Ditulis Tangan di Buku Batik, Baru Dipindah ke Komputer

  • Monday, Oct 30 2017
APRESIASI: Mahfud Ikhwan saat menerima plakat pemenang kategori prosa dari Richard Oh, pemrakarsa Kusala Sastra Khatulistiwa, di Jakarta (25/10).KEN PENTUNG/MARJIN KIRI FOR JAWA POS APRESIASI: Mahfud Ikhwan saat menerima plakat pemenang kategori prosa dari Richard Oh, pemrakarsa Kusala Sastra Khatulistiwa, di Jakarta (25/10).KEN PENTUNG/MARJIN KIRI FOR JAWA POS

Proses Kreatif Mahfud Ikhwan Melahirkan Dawuk, Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2017


Mahfud Ikhwan menulis Dawuk dengan semangat suka-suka berdasar kegemaran dirinya pada cerita pendekar, ludruk, dangdut, film, dan musik India serta tradisi marung. Terbantu cerita seorang kawan tentang berandal di desanya.

DIAR CANDRA, Surabaya

JANGAN pernah menyepelekan inspirasi dari sebuah sudut warung kopi. Riuh pengunjung, denting gelas beradu, sampai gesekan plastik kacang.
Dawuk, karya keempat Mahfud Ikhwan yang Rabu malam lalu (25/10) memenangi penghargaan bergengsi Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK), lahir dari atmosfer seperti itu. ”Jadi, Dawuk ini upaya main-main dari kesukaan saya pada cerita pendekar, ludruk, dangdut, film, dan musik India serta tradisi marung di warkop,” kata Mahfud ketika dihubungi kemarin (27/10).
Dawuk memenangi kategori prosa. Sedangkan Kiki Sulistyo dengan Di Ampenan, Apa Lagi Yang Kau Cari? berjaya di sektor puisi. Adapun Nunuk Y. Kusmiana terpilih di kategori penulis karya perdana/kedua lewat Lengking Burung Kasuari. ”Dawuk berhasil memotret dengan pas kehidupan masyarakat di pinggir hutan yang ada di kawasan pantura (pantai utara) Jawa. Ada balutan kisah silat, humor, dan roman yang sukses memberikan kritik sosial,” kata Ronny Agustinus, pemimpin redaksi Marjin Kiri, penerbit Dawuk.
Novel tentang kisah cinta ganjil mirip Beauty and The Beast itu memang mengambil latar tempat pada sebuah desa di tepi hutan yang ada di kawasan pantura Jawa. Mat Dawuk yang buruk rupa menjalin kasih dengan Inayatun, si bunga desa yang genit. Dengan Warto Kemplung sebagai narator utama. Latar waktunya maju mundur. Dari era setelah kemerdekaan sampai sekarang.
Menurut Mahfud yang telah pula melahirkan buku Aku dan Film India Melawan Dunia, rangkaian penulisan Dawuk tak sampai dua tahun. Antara November 2014 sampai Agustus 2016. Periode tersingkat dibanding kelahiran dua novel lainnya, Ulid serta Kambing dan Hujan. 
Prosesnya pun, lanjut penulis kelahiran Lamongan itu, lebih suka-suka. Cair dan menyenangkan. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada tersebut menghabiskan banyak waktunya dengan marung di Blandongan, sebuah warkop di Sorowajan Baru, Banguntapan, Bantul. Semuanya di Jogjakarta.
Sedari awal Mahfud juga sudah menargetkan Dawuk bakal tak setebal Ulid serta Kambing dan Hujan. Kalau di Ulid tebal halaman mencapai 500, lalu Kambing dan Hujan sekitar 300, Dawuk lahir hanya dengan 100 halaman.
Irfan Afifi, salah seorang kawan nongkrong Mahfud di Blandongan, membenarkan soal perbedaan perlakuan Mahfud pada novel-novelnya. Ulid prosesnya paling menyendiri. Tak pernah diperlihatkan kepada kawan-kawannya. ”Saya termasuk sedikit kawan yang ditunjukkan naskah awal Kambing dan Hujan, juga Dawuk. Saya diminta memberikan masukan dan kritik mengenai keduanya,” ungkap alumnus UIN Sunan Kalijaga itu kemarin.
Irfan menambahkan, ketika mematangkan ide kisah Dawuk, dirinya sempat bercerita kepada Mahfud tentang adanya sosok yang mirip tokoh utama Mat Dawuk di desanya. Namun, sosok pemuda tersebut jauh lebih berandal. ”Ketika Dawuk selesai, Mahfud mengucapkan terima kasih karena kisah pemuda berandal di desa saya itu. Rupanya itu memberikan pencerahan baginya,” ujarnya.
Dawuk juga dilahirkan lewat tulisan tangan Mahfud. Tidak diketik lebih dahulu. Baru setelah kisah rampung, Mahfud memindahkannya ke komputer. Buku yang digunakan Mahfud pun sangat klasik. Bersampul batik warna cokelat. ”Kenapa perlakuan novel ini terasa sangat bergaya lama? Karena Dawuk adalah kisah lama yang dituturkan kembali sehingga metode lama ini membuat tulisan lebih punya jiwa buat saya,” ungkap Mahfud.
Di antara ketiga novelnya, proses penulisan Ulid yang bercerita tentang keluarga transmigrasi merupakan yang paling berat. Sebab, Mahfud masih bekerja kantoran ketika itu. Otomatis tak punya banyak waktu marung. Kadang tengah malam atau ketika waktu kerja longgar, dia baru menulis. Tak heran jika butuh waktu enam tahun buat merampungkan Ulid. ”Mungkin karena novel pertama, saya tak membaginya kepada siapa pun. Kemudian proses nulis juga campur-campur, kadang diketik di komputer, tapi kadang juga di buku,” terang Mahfud.
Belajar dari proses Ulid itu, putra pasangan Muslihan-Mutaqiyah tersebut lebih membuka diri ketika menggarap novel kedua, Kambing dan Hujan. Roman antara Miftahul Abrar dan Nurul Fauzia itu berkelindan dengan tradisi dua organisasi besar Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Novel tersebut terpilih sebagai pemenang pertama sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2014. Ada kenangan menggelikan tentang karyanya itu yang tak akan pernah dilupakan Mahfud.
Suatu ketika, beberapa saat setelah bukunya itu terbit, Mahfud mendapat laporan dari salah seorang kawan yang tinggal di luar Jogjakarta. Di sebuah toko buku, Kambing dan Hujan tidak diletakkan di rak buku jenis sastra. ”Mungkin karena judulnya berbau hewan ternak, Kambing dan Hujan diletakkan di rak peternakan, hehehe,” kata penggemar dangdut dan film India tersebut.
Membaca Kambing dan Hujan serta Dawuk sedikit banyak mengingatkan banyak orang akan karya almarhum Kuntowijoyo. Sastrawan yang juga guru besar ilmu sejarah Universitas Gadjah Mada tersebut memang punya kekhasan karya yang bernapas religi dan magis. Sebut saja Lelaki yang Kawin dengan Peri serta Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan. ”Saya tidak keberatan jika disebut terinspirasi Kuntowijoyo. Namun, saat menyelesaikan Dawuk ini, saya membaca cerita silat Bastian Tito dan novel klasik semacam Dr Jekyll and Mr Hyde,” ungkap penggemar klub Italia AC Milan itu.
Ada pula pengaruh penulis Cile Luis Sepulveda serta sastrawan Spanyol Camilo Jose Cela. Juga inspirasi dari beberapa film. Di luar sinema India, film besutan sutradara Robert Rodriguez, El Mariachi serta Machete, adalah favoritnya.
Musik juga tak bisa dilepaskan dari proses kreatif Mahfud. Bahkan, Ulid, Kambing dan Hujan, serta Dawuk ditulisnya dengan mendengarkan genre berbeda. Saat Ulid, Mahfud mendengarkan musik-musik rock era 1970-an sampai 2000-an. Mulai The Doors, Led Zeppelin, Pink Floyd, U2, sampai Muse. Kemudian, di Kambing dan Hujan dia mendengarkan musik kasidah sampai ceramah dai legendaris KH Zainuddin M.Z. ”Kalau untuk Dawuk lagu yang saya putar setiap hari adalah Tere Bina Zindagi yang merupakan lagu film Aandhi. Juga Jab Hum Jawaan Honge lagu film Betaab,” kata Mahfud.
Kini Mahfud berencana mengambil jeda menulis sastra untuk beberapa saat. Dan akan kembali pada obsesinya yang tertunda: menulis buku sepak bola. Selama Euro 2016 lalu, Mahfud bersama karibnya, Darmanto Simaepa, adalah kolumnis rutin Jawa Pos. ”Pokoknya punya keinginan menulis dua sampai tiga buku (sepak bola). Ya, kalau tidak kesampaian satu buku lah,” ucap Mahfud, kemudian tertawa.(jpg/kai)