BELAJAR BERSAMA: Kegiatan belajar di Rumah Baca Folila yang dipandu relawan pemuda setempat. FOLILA FOR MALUT POST BELAJAR BERSAMA: Kegiatan belajar di Rumah Baca Folila yang dipandu relawan pemuda setempat. FOLILA FOR MALUT POST

Melirik Kegiatan Babaca Buku di Rumah Baca Folila, Tidore (2-Habis)

Sebagai komunitas literasi baru, Rumah Baca Fola Literasi Kalaodi (Folila) concern meningkatkan minat baca anak-anak usia sekolah di kampung mereka. Imbasnya sudah mulai terlihat. Anak-anak yang awalnya selalu masuk hutan sepulang sekolah, kini lebih tertarik belajar bersama di rumah baca.

RAMLAN HARUN, Tidore

Tak heran jika sebelumnya anak-anak Kalaodi lebih memilih masuk hutan. Letak perkampungan mereka yang jauh dari wilayah perkotaan membuat bahan belajar menjadi terbatas. Masuk hutan menjadi satu-satunya pilihan bagi mereka mengisi waktu. ”Anak-anak ini awalnya kalau pulang sekolah hanya ke hutan cari biji pala. Dapat satu atau dua biji dan cengkeh langsung mereka kembali dan menjemurnya. Dikumpulkan sampai sudah banyak, barulah dijual untuk kebutuhan tambahan jajan di sekolah,” ungkap Astri Hasan, Senior dJAMAN Malut yang juga salah satu pendiri Folila, Sabtu (9/9).
Jika waktu siang digunakan untuk masuk hutan, malam harinya anak-anak hanya bermain hingga kelelahan dan tidur. Tapi itu sebelum adanya Rumah Baca Folila. ”Sekarang mereka sudah mulai belajar, baca buku beberapa menit, buat tugas sekolah. Dan jam 10 malam batas belajar di sini, langsung tidur,” tutur Astri Hasan.
Menurut Astri, kegiatan anak-anak di Kalaodi tak jauh berbeda dengan anak kampung lain pada umumnya. Pagi ke sekolah, siangnya main kesana kemari. ”Tapi kalau siang memang jarang kita lihat mereka di kampung. Sebab pada ke hutan cari pala. Sorenya baru kita ketemu mereka dalam kampung,” sambungnya.
Kehadiran Rumah Baca sendiri, selain mengajak untuk belajar, juga berusaha mengubah kebiasaan generasi muda yang hampir dekat dengan kenakalan. Terutama para remaja yang rata-rata duduk di bangku SMA. ”Karena ada yang keluar ke kelurahan tetangga, pulangnya sampai malam hari. Kadang juga saat pulang sekolah tidak pulang. Nah, dari hal-hal itu, pemuda di sini akhirnya membangun Komunitas atau Organisasi Pemuda yang diberi nama Jamrud,” kata Astri.
Dari Jamrud inilah, pengembangan kegiatannya berlanjut pada rumah baca. Astri yang kebetulan berlatar belakang mahasiswa Pendidikan pun terpikir untuk membuat tempat belajar. Dipanggillah Hamzah Falilat dan rekan-rekan pemuda lainnya. ”Kemudian dibentuklah rumah baca dan Ata (panggilan karib Hamzah, Red) menjadi ketuanya,” kisahnya.
Rumah Baca Folila sendiri menjadi ajang gabung jurus anak muda Kalaodi. Rata-rata dari mereka tengah menimba ilmu di Pulau Jawa, Sulawesi, dan Ternate. Meski berada jauh di rantau, kepedulian mereka terhadap kemajuan kampung tak pernah pupus.
Dukungan Masyarakat sekitar juga sangat besar atas pembentukan rumah baca ini. Selain warga, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara juga banyak membantu. Pasalnya, Kalaodi merupakan Desa Binaan WALHI. ”Jadi dukungan bukan hanya dari masyarakat, tapi juga WALHI,” ujar alumnus Sastra dan Budaya  Unkhair Ternate ini.
Rumah baca tersebut, kata Astri, menjadi jawaban kepada anak-anak jika bosan belajar dalam ruangan. Mereka juga lebih memfokuskan pada anak PAUD hingga SMA. ”Tapi tidak menutup ruang untuk yang lainnya, misalnya pemuda dan orang tua di kampung, untuk belajar,” tandasnya.(mg-04/kai)