Bertahan karena Kebanggaan Memakai Seragam Perawat

  • Friday, Jul 14 2017
DEDIKASI: Tenaga sukarelawan di Puskesman Kambowa, Buton Utara, harus melalui medan berlumpur seperti ini jika ingin sampai ketempat tugasnya. Sudah sulit menjangkau lokasi pengabdian, ada 10 honorer yang tak di gaji di tempat ini DEDIKASI: Tenaga sukarelawan di Puskesman Kambowa, Buton Utara, harus melalui medan berlumpur seperti ini jika ingin sampai ketempat tugasnya. Sudah sulit menjangkau lokasi pengabdian, ada 10 honorer yang tak di gaji di tempat ini

Melintasi Belantara, Jalan Berlumpur, dan Merawat Orang Sakit tanpa Gaji

Meski berstatus honorer, sepuluh tenaga medis di Buton Utara harus bekerja siang malam tanpa bayaran sepeser pun. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka menerima orderan menjahit atau membersihkan karang gigi.

HARIAN INDRA-ABDI MAHATMA, Buranga

KALAU ada hari-hari yang membuat Enci Karisma hanya bisa tersenyum pahit, itu adalah hari-hari di awal bulan. Hari-hari ketika rekan-rekan sekerjanya mungkin sibuk menyiapkan rencana belanja atau berburu makanan enak. Sebab, gajian telah tiba.
Dara 22 tahun itu cuma bisa tersenyum kecut karena, jangankan gaji, honor sebagai perawat di Puskesmas Kambowa pun tak ada. Untung, kebanggaan sebagai perawat membuatnya tetap tabah. ’’Bisa memakai baju perawat dan bekerja di sini saja sudah senang,’’ katanya kepada Kendari Pos (Jawa Pos Group).
Padahal, pengorbanannya agar bisa mengabdi di puskesmas yang berada di Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara, itu tak ringan. Tiap hari dia harus menempuh sekitar 30 kilometer bolak-balik. Dengan kondisi jalanan yang sebagian besar berlumpur dan berlubang. ’’Sebulan lebih dari Rp 300 ribu lah harus saya keluarkan untuk biaya bolak-balik dari rumah ke sini (puskesmas). Orang tua yang talangi karena status saya di sini masih honorer,’’ ungkap Enci.
Enci tak sendirian. Di puskesmas yang berdiri megah di pusat kecamatan itu, ada sembilan tenaga honorer lain yang nasibnya serupa. Mereka adalah Ada Erniwatu, 25, yang baru genap lima bulan mengabdi. Kemudian, Jumarni, 25; Wa Ode Juniarti, 24; dan Asrifah, 24, yang sudah mengabdi selama tujuh bulan.
Selain itu, ada Novianti Ansar yang telah delapan bulan menjadi sukarelawan. Tiga nama lainnya, Ade Marlina, 25; Yohana, 26; dan Sarman, 26, bahkan sudah lebih dari setahun mengabdi.
Selama ini, kata Enci, modal dirinya dan rekan-rekan mengabdi di puskesmas itu hanyalah sepucuk surat keputusan (SK) pengangkatan yang dikeluarkan kepala Puskesmas Kambowa. Tapi, mereka baru boleh diberi honor bila SK-nya diteken bupati.
Enci, alumnus Akademi Keperawatan (Akper) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kendari itu, mengaku dirinya dan rekan-rekan sebenarnya sudah mengajukan surat ke bupati. Agar mereka bisa diangkat menjadi tenaga honorer yang digaji lewat APBD. ’’Tapi, belum ada hasil sampai sekarang,’’ ujarnya.
Enci dan rekan-rekannya sadar, jumlah honor lewat APBD bakal tak seberapa. Namun, bagi mereka, itu sudah lebih dari lumayan. Setidaknya mengurangi beban pengeluaran yang mereka tanggung sendiri. ’’Bekerja nirgaji sangat berat dan tak mudah. Namun, tekad saya untuk mengabdi dan mendapatkan pengalaman kerja begitu besar,’’ ucapnya.
Selain mengandalkan bantuan orang tua, beberapa pegawai tanpa gaji itu bekerja sampingan memanfaatkan kealihan di bidang lain. Atau di-support suami.
Novianti Ansar, misalnya, dia memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan membiayai transportasinya pulang pergi ke Puskesmas Kambowa dengan menyisihkan gaji suami. ’’Saya cari pengalaman. Kurang lebih 10 kilometer tiap hari saya tempuh untuk sampai ke puskesmas,’’ kata alumnus kampus Akademi Pelita Ibu Kendari tersebut.
Sementara itu, Asrida mengaku menerima order jahitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keterampilan itu dia dapatkan saat mengenyam pendidikan di sekolah kejuruan. ’’Penghasilannya kecil, tapi lumayan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, saya masih mendapat bantuan orang tua kendati telah menyelesaikan studi,’’ ungkapnya.
Asrida mengatakan sering mendapat cibiran dari rekan-rekannya karena bekerja tanpa digaji. Tetapi, keiginan untuk mengabdi membuatnya bertahan. Sebab, bagi dia, tak semua harus dinilai dengan gaji semata. ’’Saya dididik sejak dini untuk bermanfaat bagi sesama,’’ tegas alumnus Stikes Baubau itu.
Seperti Asrida, Jumarni mengandalkan pemasukan dari membuka praktik di rumah. Berbekal kemampuan sebagai tenaga ahli madya kesehatan gigi. ’’Saya membuka praktik membersihkan karang gigi dan mencabut gigi,’’ ujar Jumarni.
Kondisi 10 tenaga honorer tanpa gaji itu sangat ironis jika dikomparasikan dengan kondisi fisik Puskesmas Kambowa. Puskesmas tersebut terhitung bagus untuk ukuran sarana kesehatan di tingkat kecamatan. Tiga bangunan yang berdiri di area tersebut difungsikan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga yang sakit.
Tenaga medisnya cukup. Ada satu dokter plus puluhan pegawai negeri sipil dan ditambah tenaga honorer. Jika ditotal, 60 petugas bekerja di sana. Puskesmas tersebut juga melayani rawat inap bermodal empat ruangan kamar.
Meski nirgaji, tugas yang ditanggung 10 tenaga honorer itu sama beratnya dengan rekan-rekan mereka yang lain. Keterampilan mereka dalam merawat pasien juga sama sekali tak kalah cekatannya dengan pegawai yang mendapat gaji bulanan. Bahkan, mereka sesekali harus berdinas malam demi merawat dan menjaga pasien yang dirawat inap agar segera pulih dari sakit.
Termasuk harus siap menghadapi berbagai kendala dalam memberikan pelayanan. Misalnya, saat meladeni pasien yang rewel.
Bayangkan, sudah tak digaji, mesti melewati medan yang berat menuju tempat kerja, dan di tempat kerja harus berhadapan dengan pasien yang bandel atau doyan uring-uringan.
Mereka rata-rata bermukim di kecamatan yang sama, hanya berbeda desa. Tapi, setiap hari perjalanan menantang harus mereka lakoni. Melintasi belantara, dengan medan tak ramah, jadi menu harian. ’’Kami hanya berharap segera diangkat jadi honorer, dengan SK bupati yang jadi impian terdekat kami. Syukur-syukur bila suatu saat dipatenkan jadi aparatur sipil negara (ASN),’’ kata Jumarni.
Sementara itu, Bupati Kabupaten Buton Utara Abu Hasan tak menampik bahwa memang ada tenaga honorer yang tak mendapat gaji karena minimnya anggaran yang tersedia. ’’Tenaga honorer yang mengajukan mendapatkan SK bupati menumpuk. Kini tengah divalidasi dan disinkronkan apakah mereka bisa diangkat menjadi tenaga honorer atau tidak. Pertimbangannya kemampuan anggaran,’’ ujarnya.
Kendati demikian, mantan Karo Humas Pemprov Sultra itu tetap mengimbau agar kepala puskesmas memperhatikan nasib tenaga honorer. Misalnya, melalui anggaran taktis untuk meringankan beban mereka. Dia pun berjanji menyelesaikan masalah tenaga honorer yang tak mendapat gaji. ’’Mereka yang menjadi sukarelawan akan saya perhatikan. Semua data tenaga honorer tengah divalidasi berapa jumlahnya,’’ katanya.
Sebuah janji yang pasti sangat ditunggu realisasinya oleh Enci, Asrida, Jumarni, dan tujuh rekan mereka. Sekecil apa pun itu, mereka akan sangat bersyukur.(jpg/kai)