SEMBUH: Asnawi Jepi, bekas penderita kusta yang hanya bertahan di atas kursi roda setelah diamputasi dan dinyatakan sembuh SEMBUH: Asnawi Jepi, bekas penderita kusta yang hanya bertahan di atas kursi roda setelah diamputasi dan dinyatakan sembuh

Kisah Asnawi Jepi, Survivor Kusta 

Stigma tentang penyakit kutukan, membuat penderita kusta lebih memilih bersembunyi daripada berobat. Namun, tidak dengan Asnawi Jepi, yang berusaha untuk sembuh, termasuk menghadapi cibiran masyarakat sekitar hingga amputasi.

 
Wahyudin Madjid, Ternate     
         
Siang kemarin, Malut Post menyambangi Panti Sosial Bina Lara Kronis (PSBLK) Wasana Bahagia. Di antara penghuni panti tersebut ada Asnawi Jepi, pria setengah baya yang hanya terduduk di kursi roda.
Kursi inilah yang membantunya berjalan karena salah satu kakinya harus diamputasi hingga yang tersisa hanya lutut dan paha. Hingga Agustus ini, genap setahun Asnawi hidup tanpa kaki kanannya. Sebab, amputasi baru dilakukan dokter pada Agustus 2016 lalu di Makassar. “Harus dipotong, agar tidak lagi menyebar ke tubuh yang lain,” ungkap Asnawi yang mengaku setelah diamputasi, dia pun dinyatakan sembuh dari penyakit tersebut. 
Meski telah dinyatakan sembuh, Pria berusia 53 tahun ini, mengakui kesalahannya yang terlambat mengambil ketuputusan untuk berobat. ”Saya terlambat berobat karena merasa malu dengan kondisi tubuh saya yang waktu itu masih menyerang parah,”akunya. Sebab, jika saat itu dirinya tidak malu untuk keluar dan berobat, tentu dia tidak akan kehilangan anggota tubuhnya.

Ansawi, warga asal Galela, Halmahera Utara ini mengaku, sebelumnya dia memang tidak mengetahui kalau ada yang bisa mengobati penyakitnya itu, sebab saat itu yang ada hanya stigma tentang penyakit kusta sebagai penyakit kutukan dan memalukan. Padangan ini juga yang membuat ayahnya Salim Jepi yang juga penderita kusta  membawa keluarganya menjauh dari masyarakat hingga akhir hayat.
”Ayah saya menghabiskan masa hidup di kebun hingga meninggal dunia pada tahun 1973, tak lama  disusul ibu saya Samsia Hatebessy,” tutur Asnawi yang tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Asnawi yang pun menjadi yatim piatu pada usia remaja dan saat itu, di dalam tubuhnya sudah bersarang bakteri micobaterium leprae (bakteri penyebab penyakit kusta).
Tahun 1976, Asnawi mendengar kabar kalau di Ternate, pemerintah menyediakan  rumah khusus untuk penderita kusta. Keinginannya untuk sembuh membuat Asnawi harus berusaha mendapatkan uang ke Ternate dan masuk ke Panti Wasana Bahagia. dari situlah dia mulai tinggal dan menjadi penghuni panti tersebut hingga kini.
Selama tinggal di panti social itu, banyak hal yang didapatinya, salah satunya adalah bertemu dengan istri tercinta Siti Hasan yang dinikahinya pada 2003 silam. Asnawi mengaku kisah cintanya itu berawal dari kedatangan Siti, warga asal Bacan Halmahera Selatan untuk berobat. ”Dari situ kamu mulai kenalan dan menikah, kami jalani hidup dengan seadanya,”tutur Asnawi sembari tersenyum.
Sebelum diamputasi, Asnawi juga bekerja untuk bisa membiayai kehidupannya bersama Siti. Setiap hari dia mengumpulkan botol plastik bekas untuk dijual. “satu minggu baru dijual, hasilnya itu rata-rata Rp70 ribu,” akunya. Namun setahun ini, dirinya hanya bisa bergerak dengan kursi roda sementara istrinya bekerja dari rumah ke rumah sebagai tukang sapu.
Meski begitu, Asnawi mengaku kalau mereka masih mendapatkan bantuan dari pemerintah yaitu 15 kilo gram beras untuk tiga bulan.  Asnawi pun mengaku, akan menghabiskan sisa hidupnya di panti tersebut karena dia tak ingin kembali ke kampung halamannya karena hingga kini pandangan buruk masyarakat terhadap keluarganya yang sudah dicap buruk.
”Kalau balik ke kampong, lebih baik saya mati saja. Kami di sana disebut keluarga penular kusta, jadi warga tidak mau dekat dengan kami, walalupun sudah sembuh,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. Dia mengaku karena stigma yang diberikan warga di masa lalu membutanya tak bisa bergaul dengan orang di sana. (cr-03/nty).