SIDANG: Dua terdakwa bersama empat Penasehat Hukum (PH) saat jalani sidang di PN, kemarin. SIDANG: Dua terdakwa bersama empat Penasehat Hukum (PH) saat jalani sidang di PN, kemarin.

TERNATE – Mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) Amate Fukatea dan mantan bendaharanya Nurilahi menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Ternate, Rabu (11/1). Keduanya terjerat kasus dugaan korupsi dana rutin Dispora tahun 2015 senilai Rp 980 juta. Sidang dengan agenda saksi kemarin dipimpin hakim Hendri Tobing. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan 17 saksi.
Dari sekian saksi yang hadir, Asisten Bupati Kepsul, Misba dan Kepala DPPKAD Kepsul Hardiman Teapon merupakan dua saksi penting. Pasalnya, menurut terdakwa, dua orang itu sempat meminjam uang yang bersumber dari dana rutin tersebut.
Saksi Misba yang disebut meminjam Rp 20 juta, membantah keras. Di depan hakim ia menegaskan, tidak pernah meminjam uang dari terdakwa Amate. “Kalau bilang saya pinjam, maka buktinya, tolong tunjukan,”tegasnya. Misba mengatakan, ia baru tahu kalau namanya dicatut sebagai orang yang meminjam uang setelah masalah itu diusut kejaksaan. Ia juga diperiksa kejaksaan.
Saksi Hardiman juga mengatakan hal yang sama, bahwa dirinya tidak pernah meminjam uang dari terdakwa Amate. “Justru saya ikut membantu terdakwa agar ia bisa keluar dari masalahnya. Saya berikan waktu untuk melakukan pengembalian. Dalam BAP saya katakan terima Rp 25 juta karena saya Bantu terdakwa saya. Tapi karena tidak ada pengembalian, maka saya klarifikasi lagi, karena keterangan terdakwa ini akan jerat saya ke hukum,”tambahya.
Meski dua saksi itu membantah bahwa tidak menerima uang yang bersumber dari dana rutin, terdakwa tetap bertahan pada keterangannya. Ia tetap menyebut kedua saksi itu menerima uang dari terdakwa.
Sidang akan dilanjutkan pekan depan (18/1) dengan agenda pemeriksaan saksi tambahan.(end/lex)