LITERASI: Poster Gerakan Babaca Buku di Kalaodi yang memungkinkan pengunjung menikmati kopi rempah khas Tidore dengan menyumbang buku sebagai imbalannya. Foto lain, Hamzah Falilat. NASARUDIN AMIN FOR MALUT POST LITERASI: Poster Gerakan Babaca Buku di Kalaodi yang memungkinkan pengunjung menikmati kopi rempah khas Tidore dengan menyumbang buku sebagai imbalannya. Foto lain, Hamzah Falilat. NASARUDIN AMIN FOR MALUT POST

Mengenal Komunitas Fola Literasi Kalaodi

Belakangan ini, perkembangan komunitas literasi di Maluku Utara kian bergelora. Rencahnya minat baca masyarakat umum maupun anak usia sekolah membuat sejumlah aktivis literasi getol mengkampanyekan ajakan membaca. Komunitas Fola Literasi Kalaodi (Folila) adalah salah satunya.

ABD YAHYA ABDULLAH, Tidore

Selama ini, Kelurahan Kalaodi di Kota Tidore Kepulauan dikenal sebagai kampung penghasil cengkih dan pala. Terletak di lereng Gunung Kie Matubu, daerah ini memiliki lahan-lahan subur dan bersuhu sejuk. Sebagai bagian dari wilayah Hutan Lindung Tagafura, Kalaodi juga dikenal sebagai Kampung Ekologi-nya Tidore.
Sayang, kampung yang indah belum sejalan dengan minat baca anak usia sekolahnya. Hamzah Falilat, salah satu pemuda Kalaodi, lantas tergerak mendirikan Komunitas Fola Literasi Kalaodi (Folila). Komunitas literasi ini didirikan di atas keprihatinan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun tersebut melihat kondisi anak-anak Kalaodi. ”Awalnya saya dan beberapa teman melihat kondisi anak-anak di kelurahan ini, saat pulang sekolah tidak tahu mau buat apa. Semangat mengulang pelajaran dan membaca juga minim. Dengan jenjang pendidikan mereka yang masih panjang, kami ingin harapan mereka tak putus dan terus menjadi orang yang bermanfaat," tuturnya kepada Malut Post, Selasa (5/9).
Folila baru dicetuskan pasca Idul Fitri kemarin. Sebuah pondok bambu mungil nan sederhana didirikan di lahan milik keluarga Hamzah di RT/RW 01/01. Di pondok itu, anak-anak bisa datang dan membaca buku dengan bebas. Meski baru, donasi buku dari para donator terbilang sudah lumayan. Maka siswa SD hingga SMA di Kalaodi kini dimanjakan dengan beragam sumber bacaan. ”Komunitas ini hadir karena panggilan untuk membuka akses jendela informasi dalam bentuk buku kepada anak-anak yang kurang bersemangat serta meningkatkan minat baca mereka,” sambungnya.
Ya, terbukanya akses informasi bagi anak-anak Kalaodi menjadi salah satu tujuan utama pembentukan Folila. Letak kampung yang terbilang jauh dari pusat kota membuat mereka mudah terasing dari perkembangan informasi. Apalagi, sinyal internet di Kalaodi masih tergolong minim.
Bagi Hamzah, rendahnya minat baca adik-adiknya di Kalaodi tak lepas dari minimnya materi bacaan yang baik dan bermutu untuk mereka. "Untuk itu, dengan adanya komunitas ini, kami berharap bisa menularkan semangat baca. Sebab belajar tak harus di sekolah saja," jelasnya.
Gerakan sosial Hamzah dan rekan-rekannya itu tak sekadar untuk meningkatkan minat baca. Di lain sisi, mereka berharap keberadaan Folila dapat membentengi generasi muda dari pergaulan yang negatif. "Kami harap dengan aktivitas seperti ini, anak-anak bisa menyatu dengan buku, dan menghindari terjadi perkelahian lantaran tidak ada dinamika sosial yang dapat memotivasi mereka," ujar pemuda 26 tahun itu.
Hamzah menambahkan, buku-buku yang didonasikan oleh para pegiat literasi dominan adalah novel dan buku mata pelajaran. "Kami upayakan terus mencari donasi untuk menambah koleksi buku lebih banyak," tambahnya.
Rencananya, pada 8 hingga 10 September nanti Folila menggagas sebuah gerakan bertajuk “Babaca Buku di Kalaodi”. Gerakan literasi dan kurban buku, begitu para pegiat literasi menyebutnya. Selain membaca dan disuguhi keindahan kampung Kalaodi, peserta yang ikut serta pun bakal disuguhi kopi dabe, kopi rempah khas Tidore. Nah, suguhan kopi dabe inilah yang nantinya “dibayar” peserta dengan donasi buku. ”Dan siapa saja boleh bergabung. Ini seperti malam amal menyumbang buku. Nanti ada juga sesi baca puisi dan berbagi wawasan,” tandas Hamzah.(tr-05/kai)