujan dan Angin Kencang

  • Saturday, Jun 17 2017
MIRIS: Gubuk tua Milik pasangan suami istri Arsad dan Rusni yang berdiri atas lahan pekubura MIRIS: Gubuk tua Milik pasangan suami istri Arsad dan Rusni yang berdiri atas lahan pekubura

Kisah Keluarga Arsad Muhammad Jama, Bertahan Hidup di Lahan Pekuburan

Kehidupan yang layak memang menjadi dambaan utama setiap keluarga. Namun tak semua orang bisa memenuhi harapan tersebut. Keluarga Arsad Muhammad Jama adalah salah satunya.


HASBI KONORAS, Ternate



Gubuk tua itu hanya berukuran 4x6 meter. Berdinding tripleks dan beratap seng, bagian belakang rumah itu berdiri di atas kali mati sedalam 6 meter. Sebagian bangunan lagi berada di areal pekuburan Islam milik Pemerintah Kelurahan Maliaro, Kecamatan Ternate Tengah.
Jauh dari kata layak. Namun pasangan Arsad Muhammad Jama, 55, dan Rusni Jamal, 45, harus bertahan hidup di situ. Di gubuk berkamar dua itu, tinggal pula tiga anak mereka; Aisah Amat, 26, Risma Amat, 20, dan Sonia Arsad, 15. Lalu ada pula cucu lelaki mereka, putra Aisah bernama Zulfikar. Usia Zulfikar baru 11 bulan.
Keluarga ini hidup serba terbatas. Baik Arsad dan Rusni tak punya pekerjaan tetap. Sudah begitu, keduanya harus menghidupi ketiga anak perempuan mereka. Suami Aisah sendiri sudah lama meninggalkan keluarga kecilnya.
Sehari-hari, Arsad biasanya diajak orang-orang sekitar situ untuk menjadi kuli bangunan. Memperbaiki seng rumah, dan pekerjaan sejenisnya. Namun pekerjaan ini datang tak tetap. Sedangkan Rusni kadang diminta warga untuk mencuci dan menyeterika pakaian.
Bayaran yang diterima pasangan suami istri (pasutri) ini jelas tak seberapa. Untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja amat pas-pasan, apalagi untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak. Jangankan membangun rumah baru. Memperbaiki kerusakan-kerusakan gubuk mereka pun dirasa nyaris tak bisa. "Yang paling utama anak cucu bisa makan dulu," tutur Arsad saat ditemui di rumahnya, Rabu (14/6).
Arsad mengungkapkan, sudah enam tahun ia dan keluarganya menempati lokasi tersebut. Sebelumnya, mereka tinggal di areal pekuburan yang sama, hanya berjarak beberapa meter dari rumah sekarang. Pilihan untuk tinggal di situ terpaksa diambil lantaran Arsad tak mampu membeli lahan. "Kalau tidak tinggal di sini, mau tinggal dimana lagi?" katanya.
Hidup di bibir jurang memiliki resiko tersendiri bagi keluarga ini. Tiap kali turun hujan atau angin kencang, penghuni rumah harus berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. "Yang saya khawatirkan adalah angin kencang. Karena di sini banyak pohon kelapa dan pohon besar lainnya. Gempa juga jadi ancaman," ungkap Arsad.
Meski tak bisa hidup dengan tenang di situ, Arsad dan keluarganya tak punya pilihan lain. Mereka justru bersyukur karena pemerintah sejauh ini mengizinkan mereka bermukim di areal pekuburan. Tentunya, Arsad berharap ada solusi lain yang lebih baik lagi.
Selain kondisi tempat tinggal yang memprihatinkan, Arsad dan Rusni juga harus dipusingkan dengan biaya sekolah Sonia. Si bungsu itu hendak melanjutkan pendidikannya di bangku SMA. "Biaya sekolah ini yang saya masih keluhkan. Apalagi dia ingin masuk SMK. Jadi sementara saya urus surat keterangan tidak mampu," tuturnya.
Hidup dalam keterbatasan tak membuat Sonia berkecil hati dalam mengejar cita-citanya. Remaja itu ingin menjadi polwan. Di sekolahnya pun ia selalu masuk ranking 5 besar. "Saya hanya berharap bisa dapat beasiswa sampai sekolah selesai, supaya dapat meraih cita-cita," tuturnya kepada Malut Post.
Kondisi keluarga Arsad sendiri sebelumnya telah mendapat perhatian Dinas Sosial Kota Ternate. Hanya saja, perhatiannya masih sebatas pendataan. “Dari Dinas Sosial sudah pernah ambil data-data kami tapi sampai sekarang tidak ada hasil apa-apa,” ujar Arsad.
Meski demikian, Arsad dan Rusni berterimakasih kepada Pemerintah Kelurahan Maliaro yang mengizinkan mereka tinggal di lahan milik Pemerintah.(tr-04/kai)