Didorong Minimnya Lapangan Kerja, Diviralkan Wakil Bupati

  • Monday, Jul 10 2017
TEDUH: Salah satu rumah panggung milik Barnabas yang diviralkan Wakil Bupati Kepsul. Tampak di belakangnya lebatnya hutan mangrove Desa Fukweu. Foto lain, Fitrah “Barnabas” Hasanudin FAHRUL MARSAOLY/MALUT POST TEDUH: Salah satu rumah panggung milik Barnabas yang diviralkan Wakil Bupati Kepsul. Tampak di belakangnya lebatnya hutan mangrove Desa Fukweu. Foto lain, Fitrah “Barnabas” Hasanudin FAHRUL MARSAOLY/MALUT POST

Fitrah “Barnabas” Hasanudin, Preman Insaf Penjaga Mangrove Desa Fukweu, Kepulauan Sula


Di Kota Sanana, siapa yang tak kenal dengan Barnabas. Lelaki itu dulunya dikenal sebagai preman yang garang. Namun sekarang tidak lagi. Barnabas kini disibukkan dengan aktivitasnya menjaga hutan mangrove. Ia bahkan mengembangkan mangrove di Desa Fukweu sebagai objek wisata eksotis.

FAHRUL MARSAOLY, Sanana

Empat rumah panggung berdiri kokoh di atas lautan di Pantai Desa Fukweu, Kecamatan Sanana Utara, Kepulauan Sula (Kepsul). Jarak antara rumah cukup berjauhan, masing-masing dihubungkan dengan jembatan papan. Di dekat rumah-rumah tersebut, pepohonan mangrove tumbuh lebat.
Udara segar, permukaan laut yang teduh, dikelilingi hijaunya mangrove amat memanjakan mata siapa saja. Terlebih, tak ada sampah berserakan di situ. Warga sekitar menyebut lokasi tersebut Hol (teluk, Red) Tiyo. Untuk mencapai lokasi ini, jarak tempuh dari Kota Sanana menuju Desa Fukweu melalui jalur darat sekitar 1 jam. Lalu dilanjutkan dari Desa Fukweu ke Hol Tiyo lewat jalur laut hanya sekitar 3-4 menit perjalanan.
Di balik eksotisme Hol Tiyo, adalah Barnabas yang menjadi sosok kuncinya. Ia sering disebut sebagai penjaga hutan mangrove. Namun yang tak disangka, sebelum aktif berkecimpung di bidang lingkungan, Barnabas lebih dikenal sebagai preman yang garang. ”Kalau nama di KTP saya Fitrah Hasanudin. Hanya saja sering dipanggil Barnabas,” katanya saat ditemui di kediamannya yang berada di Desa Falahu, Jumat (7/7).
Sepak terjang Barnabas sebagai preman di masa lalu amat diperhitungkan. Tiap kali ada tawuran antarkampung (tarkam), ia selalu tampil sebagai pemimpin. Label sebagai preman lekat padanya hingga periode 2010-an. Usia yang kian matang membuat Barnabas lebih memilih fokus menjadi petani.
Salah satu lokasi kebunnya adalah di dekat Pantai Desa Fukweu. Sebagai tempat mengaso, ia lantas membangun sebuah rumah panggung. Lantaran lokasinya yang teduh, satu-dua kenalannya kerap mampir ke rumah panggung tersebut. ”Perlahan-lahan tempat itu mulai sedikit ramai, tapi belum seramai sekarang,” tutur pria 41 tahun itu.
Makin banyaknya orang yang datang membuat Barnabas mulai merasa sempit. Ia lantas mendirikan satu rumah panggung lagi. Suatu ketika, Wakil Bupati Kepsul Zulfahri Abdullah sempat menyinggahi tempat tersebut untuk santai dan bakar ikan. Setelah itu, Zulfahri lalu meng-///upload/// foto kawasan itu ke akun media sosialnya. ”Sejak itu mulai ramai dibicarakan di media sosial. Tak lama kemudian, masyarakat sekitar Kota Sanana semakin banyak yang berdatangan,” kisahnya.
Lantaran keterbatasan anggaran, dua rumah panggung tersebut awalnya hanya dihubungkan dengan jembatan bambu. Begitu Hol Tiyo makin ramai, retribusi ke lokasi tersebut digunakan untuk membangun jembatan yang lebih kokoh. Barnabas juga menambah dua rumah panggung lagi. ”Dari sedikit pemasukan, saya perbaiki pelan-pelan, lalu ditambah rumah lagi. Sekarang sudah ada empat rumah. Masuk ke sana cukup bayar Rp 10 ribu saja,” kata ayah satu anak ini.
Julukan penjaga mangrove sendiri didapat Barnabas lantaran konsistensinya merawat kawasan tersebut. Setiap hari, ia menjaga kawasan mangrove di sana agar bebas sampah maupun bebas tindakan destruktif lainnya. ”Tiap hari kawasan mangrove-nya saya jaga sehingga tetap bersih,” ceritanya.
Barnabas menuturkan, semangatnya mengembangkan Hol Tiyo sebagai destinasi wisata juga tak lepas dari sulitnya mencari lapangan kerja di Kepsul. Sebagai pria yang hanya tamat Sekolah Dasar, nyaris mustahil bagi Barnabas untuk mendapatkan pekerjaan di sektor-sektor formal, bahkan informal. ”Karena itu, meski dengan segala keterbatasan, saya bangun tempat wisata ini sedikit demi sedikit yang saat ini mulai terlihat hasilnya,” jabarnya.
Meski hanya tamatan SD, langkah yang dilakukan Barnabas ini terbilang besar. Pengembangan pariwisata ini ia lakukan tanpa bantuan pemerintah atau sponsor dari pihak manapun. ”Kalau bantuan kerja sama dengan pihak tertentu tak ada. Waktu itu saya bangun sendiri. Tapi memang butuh perhatian pemerintah agar ini bisa dikembangkan lebih besar lagi. Kemudian diatur dengan regulasi agar ada pemasukan untuk pendapatan daerah, maupun pendapatan desa,” tuturnya.
Walau fasilitas Hol Tiyo masih tergolong terbatas, antusiasme masyarakat untuk berkunjung ke tempat tersebut cukup tinggi, terutama pada hari libur. Pengunjung yang datang rata-rata di atas 100-150 orang pada hari libur. ”Bisa lebih dari itu pengunjungnya, tapi karena rumah yang dibangun  juga terbatas sehingga tak dapat menampung semua pengunjung,” imbuh Barnabas.
Pemakaian rumah panggung di Hol Tiyo menggunakan hitungan per jam. Per rumah dapat disewa dengan harga Rp 200 ribu. Satu rumah bisa menampung 20-25 orang. Dalam sebulan penghasilan bersihnya dapat mencapai Rp 4 - Rp 5 juta. ”Kalau yang datang berkelompok banyak biasanya mereka pakai per rumah. Kalau hanya satu-dua orang biasanya hitungannya per orang,” ujar Barnabas.
Barnabas menambahkan, saat ini pengunjung ke lokasi wisatanya sedang menurun. Pasalnya, kondisi jalan dari Kota Sanana menuju Desa Fukweu tengah rusak. Dia berharap ke depan ada perhatian dari pemerintah untuk melakukan pengembangan pariwisata yang telah digagasnya. Terlebih dari sisi pengamanan dan penambahan fasilitas. ”Saya berkeinginan lokasi wisata ini bisa dipagar agar lebih aman, hanya saja masih keterbatasan anggaran,” pungkasnya.(rul/kai)