PRABANGSA: Profi l wartawan Radar Bali A.A. Prabangsa yang terdapat di Journalist Memorial Newseum. PRABANGSA: Profi l wartawan Radar Bali A.A. Prabangsa yang terdapat di Journalist Memorial Newseum.

Mengunjungi Newseum, Museum Kebebasan Pers di Washington DC

Wartawan merupakan profesi yang berisiko tinggi. Nyawa bisa jadi terancam. Itulah salah satu pesan yang dituangkan di galeri Newseum, Washington DC. Wartawan Jawa Pos Radar Kediri MOHAMMAD SYIFA yang sedang menempuh pendidikan master di Ohio University sempat mengunjungi museum itu.

Newseum. Gabungan kata news dan museum. Museum tentang surat kabar. Tentang berita. Lokasinya di ibu kota Amerika Serikat, Washington DC. Kota yang memang terkenal dengan museum-museumnya. Yang koleksinya termasuk terlengkap di dunia.
Posisi museum itu sangat strategis. Di Pennsylvania Avenue. Antara gedung Capitol dan White House. Setiap hari dilintasi lalu-lalang ribuan orang.
Pada hari-hari kerja, museum itu buka pukul 09.00 hingga 17.00. Namun, khusus Minggu baru buka mulai pukul 10.00.
Jika dibandingkan dengan museum-museum lain seperti di Smithsonian Institution yang berdiri sejak 1846, Newseum tergolong paling baru. Yakni, baru didirikan pada 2008. Namun, cikal bakal Newseum sudah ada di Arlington, Virginia.
Untuk mengunjungi museum kebebasan pers itu, pengunjung bisa memesan tiket secara online. Tidak harus antre di loket yang terkadang bisa panjang. Harganya USD 24 (Rp 319.200 dengan kurs USD 1 = Rp 13.300) untuk dewasa. Dengan demikian, saat datang, pengunjung tinggal masuk.
Bila harus menunggu museum buka, pengunjung bisa melihat-lihat cover koran yang terbit di seluruh dunia pada hari itu. Halaman pertama koran dunia tersebut dipajang di sebuah galeri kaca raksasa. Urut alfabet, sesuai dengan nama negara. ’’Halaman koran ini setiap hari kami update persis dengan yang terbit di negara masing-masing,’’ terang Jennifer, petugas museum, ketika saya mengunjungi Newseum, Minggu (24/9).
Ada dua galeri yang memajang halaman depan koran-koran dunia tersebut. Yang dipajang di depan pintu masuk merupakan koran yang terbit di 50 negara bagian Amerika Serikat plus beberapa negara tetangga. Sedangkan galeri satunya terletak di lantai 6. Yang ditampilkan lebih banyak. Cover koran dari 80 negara di dunia.
Sayang, hari itu saya tidak menemukan halaman depan koran dari Indonesia. Saya hanya menemukan halaman koran Waspada Medan di website Newseum.
Sebelum ke lantai 6, pengunjung diarahkan ke lantai basement. Di situ terdapat beberapa studio yang memutar profil museum. Ada juga bongkahan Tembok Berlin dan berbagai berita mengenai penghancuran tembok tersebut yang menandai bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur.
Dari lantai bawah tanah itulah pengunjung langsung dibawa ke lantai 6. Dengan menggunakan lift kaca yang sengaja dibuat transparan. ’’Ini merupakan filosofi transparansi media dan informasi,’’ jelas Jennifer.
Ya, transparansi. Termasuk ketika media melakukan kesalahan. Di museum itu diperlihatkan contoh saat media di Amerika menyajikan pemberitaan yang bias. Atau melakukan kesalahan dalam menyajikan berita.
Terpahat pula berita-berita yang pernah menghebohkan dunia. Salah satunya berita skandal mantan Presiden Bill Clinton dengan Monica Lewinsky.
Menurut Jennifer, Newseum memang dibangun untuk mengusung nilai-nilai dari First Amendment Amerika Serikat. Salah satunya soal kebebasan pers. ’’Museum ini menyajikan semua tentang sejarah jurnalistik, media, serta kebebasan pers. Tidak hanya di Amerika, tetapi juga di dunia,’’ jelas perempuan parobaya itu.
Di lantai 3, pemaparan soal kebebasan pers tersebut lebih jelas. Termasuk tentang berbagai ancaman terhadap kebebasan pers.
Memasuki ruangan itu, pengunjung ’’disambut’’ sebuah peta dunia berukuran raksasa. Negara-negara di peta tersebut dibedakan menjadi tiga warna. Yakni, merah, kuning, dan hijau.
Masing-masing warna menandakan tingkat kebebasan pers di sana. Hijau menandakan bahwa pers di negara tersebut diberi kebebasan luas. Kuning, pers di negara itu setengah bebas. Sedangkan merah menandakan pers di negara tersebut belum bebas.
Lantas, Indonesia berada di warna apa? Tidak cukup jelek. Indonesia ditandai dengan warna kuning yang berarti ’’partly free’’. Berdasar penilaian Newseum, Indonesia mendapat 49 poin dari skala maksimal 100.
Alasannya, meskipun pers di Indonesia sudah diberi kebebasan, pemerintah masih memberlakukan aturan-aturan atau regulasi yang cukup ketat. Termasuk, masih adanya ancaman terhadap wartawan serta terbunuhnya sejumlah jurnalis dalam menjalankan tugas.
Untuk menandai jurnalis-jurnalis di dunia yang tewas dalam tugas, museum itu mendirikan monumen khusus. Letaknya tak jauh dari peta kebebasan pers di lantai 3 tersebut. Bentuknya berupa dinding transparan menjulang tinggi.
Di monumen Journalists Memorial itu, terpahat nama-nama wartawan yang gugur saat menjalankan tugas. Ada lebih dari 1.800 nama jurnalis dari seluruh penjuru dunia. Berdekatan dengan tugu tersebut, terdapat dinding yang memajang foto-foto para wartawan yang gugur tersebut disertai penjelasan penyebab kematiannya.
Di antaranya ada sejumlah nama wartawan dari Indonesia, yakni 34 nama. Antara lain, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, wartawan Bernas yang tewas pada 1996, dan Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa, wartawan Jawa Pos Radar Bali yang dibunuh pada 2009.
Dalam profilnya disebutkan, dua jurnalis itu meninggal setelah memberitakan kasus skandal keuangan dan dugaan korupsi di wilayah kerja mereka. Udin di Bantul, Jogjakarta, sedangkan Prabangsa di Bangli, Bali.
Nama Udin, Prabangsa, dan lebih dari 1.800 jurnalis itu didapat Newseum dari data organisasi pers dan wartawan di seluruh dunia. Karena itu, mereka berani mempertanggungjawabkannya. ’’Ini untuk menghindari adanya kontroversi apakah layak atau tidak nama wartawan tersebut diabadikan,’’ jelas Jennifer.
Dari perjalanan museum itu, tetap saja ada kontroversi. Hal itu diketahui dari salah satu keterangan di galeri tersebut. Di situ disebutkan, ada satu nama yang dicabut dari tugu memorial. Penyebabnya, wartawan tersebut diduga berpihak kepada Israel dalam peliputan perang antara Palestina dan Israel.
Yang jelas, ada pesan kuat yang hendak disampaikan monumen Journalists Memorial. Yakni, masih kuatnya ancaman terhadap kebebasan pers di dunia. Bahkan dituliskan, jumlah jurnalis yang nyawanya terancam dalam menjalankan tugas masih terus bertambah. Termasuk ketika terjadi konflik dan perang.
Meski demikian, ada juga pesan penyemangat bahwa jurnalis sejati pantang surut ke belakang. Hal itu, antara lain, terekam dari rompi antipeluru bertulisan ’’Media’’ yang ikut dipamerkan. Rompi itu adalah milik jurnalis CNN Peter Arnett saat terjadi Perang Teluk. Di dekat rompi yang dikenakannya, terdapat satu sachet susu bubuk kemasan produksi Iraq.
Ternyata, sang jurnalis dalam bertugas sempat menyimpan susu tersebut di rompinya. Itu menjadi bukti bahwa sebuah pabrik susu untuk bayi ikut dibom dalam perang. Sebuah pesan kemanusiaan yang harus terus disuarakan.(jpg/kai)