Piter Tan (Kiri) bersama muridnya yang menjadi barista yang merupakan warga asli papua salah satunya Nyonyo Lanni (kanan) asal Wamena. Tampak Piter memberikan materi tentang pengolahan kopi di ruangan sekolah barista milik Piter yang ada di Jayapura (11/08).GUSLAN GUMILANG/JAWA POS Piter Tan (Kiri) bersama muridnya yang menjadi barista yang merupakan warga asli papua salah satunya Nyonyo Lanni (kanan) asal Wamena. Tampak Piter memberikan materi tentang pengolahan kopi di ruangan sekolah barista milik Piter yang ada di Jayapura (11/08).GUSLAN GUMILANG/JAWA POS

Piter Tan dan Sekolah Barista Gratis untuk Anak Petani Kopi Wamena

Piter Tan mendidik anak-anak muda Wamena bergelut dengan kopi agar kualitas kopi di sana bisa terjaga. Terharu dengan loyalitas petani Wamena kepada dirinya.

FERLYNDA PUTRI, Jayapura

NONYO Lanni begitu bangga mengenakan apron. Merasa seolah seperti kesatria dengan baju besinya. Yang begitu gagah karena baru saja memenangi pertarungan. ’’Saya sudah bisa bikin kopi,’’ tuturnya mantap.
Meracik kopi. Menjadi barista sehebat mungkin. Itulah pertarungan sehari-hari yang harus dihadapi pemuda dari Distrik Walesi, Wamena, tersebut di Pit’s Corner.
Di coffee shop di Jayapura milik Piter Tan itulah Nonyo tinggal. Tiap pulang sekolah, di tempat itu pula dia akan belajar meracik kopi.
Piter membebaskan seluruh biaya tempat tinggal dan rumah. Bahkan, tiket untuk pulang-pergi ke Wamena ditanggung Q Grader dari Coffee Quality Institute itu.
Syaratnya, Nonyo harus serius belajar. Baik di sekolah formal maupun sekolah kopi. Sebab, lewat anak-anak muda seperti Nonyo-lah Piter berharap kelestarian ’’harta karun’’ Wamena bisa terjaga.

                        ***
Semua berawal dari pertanyaan yang lama mengganggu Piter: Mengapa harus menggunakan kopi dari luar Papua?
Piter berasal dari keluarga yang memiliki perusahaan kopi di Jayapura. Tapi, sejak awal hingga perusahaan berkembang pesat, sang ayah selalu menggunakan kopi dari Jawa.
Pertanyaan tadi akhirnya membawa Piter untuk kali pertama ke Wamena sepuluh tahun silam. Sebab, dia mendengar ibu kota Kabupaten Jayawijaya tersebut dikenal sebagai sentra kopi.
Tapi, apa yang ditemukan di sana mengagetkannya. Biji kopi seperti tak ada harganya. Ada yang busuk, berjamur, dimakan serangga, dan hanya sedikit yang layak. Itu semua terjadi karena kebun kopi dibiarkan berantakan oleh petani. ’’Maklum, ketika itu, panen kopi satu tahun satu kali dan hasilnya, satu kilo kopi tak cukup untuk membeli satu kilo gula,’’ tuturnya kepada Jawa Pos pada pertengahan Agustus lalu.
Piter akhirnya mulai mendekati para petani. Dia menjanjikan membeli semua hasil kopi mereka asal mau merawat. ’’Para petani awalnya tidak percaya. Sebab, sebelumnya ada yang bilang seperti itu tapi tidak jadi membeli,’’ ujarnya.
Piter membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk meyakinkan para petani Wamena. Sampai kemudian, tibalah panen pada tahun pertama setelah Piter mengucapkan janji tadi.
Piter menepati janjinya. Dia membeli kopi para petani. Harganya bahkan dinaikkan lima kali. ’’Ketika itu harga kopi masih Rp 9.000, saya beli Rp 45.000,’’ bebernya.
Tentu saja para petani kaget. Dan, otomatis juga senang. Padahal, pada tahun pertama itu, masih ada kopi yang tidak bagus.
Kepercayaan para petani kepada Piter kian tumbuh setelah dia tetap konsisten menepati janji pada tahun kedua. Efeknya pun berantai. Mendengar kabar bahwa ada yang mau membeli dengan harga mahal, banyak petani kopi dari pelosok Jayawijaya yang datang.
Yang paling diingat Piter adalah saat dirinya didatangi seorang nenek. Nenek tersebut menempuh jarak lebih dari 15 kilometer dari Wamena. Kopi digendongnya di kepala dengan menggunakan noken, tas khas Papua.
Begitu bertemu Piter, si nenek langsung duduk selonjoran di sampingnya. Dia tersenyum menyerahkan kopi yang dibawanya. ’’Pak, kopi nenek basah,’’ kata Piter menirukan ucapan salah seorang karyawannya.
Kopi yang sudah dikeringkan lalu basah lagi tentu membuat kopi tak bisa diapa-apakan. ’’Saya suruh pegawai untuk tetap angkut. Nenek itu pasti sudah mengharapkan akan mendapatkan uang,’’ tuturnya.
Walaupun kopi tersebut akan berisiko terkena jamur, Piter membelinya dengan tidak mengurangi harga. Biji kopi yang basah tersebut dihargai dengan harga yang sama dengan kopi yang bagus.
Setelah mendapatkan kepercayaan dari petani, Piter baru mengajari bagaimana merawat kebun kopi agar menghasilkan buah yang berkualitas. Juga, bagaimana memetik kopi.
Harus buah yang berwarna merah yang dipetik. Cara pengupasan hingga pengeringan pun dia ajarkan.
Apa yang dilakukan Piter tentu tidak murah. Membeli banyak kopi yang belum tentu bagus bijinya, lalu mengangkutnya ke Jayapura. Padahal, yang tersedia hanya transportasi udara.
Kedekatan Piter dengan petani akhirnya bukan sebatas antara tengkulak dan petani. Piter sudah dianggap keluarga sendiri. Itu terbukti dengan diangkatnya dia menjadi anak adat di Distrik Walesi.
Upacara potong babi, bakar batu, dan adat lainnya dia jalani. ’’Ada satu petani yang katanya kalau kangen saya, dia peluk pohon kopinya. Menurut petani tersebut, saya membantu anaknya untuk berkuliah,’’ ungkapnya.
Cerita lain, honai salah satu keluarga petani kopi terbakar. Honai merupakan rumah adat Papua yang terbuat dari kayu dan ilalang. Honai tersebut terbakar karena penghuninya menyelamatkan kopi yang bakal dijual kepada Piter. ’’Dikabari hal itu, saya hubungi karyawan saya yang di sana untuk membantu membetulkan honai. Bahan bangunan saya belikan,’’ katanya.
Semua kejadian itu tak pelak membuat Piter terharu. Dia tidak menyangka bahwa pekerjaannya yang sepuluh tahun lalu diketawakan orang ternyata membuahkan hasil berupa ’’loyalitas’’ dari petani.
Hubungan baik tersebut terus dia jaga hingga kini. Piter tidak pernah mengkhianati kepercayaan para petani. Kemampuan para petani pun ditingkatkan. ’’Saya akhirnya beli alat untuk mengupas kopi di Wamena. Biar menghemat listrik, saya belikan yang diulir,’’ ujarnya.

                        ***

Nonyo merasakan betul perubahan ekonomi di keluarganya berkat ’’revolusi kopi’’ di Wamena. Karena itu, dia tak ingin hanya berhenti menjadi petani seperti sang ayah. ’’Saya ingin menguasai kopi lebih jauh,’’ tegasnya.
Keinginan Nonyo itu klop dengan cita-cita Piter untuk merawat kopi, si ’’harta karun’’ Wamena. Sebab, dia sempat agak cemas melihat tren di kalangan anak muda Wamena yang justru ingin keluar dari Papua.
Atau menjadi pegawai negeri sipil. Meninggalkan kebun atau ladang yang telah memungkinkan mereka mendapatkan pendidikan memadai. ’’Selama ini dianggap kurang keren bergelut dengan kopi. Karena itu, saya sekarang punya sekolah untuk anak-anak muda Wamena yang mau belajar soal kopi,’’ ungkapnya.
Karena tujuannya adalah regenerasi perawat kelestarian kopi Wamena, Piter pun menggratiskan semuanya. Namun, murid yang diterima pun diseleksi ketat. Ada kriteria-kriteria yang mesti dipenuhi. Mulai tidak pernah menggunakan narkoba, tidak minum minuman keras, sampai tidak keluar malam. ’’Mereka di sini itu tanggung jawab saya. Kalau misal keluar malam dan terjadi apa-apa, saya juga yang kena,’’ tuturnya.
Seiring berjalannya waktu, peminat sekolah barista bukan hanya anak-anak muda Wamena. Yang non-Papua juga banyak. Tapi, untuk kelompok terakhir itu, biasanya mereka dibiayai perusahaan masing-masing.
Di sekolah calon barista di kafenya itu, Piter mengajari para murid semua tahap untuk membuat kopi yang enak. Mulai memilih, menggoreng atau sangrai, hingga menyajikan. Ada manual brewing hingga yang menggunakan mesin.
Mes atau tempat tinggal pun dia sediakan. ’’Kalau makan, mereka bisa ambil sendiri di kafe,’’ ujarnya.
Nonyo termasuk yang beruntung merasakan itu semua. Bahkan, selain menjadi barista, selepas SMA nanti, dia akan dididik Piter menjadi pengusaha.
Sebab, dengan menjadi pengusaha, Nonyo bakal dituntut untuk juga memanusiakan stakeholder kopi dari hulu. Petani mesti digandeng. ’’Tidak dalam hubungan dagang antara petani dan tengkulak. Melainkan sebagai subjek yang saling membutuhkan,’’ katanya.(jpg/kai)