Manfaatkan Eks Rumah Pintar, Terima Juga Siswa Normal

  • Friday, Aug 11 2017
DEDIKASI: Nendang Suwisa (kedua dari kanan) bersama para guru dan siswa mereka di ruang belajar PAUD untuk Anak Berkebutuhan Khusus. WAHYUDIN MAJID/MALUT POST DEDIKASI: Nendang Suwisa (kedua dari kanan) bersama para guru dan siswa mereka di ruang belajar PAUD untuk Anak Berkebutuhan Khusus. WAHYUDIN MAJID/MALUT POST

Berkunjung ke PAUD untuk Anak Berkebutuhan Khusus di Ternate

Setiap manusia berhak atas pendidikan, bahkan mereka yang berkebutuhan khusus sekalipun. Semakin dini mendapatkan pendidikan, harapannya semakin meningkat kualitas hidup mereka. Hal ini yang coba dicapai PAUD untuk Anak Berkebutuhan Khusus di Ternate.

WAHYUDIN MAJID, Ternate

Letaknya tak menonjol di RT/RW 03/12 Lingkungan Toloko, Kelurahan Sangaji Utara, Kota Ternate Utara. Cenderung tersembunyi. Melewati lorong sempit yang hanya cukup untuk satu sepeda motor, barulah tampak sebuah bangunan sekolah berukuran 8x12 meter. Jarak dari jalan raya ke sekolah sekitar 20 meter.
Bangunan itu dibagi menjadi tiga ruangan belajar. Selain buku-buku untuk anak, bejibun pula mainannya. Oleh pengelola sekolah, ia diberi nama Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Awalnya, bangunan sekolah ini merupakan Rumah Pintar yang dikelola Tim Penggerak PKK Kota Ternate. Hanya berjalan setahun, aktivitas Rumah Pintar lantas terhenti. Agar bangunan, buku-buku, dan fasilitas bermain anak di dalamnya tak mubazir begitu saja, Nona Alaudin lantas mengalihkannya menjadi PAUD.
Nona merupakan seorang aparatur sipil negara (ASN) di Pemerintah Kota Ternate. Dengan berdirinya PAUD ABK, ia didaulat menjadi kepala sekolah. Sejak Juli 2017 lalu, PAUD ABK resmi beroperasi.
Meski namanya memakai embel-embel untuk anak berkebutuhan khusus, PAUD ini juga menerima anak-anak lain pada umumnya. Bahkan lantaran belum adanya sosialisasi, sekolah tersebut baru memiliki satu siswa berkebutuhan khusus. 13 siswa lainnya tak memiliki hambatan apa-apa. ”Sesuai dengan namanya, anak-anak di sini diajarkan bagaimana menjaga kebersamaan antara yang kurang fisiknya maupun yang normal,” ungkap Nendang Suwisa, pengelola PAUD.
Nendang merupakan satu dari empat tenaga honorer yang diperbantukan di sekolah tersebut. Rekan-rekannya yang lain adalah Fatmiwati Hamid, Irda Bangsa, dan Sumarni Salim. ”Sejauh ini kami belum sosisalisasi kepada masyarakat yang memiliki anak difabel atau kekurangan fisik untuk masuk di sekolah ini. Insha Allah tahun ini akan disosialisasikan,” kata Nendang.
Meski baru memiliki satu siswa berkebutuhan khusus, PAUD ABK betul-betul concern terhadap kebutuhan mereka. Untuk anak berkebutuhan khusus, PAUD menyediakan ruangan sendiri. ”Meski kondisi fisik dan mental mereka berbeda, semua anak-anak diajarkan untuk dapat menghormati realitas keberagaman dalam masyarakat,” tutur Nendang.
Bagi Nendang dan ketiga rekannya, mengabdi di PAUD tersebut sudah menjadi tekad tersendiri. Keempatnya ingin memberikan kontribusi ilmu pengetahuan kepada anak-anak di daerah ini. ”Meski hanya berstatus honorer, tapi kami memiliki tekad untuk memberikan yang terbaik kepada daerah ini. Sebab dengan mendidik anak-anak, selain membantu mencerdaskan anak bangsa, juga merupakan bagian dari ibadah,” tuturnya.
Nendang memandang, lembaga pendidikan harus mendidik anak secara merata, tanpa melihat kondisi fisik dan mental mereka. Apalagi bagi anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan lebih banyak perhatian guna meningkatkan kualitas hidup mereka. ”Pada dasarnya pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus sama dengan pendidikan anak- anak pada umumnya. Di samping itu, pendidikan luar biasa tidak hanya bagi anak–anak yang berkebutuhan khusus, tetapi juga ditujukan kepada anak-anak normal lainnya,” ujarnya.
Salah satu faktor yang mendorong didirikannya PAUD ABK adalah agar ada pembeda dengan PAUD-PAUD lainnya. Karena itu, Nendang mengimbau para orang tua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus untuk mendaftarkan anak-anak mereka di sekolah tersebut. ”Kami siap mendidik dengan seluruh kemampuan yang kami miliki,” imbuhnya.
Sejauh ini, Nendang merasa masyarakat cukup antusias dengan adanya sekolah tersebut. Siswa-siswa mereka tak hanya berasal dari warga sekitar, juga dari Ternate Tengah seperti Kalumpang dan Santiong. ”Alhamdulillah sekolah ini mendapat antusiasme dari masyarakat. Semoga generasi anak-anak kita bisa mendapatkan pendidikan yang layak mereka dapatkan,” tandasnya.(cr-03/kai)