Rumah tanpa Listrik Berdinding Kayu dan Beralas Tanah

  • Tuesday, Oct 03 2017
TERISOLASI: Nelayan di sekitar kampung tirang. Foto lain, Turah warga Tirang TERISOLASI: Nelayan di sekitar kampung tirang. Foto lain, Turah warga Tirang

Kampung Tirang; Bertahun-tahun Terisolasi, Kini Jadi Jujukan Wisatawan

Sejak dijadikan lokasi syuting film Turah, Kampung Tirang kian kondang dan ramai dikunjungi wisatawan. Bertahun-tahun kampung di pesisir utara Kota Tegal itu terisolasi dari keramaian dan terbelenggu kemiskinan.

Diar Candra, Tegal

”Mas, pan nyebrang mana (Mas, mau menyeberang ke sana)?” tanya bocah berusia belasan tahun di tempat penyeberangan pinggiran Sungai Sibelis Senin sore (25/9) pekan lalu. Saya pun mengangguk, lalu bersama Khoerul Anam Syahmadani dari Radar Tegal (Jawa Pos Group) naik ke getek.
Perahu kecil itu sehari-hari digunakan warga Kampung Tirang untuk berpindah tempat. Dari ”tanah timbul” tempat mereka tinggal ke Kampung Jongor yang ada di seberangnya.
Ada beberapa akses menuju kampung yang mulai ramai ditinggali awal 2000-an tersebut. Bisa melalui Pantai Muarareja, Pantai Tegalsari, atau galangan kapal Mina Karya Tegalsari. Waktu itu kami memilih jalur terakhir menuju Kampung Tirang.
Setelah berjalan sekitar 20 menit di antara galangan kapal, perkampungan nelayan, juga pabrik pengolahan ikan, sampailah kami di jembatan penyeberangan. Jalur yang dilalui sempit, hanya cukup untuk satu orang, dan berlumpur. Baunya amis luar biasa. Tumpukan cangkang kulit lobster dan kepiting berserakan di kiri-kanan jalan setapak itu.
Bocah yang menyeberangkan kami bernama Muhammad Bagus Fahmi. Siswa kelas VIII SMP Khoiriyah tersebut tinggal bersama ayah dan ibunya di Kampung Tirang. Dul Wahid-Toipah, kedua orang tua Bagus, termasuk warga awal kampung delta itu. Rumah Dul Wahid itulah yang dijadikan setting Fourcolours Films sebagai rumah tokoh utama Turah. ”Kiye jendelane, Mas. Siki akeh sing pengen poto-poto neng kene gara-gara film Turah kui (Ini jendelanya, Mas. Sekarang banyak yang ingin foto-foto di sini gara-gara film Turah itu),” kata Bagus bangga. Rumah berukuran 14 x 5 meter tersebut masih beralas tanah. Dindingnya terbuat dari kayu-kayu bekas kapal milik Dul Wahid yang sudah dipensiunkan. Saat malam embus dingin udara laut masih bisa terasa masuk rumah.
Rumah Dul Wahid termasuk paling utara di Kampung Tirang. Selain kediaman Dul Wahid, ada sebelas rumah lain di Kampung Tirang. Kondisi semuanya sama, berdinding kayu serta beralas tanah. Kemiskinan dan kepasrahan berkelindan di Kampung Tirang itu. Hanya tiga rumah yang punya listrik. Mereka yang belum punya listrik nyalur dari kampung seberangnya, Jongor. Per bulan mereka dikenai biaya Rp 200 ribu.
Air tawar bersih juga termasuk barang mewah. Satu jeriken berkapasitas 35 liter itu bisa ditebus di Kampung Jongor seharga Rp 2 ribu. Kalau air bersih ingin diantar sampai depan rumah mereka di Kampung Tirang, biayanya berlipat jadi Rp 5 ribu.
Karena itulah, hujan yang mulai mengguyur Tegal pekan lalu disambut penuh sukacita layaknya petani merayakan panen. Air hujan ditadah dan ditimbun dalam tong-tong besar. Ketersediaan air hujan tersebut membuat warga bisa mandi dengan segar. Ya, kalau tak ada air hujan ini, biasanya mereka mandi dengan air asin. Hasil menimba sumur yang mereka punyai di belakang rumah. ”Sudah biasa sih. Memang badannya agak pliket (lengket). Tapi bagaimana lagi?” kata Toipah, ibu Bagus. Untuk sang anak, lanjut ibu 35 tahun itu, biasanya orang tua memberikan porsi air istimewa. Jadi, setelah mandi pakai air asin, Bagus dibolehkan membilas badan dengan air tawar dari jeriken atau dari tong.
Toipah mengaku sudah hidup di Kampung Tirang bersama suaminya kurang lebih 15 tahun. Perempuan asal Slerok, Tegal, tersebut sehari-hari bekerja menyeberangkan orang dengan getek. Untuk perjalanan pergi-pulang Kampung Tirang ke Kampung Jongor atau sebaliknya, orang-orang biasa mengupahnya Rp 5 ribu.
Toipah kini bekerja menanggung ekonomi keluarganya. Sang suami Dul Wahid sudah berusia 70 tahun dan tak lagi kuat bekerja. Kira-kira empat tahun silam punggungnya digebuk orang mabuk. Efeknya, bahu Dul Wahid tak lagi kuat melakukan pekerjaan berat. Padahal, sebelum kejadian itu, Dul Wahid masih sering ikut kapal nelayan mencari ikan. ”Bapake wes ra kuat ngapa-ngapa, Mas. Dadine inyonge ya kadang nggolet kayu bangka, trus didol. Trus ana wedus titipan nggone juragan-juragan (Bapaknya sudah tidak kuat bekerja apa-apa. Jadi, saya terkadang mencari kayu bakar, terus dijual. Juga ada kambing titipan dari para juragan),” papar Toipah.
Meski ekonomi terbilang mepet, Toipah tetap bersyukur. Sebab, mereka sanggup menyekolahkan anak sampai SMP. Bagus, kata Toipah, harus minimal SMA atau STM. Jangan seperti orang tuanya yang SD pun tak tamat.
Semangat sang anak untuk belajar cukup membuat hati Toipah-Dul Wahid bangga. Karena di rumah mereka tak ada listrik dan sumber penerangan dari lampu minyak, Bagus mengerjakan pekerjaan rumah siang hari, sepulang sekolah. Atau Bagus akan menumpang belajar di rumah salah seorang warga yang punya listrik kalau harus belajar sampai larut malam.
Saat Jawa Pos mengajukan permintaan buat menginap di kediamannya Senin lalu, Dul Wahid menolaknya dengan halus. Selain tidak tersedia air bersih buat MCK, pada malam hari juga kadang ular masuk ke rumahnya. Dul Wahid mengungkapkan, beberapa kali kakinya digigit ular saat tidur.
Namun, menurut Dul Wahid, ada pula ular jadi-jadian yang datang ke rumahnya. Ceritanya, Dul Wahid pernah memergoki ular sebesar jempol kaki masuk rumahnya. Saat pentungan diayunkan ke kepala ular, pentungan itu hanya memukul udara kosong. Kejadian tersebut tidak sekali saja. ”Pas syuting Turah kemarin, kru semuanya pulang dan tidak ada yang menginap. Saya minta maaf kalau Anda tidak bisa tidur di sini,” ucap Dul Wahid.
Nah, menurut kasak-kusuk warga setempat, Kampung Tirang dulu memang lokasi persembahan kepada Nyi Rantamsari. Nyi Rantamsari adalah anak bungsu legenda mistis pantai Jawa Nyi Blorong. Memberikan persembahan berupa kepala kerbau sebelum melaut kepada Nyi Rantamsari dipercaya mendatangkan perlindungan saat melaut, juga hasil tangkapan yang melimpah.
Selasa lalu (26/9) Jawa Pos mengunjungi rumah-rumah lain di Kampung Tirang. Sama seperti Dul Wahid, Warsinah juga termasuk penghuni awal Kampung Tirang. Warsinah ingat, sejak 2002 dirinya sudah ada di Kampung Tirang. Kalau Dul Wahid tinggal di rumah paling utara, kediaman Warsinah paling selatan. Di halaman rumah Warsinah ada ikon lain dari film Turah. Yakni pohon jambu biji tempat menggantung tokoh pemberontak Jadag. Beberapa pekan lalu seorang dokter dari Semarang yang biasa membagi obat dan mengadakan pengobatan gratis melakukan swafoto di depan pohon jambu itu.
Warsinah menceritakan, sebagai janda, hidupnya kini bersandar kepada tiga anaknya. Cuma kadang-kadang perempuan 60 tahun tersebut jadi pemulung di area Pelabuhan Tegalsari. Sama seperti kediaman Dul Wahid yang tanpa listrik, Warsinah juga bergantung pada senter sebagai penerangan. Dua hari sekali Warsinah mengganti senter dengan baterai ukuran AA dua buah.
Ternyata, ada kesamaan nama salah seorang warga Kampung Tirang dengan judul film garapan Fourcolours tersebut. Ya, salah seorang anak Warsinah bernama Turah. Rumah Turah ada di sisi utara Warsinah. Dibanding rumah yang lain, rumah Turah ini termasuk elite. Pada siang hari, hanya rumah Turah yang menyetel lagu dangdut dalam volume kencang. ”Inyong dewe kupinge nganti budek ngerungokna dangdut kuwe (Saya sendiri telinganya sampai pekak mendengarkan dangdut itu),” keluh Turah soal perilaku adiknya.
Turah punya tiga anak, satu SMP dan dua SD. Menurut ibu 40 tahun tersebut, pilihannya menumpang listrik dari Kampung Jongor disebabkan kebutuhan sang anak. Turah ingin anak-anaknya kelak sukses dan tak hidup di Kampung Tirang. Soal judul film yang sama dengan namanya itu, Turah bangga. Turah bahkan tak pernah tahu bahwa film berdurasi 83 menit tersebut akan diberi judul sama dengan dirinya. ”Mas Wisnu (Wicaksono Wisnu Legowo, sutradara, Red) ora ngomong apa-apa neng inyong (Mas Wisnu tidak bilang apa-apa kepada saya),” kata Turah.
Meski terlihat adem tentrem, Kampung Tirang juga masuk area rawan gusur. Dul Wahid dan warga lain mau saja direlokasi. Asalkan layak dan penopang ekonomi mereka tetap berjalan. Artinya, mereka masih bisa melaut, menjaga balongan (tambak), berkebun, dan beternak.
Lurah Tegalsari Budi Santosa Selasa lalu di kantornya berkata, kawasan permukiman Kampung Tirang berdiri di atas tanah milik pemerintah kota (pemkot). Bekas tanah urukan Sungai Sibelis yang oleh warga juga disebut tanah timbul itu sudah disertifikasi Pemkot Tegal.
Budi kemudian menunjukkan bukti sertifikat penguasaan Kampung Tirang oleh pemerintah. Dalam sertifikat tersebut ditulis luas area tanah timbul di muara Sungai Sibelis itu hampir 1 hektare. Tepatnya 92.700 meter persegi. ”Pemerintah akan bangun kampung nelayan di area tanah timbul itu dan warga Kampung Tirang ini akan menjadi penghuninya. Mereka dapat prioritas,” ucapnya.
Menurut sesepuh Kampung Trowongan Haji Sanan, baru pada era milenium ada orang yang mau menempati Kampung Tirang. Rata-rata mereka yang hidup di Kampung Tirang bukanlah warga sekitar Sungai Sibelis. Jadi, kalau di bagian timur Kampung Tirang berhadapan dengan Kampung Jongor, Kampung Trowongan ada di sisi selatan.
Haji Sanan yang lahir di Kampung Trowongan pada 1950 berkata, Kampung Tirang semula adalah tempat warga kampungnya membikin balongan. Kalaupun ada warga Kampung Trowongan yang tidur di Kampung Tirang, itu dilakukan untuk menjaga balongan. Tidak ada niat menetap.
Wisnu, sutradara film Turah, mengatakan, ketertarikan membuat film dengan latar lokasi Kampung Tirang sudah berlangsung lama. Info awal keberadaan kampung yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumahnya itu malah datang dari koran pada 2006. Kemudian, pada 2014 produser yang juga salah seorang pendiri Fourcolours Ifa Isfansyah meminta Wisnu membuat skenario. Wisnu pun langsung mengerjakan. Ketika menyerahkan skenario tersebut agar dibaca Ifa, sutradara Sang Penari dan Garuda di Dadaku itu tak membahas lebih lanjut. ”Ketika saya mengerjakan tugas akhir di IKJ, saya bikin film pendek soal Kampung Tirang ini. Namun, saya merasa kurang tuntas,” ujar pria 34 tahun itu. Alumnus Jurusan Perfilman Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tersebut belum habis pikir bagaimana orang yang tak mendapati air bersih setiap hari serta tak ada listrik mau hidup di kawasan itu.
Kesederhanaan hidup warga tersebut rupanya tak luput dari gesekan sosial para pemilik balongan. Sinopsis film Turah ini adalah penggambaran bagaimana masyarakat marginal berjuang melawan pemilik modal yang ada di sekelilingnya. Film yang memenangkan banyak award itu akan mewakili Indonesia dalam ajang Academy Awards 2018.(jpg/kai)