Ekspansi Literasi Masuk Desa dari Mahasiswa Perantau

  • Thursday, Jul 13 2017
DEMI LITERASI: Sebagian pengurus Rumah Baca Belo-Belo di sekretariat mereka yang sederhana, Sabtu (8/7) FITRAH A KADIR/MALUT POST DEMI LITERASI: Sebagian pengurus Rumah Baca Belo-Belo di sekretariat mereka yang sederhana, Sabtu (8/7) FITRAH A KADIR/MALUT POST

Melirik Aktivitas Rumah Baca Belo-Belo di Halmahera Timur

Rumah Baca Belo-Belo didirikan dengan tujuan mulia, mengentaskan anak muda dari pergaulan bebas. Pendirinya adalah anak-anak desa perantau yang baru selesai menimba ilmu di berbagai daerah. Mereka percaya, sejak kanak manusia harus ditanamkan prinsip hidup “berguna bagi diri sendiri dan orang lain”.

FITRAH A KADIR, Maba

Bangunan kayu tua itu berdiri kokoh di bawah teriknya mentari Halmahera Timur (Haltim). Letaknya tak jauh dari Lapangan Desa Buli Karya, Kecamatan Maba, yang kerap digunakan untuk pertandingan sepakbola, juga kampanye politik. Beberapa anak muda tengah menunggu Malut Post di dalam bangunan tersebut.
Mereka menyebut bangunan itu gubuk. Sekilas, penampakannya memang seperti gubuk terlantar. Namun bagian dalamnya cukup membuat terkejut; dicat warna-warni, berisi lemari-lemari penampung ratusan buku. Karpet plastik bercorak papan catur melapisi lantai. Warga sekitarnya mengenalnya sebagai Rumah Baca Belo-Belo (RB3).
Rumah baca itu masih berusia muda, 22 Juli nanti baru masuk setahun. Pendirinya adalah anak-anak muda Buli Karya yang melanjutkan pendidikan tinggi mereka di luar daerah. Kondisi desa dan sekitarnya yang memprihatinkan ketika mereka kembali memantik berdirinya pusat literasi ini. ”Banyak anak muda yang pergaulannya lebih mengarah ke hal negatif. Mabuk-mabukan, dan lain sebagainya. Jadi ketika ramai-ramai pulang kampung, kami sepakat mendirikan rumah baca ini,” tutur Apriyani Hi Tamsil, Pengurus Bidang Komunikasi dan Publikasi, Sabtu (8/7).
Para pengurus RB3 rata-rata kuliah di luar Haltim. Ternate, Manado, Makassar, hingga Jogjakarta. Sebagian sudah kelar, ada pula yang masih berstatus mahasiswa. Dari mereka lah, ratusan buku koleksi RB3 berasal. ”Semuanya sumbangan dari teman-teman. Kalau untuk donatur tetap sih belum ada,” ungkap Ketua RB3 Kifli Hi Adam.
Untuk mendirikan rumah baca, tentu Kifli dan rekan-rekannya membutuhkan sebuah bangunan. Pak Ishak, seorang warga, mengizinkan mereka memanfaatkan bangunan kosong miliknya. Bangunan yang terdiri atas empat ruangan mungil itu dipinjamkan secara gratis.
Awalnya, warga desa tak serta merta menerima kehadiran rumah baca tersebut. Padahal Kifli dan teman-temannya sudah berupaya mendekatkan diri sebisa mungkin dengan warga. Salah satunya adalah dengan pemilihan nama rumah baca yang kental akan muatan lokal. Belo-belo sendiri merupakan sebuah ritual adat Haltim yang selalu digelar bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad. ”Sempat tidak diterima warga, lantaran aksi kami dianggap tidak bermanfaat," kata Asriadi Tamima, salah satu pengurus.
Seiring berjalannya waktu, misi untuk membangun pendidikan karakter terhadap sasaran rumah baca, yakni anak muda putus sekolah dan anak SD, makin terlihat jelas. Guna mematahkan pandangan negatif warga, pengurus RB3 tak segan turun tangan dalam berbagai aksi sosial dan kegiatan desa. ”Seperti beberapa bulan lalu, ada lomba yang digelar desa. Kami terlibat. Ada beberapa adik-adik yang kami didik, diikutkan dalam lomba. Alhamdulillah, mereka bisa dan berani untuk tampil. Mulai dari menari hingga baca puisi," jabar Asriadi.
Saat ini, kendala utama menjalankan misi gerakan literasi tersebut justru kerap datang dari internal para pengurus. Puluhan anak muda ini, apalagi bila sudah diserang masalah pribadi, macam-macam dampaknya. ”Kadang ada yang sedang tertimpa masalah pribadi, mulai hilang semangat. Makanya, untuk membangun kembali semangat, setiap masalah yang dihadapi selalu dibicarakan dan diselesaikan secara bersama-sama. Tentunya dengan berbagai saran dan solusi yang diterima," beber Kifli yang saat ini masih berstatus mahasiswa Jurusan Pemerintahan di Akademi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD) Jogjakarta.
RB3 sendiri memiliki tiga program utama, yakni Pendidikan dan Bacaan, Agama, serta Info dan Publikasi. Memperingati setahun RB3 pada 22 Juli nanti, para pengurus tengah mempersiapkan agenda dan serangkaian kegiatan. Bakal ada lomba baca puisi, tarian, hingga hafalan doa. ”Jadi seluruh peserta didik akan kita ikutkan, agar mereka bisa saling unjuk kebolehan," kata Apriyani yang merupakan jebolan STIKES Nani Hasanuddin Makassar ini.
Saat ini, para pengurus tengah fokus melakukan pengumpulan dana untuk peringatan milad RB3. Salah satunya dengan mengajukan sejumlah proposal. "Kita ajukan proposal, sisanya disisipkan ke uang kas," sambung Asriadi. RB3 memang membutuhkan intervensi pemerintah daerah setempat. Pasalnya, mereka butuh pengadaan buku, juga sekretariat permanen.
Gerakan literasi RB3 juga mengundang dukungan Camat Maba Robert Barbakiem. Diakui Robert, ia siap memberikan suntikan dana melalui pihak ketiga. "Saya tahu mereka, makanya saya siap mendukung. Di tahun ini, saya akan berupaya agar mereka juga mendapatkan dana comdev yang diplotting PT Antam," tutur Robert.(cr-01/kai)