KOMUNITAS BELAJAR: Suasana kegiatan membaca di Rumah Pencerahan Independensia. Tempat ini juga kerap dimanfaatkan pelajar dan mahasiswa untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah dan kuliah. RAMLAN HARUN/MALUT POST KOMUNITAS BELAJAR: Suasana kegiatan membaca di Rumah Pencerahan Independensia. Tempat ini juga kerap dimanfaatkan pelajar dan mahasiswa untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah dan kuliah. RAMLAN HARUN/MALUT POST

Mengenal Independensia, Komunitas Belajar Lokal yang Bersuara di Tingkat Nasional

Sempat enam tahun vakum, Independensia akhirnya meneruskan perjalanan panjangnya. Didirikan oleh sejumlah nama besar di Maluku Utara, komunitas belajar ini tumbuh menjadi rumah untuk mencerdaskan anak bangsa. Puncaknya, gelar juara di tingkat nasional diraihnya September kemarin.

RAMLAN HARUN, Ternate

Rumah di RT/RW 003/001 Kelurahan Sasa, Kota Ternate Selatan, itu tak berbeda dengan rumah-rumah di sekitarnya. Yang membuatnya istimewa hanyalah kondisi lantai dua rumah tersebut. Ribuan buku disusun rapi pada rak-rak terbuka yang bersandar di dinding. Nama yang disematkan untuk rumah itu pun tak kalah kerennya; Rumah Pencerahan Independensia.
Saat ini, Independensia boleh dibilang sudah memasuki masa-masa indahnya. Pada awal didirikan tahun 1996, komunitas ini harus berpindah-pindah saat melakukan kajian maupun kegiatan literasi lainnya. Pasalnya, mereka tak punya tempat permanen.
Sejumlah nama besar ada di balik pembentukan Independensia. Sastrawan Sofyan Daud adalah inisiatornya. Ia didukung oleh Hasby Yusuf, Darsis Humah, Hizbullah Bakri, dan beberapa nama lainnya. Saat itu, Sofyan bermaksud merangkul para mahasiswa yang kurang tertarik mengikuti organisasi. ”Jadi, fokusnya pada kajian-kajian basic keilmuan dan merangsang kepekaan terhadap masalah-masalah daerah,” ungkap Koordinator Pengelola Perpustakaan Independensia Richard Ibrahim saat ditemui kemarin (23/10).
Tiga tahun setelah didirikan, Independensia mengalami kemandekan. Salah satu penyebabnya adalah pemekaran Kota Sofifi yang menguras tenaga para aktivis, termasuk para pegiat Independensia. ”Sehingga tidak lagi melakukan kajian dan sebagainya. Tapi nama Independensia itu masih ada,” kata pemuda asal Halmahera Selatan itu.
Baru pada 2005, Mansur Djamal meminta izin Sofyan Daud untuk mengaktifkan kembali Independensia. Mansur merupakan salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) kala itu. Setelah mendapat restu Sofyan, pemuda yang akrab disapa Onk itu lantas mengumpulkan beberapa mahasiswa dan sama-sama mengaktifkan Independensia.
Seiring berjalannya waktu, Richard mengaku Independensia berjalan dengan dua bagian, yakni Lembaga dan Forum Studi. Lembaga diketuai oleh Mansur, sementara Forum Studi dikoordinir Raf. ”Dalam lembaga itu ada bidangnya, yaitu Perpustakaan dan Kearsipan,” akunya.
Lembaga sendiri baru didirikan pada 2012. Itu pun dimaksudkan untuk dapat mencari mitra kerja dengan lembaga-lembaga lain yang memiliki kepentingan dan minat serupa. ”Itu gunanya mempermudah bekerja sama dengan lembaga lain,” ujar Richard.
Guna menambah koleksi buku perpustakaan, Independensia rutin mengumpulkan buku sejak 2010. Padahal saat itu lembaga ini belum memiliki gedung permanen. ”Saat itu kajian pun kita berpindah-pindah, dari satu kos ke kosan yang lain, dari asrama mahasiswa yang satu ke asrama yang lain. Kemudian berpindah ke sekretariat milik pribadi dan di-launching-nya Perpustakaan Independensia pada Oktober 2016,” terang Richard.
Gerakan donasi buku untuk perpustakaan pun dimulai dari para anggota. Selanjutnya, instansi-instansi yang memiliki buku-buku dan mau menyumbangkan juga dirangkul, seperti Kantor Bahasa dan kampus-kampus. ”Kita saat itu juga membeli buku dari penulis lokal, misalnya Herman Oesman, Malik Ibrahim, dan lainnya. Kami mengoleksinya dan kemudian menjual. Hasil penjualan itu kami belikan buku-buku lain,” kata Richard.
Pembaca Perpustakaan Independensia berasal dari berbagai kalangan. Siswa, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Para pelajar juga kerap mengerjakan tugas-tugas sekolah di situ.
Terus tumbuh dan berkembang, pada 2017 perpustakaan ini diikutkan dalam Lomba Perpustakaan Tingkat Desa/Kelurahan. Setelah mendapat juara I di tingkat kabupaten/kota, Independensia melaju ke skala nasional. Perpustakaan tersebut akhirnya sukses meraih juara II pada September lalu. ”Penghargaannya diterima di Hotel Lumire Jakarta,” sambungnya.
Kesusksesan tersebut, kata Richard, dilihat dari bagaimana langkah Independensia menyadarkan masyarakat tentang pentingnya membaca dan inisiasi gerakan-gerakan literasi lainnya. ”Kita dari Independensia itu sudah pernah membuat kegiatan Ternate Membaca, yang juga melibatkan kelompok mahasiswa lainnya yang terlibat didalamnya, misalnya Pilas, Literasi Jalanan dan kelompok lainnya,” tuturnya.
Selain itu, Independensia juga rutin membuka lapak buku di ruang publik, dimana mereka mendekatkan buku dan sumber bacaan lainnya kepada masyarakat. ”Jadi itulah kegiatan-kegiatannya. Kemudian ada kegiatan yang bersifat kebudayaan yang menambah nilai pada saat lomba itu, misalnya panggung kebudayaan tiap tahun, Kopi Sastra yang menyediakan forum diskusi, music, dan puisi setiap malam Minggu,” ungkap Richard.
Lalu ada pelatihan menulis dan kursus Bahasa Inggris gratis yang digagas Independensia. Komunitas ini juga berniat membukukan tulisan para anggotanya yang pernah terbit di media massa. ”Dan rencananya akan diluncurkan pada kegiatan Ternate Membaca tahun 2018 mendatang,” tandasnya.(tr-04/kai)