PROYEK PERUBAHAN: Penghuni PTSW Himo-Himo diajak melakukan tadabur alam di Pantai Tolire Kecil yang menjadi salah satu agenda New Hope New Life, Minggu (22/10). Foto lain, Nurlaila Husin di depan Pojok Lansia yang menjadi tempat meletakkan hasil karya para penghuni panti.NHNL FOR MALUT POST PROYEK PERUBAHAN: Penghuni PTSW Himo-Himo diajak melakukan tadabur alam di Pantai Tolire Kecil yang menjadi salah satu agenda New Hope New Life, Minggu (22/10). Foto lain, Nurlaila Husin di depan Pojok Lansia yang menjadi tempat meletakkan hasil karya para penghuni panti.NHNL FOR MALUT POST

Nurlaila Husin dan Gerakan New Hope New Life untuk Berdayakan Lansia

Selama ini, Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Himo-Himo Ternate disamakan dengan “tempat pembuangan” para lanjut usia. Kebanyakan penghuni di sana adalah orang-orang yang tak “diinginkan” lagi. Nurlaila Husin, seorang reformer Diklat Kepemimpinan Tingkat III Angkatan ke-2 Maluku Utara, mencoba mengubah stigma itu dengan menjadikan Himo-Himo sebagai pilot project gerakan lansia produktif berlabel New Hope new Life.

Ika Fuji Rahayu, Ternate

Biasanya, Panti Sosial Tresna Werdha (PTSW) Himo-Himo di Kelurahan Tabona, Kota Ternate Selatan menggambarkan kesunyian hari tua. Para penghuni yang jumlahnya mencapai 60 orang menghabiskan sebagian besar waktu dengan tidur, bercengkerama, bahkan bertengkar antarsesama penghuni.
Namun sejak beberapa pekan belakangan, suasana di Himo-Himo jadi sedikit berubah. Beberapa komunitas kerap berkunjung ke sana. Mulai dari Ternate Heritage Society (THS), The Brilliant @rt, Komunitas Possitive Passion, Komunitas Kampoeng Warna, Parada Collection, Khangen Water Ternate, hingga Komunitas Kopi Bahasa. Tak ketinggalan Komunitas Wisata, BPJS Maluku Utara, hingga Gramedia Store.
Mereka datang tak sekadar melihat-lihat. Para pengunjung ini sekaligus memanfaatkan kemampuan mereka masing-masing untuk diaplikasikan kepada penghuni Himo-Himo. Seperti Komunitas Kampoeng Warna yang menggelar edukasi melukis dan sketsa wajah para lansia, Parada Collection pimpinan Ulfa Zainal yang mengajarkan keterampilan mengolah sampah menjadi kerajinan bernilai seni, juga THS yang mengajak para kakek dan nenek berwisata sejarah di benteng peninggalan Belanda, Oranje. Para lansia juga diladeni secara pribadi melalui konseling yang dilakukan Psikolog Edlin Juliany Pris, diajak senam tiap Jumat pagi bersama BPJS Malut, dan diikutkan terapi air Khangen dengan Khangen Water Ternate.
Kegiatan-kegiatan yang mencakup bermacam bidang ini membuat para lansia begitu bersemangat. Meski tak semuanya dapat terlibat lantaran sebagian lainnya tak cukup kuat meninggalkan tempat tidur mereka. Semua komunitas yang datang sengaja direncanakan sedemikian rupa agar mampu mengasah tiga aspek kemampuan manusia, yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tak heran, gesture tubuh yang menenangkan seperti memberikan pelukan hangat kepada para lansia pun mudah ditemukan.
Pada tiap-tiap kunjungan, wajah-wajah ceria penghuni Himo-Himo kini mudah ditemukan. Salah satu hasil yang terlihat secara fisik adalah adanya Pojok Lansia. Pojok ini berisi karya-karya tangan para penghuni yang diajarkan komunitas seni. Selain hiburan, kedatangan komunitas juga membantu penghuni Himo-Himo mengeksplorasi potensi diri mereka.
Kedatangan sejumlah komunitas ke Himo-Himo tersebut merupakan hasil koordinasi Nurlaila Husin, Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Provinsi Maluku Utara. Nurlaila merupakan salah satu reformer Diklat Kepemimpinan Tingkat III Angkatan ke-2 Malut. Peserta Diklat diwajibkan merancang sebuah proyek perubahan yang berdampak langsung terhadap masyarakat. Magister Administrasi Publik ini lantas mencetuskan program bernama New Hope New Life. ”Saya ingin mengubah stigma bahwa lansia yang masuk ke Himo-Himo sama halnya dengan “tinggal menunggu ajal”. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Nyatanya, dengan sedikit dorongan, masih banyak yang bisa mereka kerjakan. Ada yang pandai menyulam, ada yang bisa gambar,” tuturnya kepada Malut Post kemarin (24/10).
Keinginan Nurlaila untuk memberdayakan penghuni Himo-Himo timbul dari banyaknya pemberitaan miring tentang panti tersebut. Minimnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap penghuni panti membuat lansia Himo-Himo menjadi komunitas yang asing, bahkan dengan warga sekitar. ”Ada paradigma yang harus diubah. Kebetulan, pekerjaan membuat passion saya juga tidak jauh-jauh dari komunitas yang butuh sentuhan secara sosial. Akhirnya muncul niatan untuk melakukan sesuatu yang impact-nya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat yang masuk dalam penyandang masalah kesejahteraan sosial,” terang ibu dari Kartika Putri Hanafi dan Rizky Putra Hanafi tersebut.
Bagi alumni Universitas Gadjah Mada itu, tak ada kendala berarti dalam merangkul komunitas maupun para lansia. Komunitas yang disurati pun menyambut positif proyek perubahan Nurlaila. Menurutnya, dua dunia yang berbeda itu sama-sama saling membutuhkan. Nurlaila menjadi jembatan yang menyatukan dalam momentum yang tepat. ”Setelah mereka bersedia, saya melakukan sosialisasi proyek perubahan ini bersama stakeholder untuk menyesuaikan jadwal masing-masing volunteer,” kisahnya.
Istri Abdul Aziz Hanafi ini menuturkan, New Hope New Life hanyalah program jangka pendek dan menengah yang digagasnya. Program yang melibatkan puluhan relawan itu diharapkan menjadi pencetus bagi gebrakan-gebrakan selanjutnya. Diantaranya adalah menjadikan Himo-Himo sebagai destinasi wisata lansia. ”Itu program jangka panjangnya. Pertama, para lansia di sana sudah punya hasil kerajinan yang bisa dipamerkan maupun dijual. Selain itu, dengan banyaknya kegiatan produktif yang kontinu, nantinya Himo-Himo bukan lagi tempat “pembuangan” lansia, tapi sudah menjadi tempat yang sengaja dituju untuk berbagi kegiatan produktif. Bahkan lansia lain yang tidak tinggal di Himo-Himo pun bisa berkunjung untuk bertemu dengan orang-orang seusia mereka dan mengisi waktu dengan produktif,” jabar Nurlaila.
Nurlaila bersyukur, upaya memberdayakan lansia tersebut tidak mendapat kendala berarti. Bahkan, para orangtua itu sejak awal amat bersemangat didatangi begitu banyak orang. Diajak bernyanyi dalam berbagai bahasa, berpuisi dan berpantun, atau sekadar disalami dan dirangkul hangat membuat mereka merasa berarti. Apalagi, sebagian besar penghuni panti adalah lansia terlantar. ”Kendalanya paling saat kegiatan ada yang lagi berantem, atau pas mood-nya sedang tidak bagus jadi tidak mau diajak. Tapi itu bukan masalah besar, sebab mereka memang orang-orang lanjut usia yang suasana hatinya mudah berubah-ubah. Tinggal kita saja yang pandai-pandai menghadapinya,” tandasnya seraya tersenyum.(kai)