DITANGKAP: Pelaku saat tiba di Bandara Sultan Babullah, kemarin DITANGKAP: Pelaku saat tiba di Bandara Sultan Babullah, kemarin

Kasus pembunuhan bidan Afivah Arachman benar-benar menyita perhatian warga. Bukan saja di tempat kejadiannya, Kelurahan  Dowora, Tidore Timur Kota Tidore Kepulauan (Tikep), melainkan juga di Ternate. Hal ini setidaknya  tampak saat terduga pelaku pembunuhan, Musrad Hi Jafar tiba di Bandara  Sultan Babullah Ternate  kemarin (18/4). Pemuda  berusia 20 tahun itu nyaris dihajar warga yang ada di bandara. Beruntung aparat yang membawa Musrad dari Labuha, Halmahera Selatan    tampak sigap menghalau serangan warga.
Musrad  tiba  di Bandara Sultan Babullah dengan pesawat Wings Air sekira pukul 8.30 WIT. Dia dikawal langsung Reskrim Polres Tikep.  Tim ini  bahkan dipimpin langsung   Kepala Irwasda Polda Malut Kombes Pol.  Sam YK.  Warga yang  mengetahui informasi kedatangan pelaku secara  spontanitas berkumpul di depan pintu kedatangan.  Ketika pelaku digiring keluar, warga langsung bereaksi. “Buka  kerpus. Jangan tutup muka,” teriak salah satu warga dan diikuti beberapa warga lainnya. 
     Polisi memang sengaja menutup wajah pelaku dengan menggunakan kerpus hitam.  Pelaku yang mengenakan kaos hitam dan celana pendek kotak-kotak hitam putih menjadi sasaran cacian warga.  Warga  yang  emosi bahkan    mengejar pelaku. Salah satu warga sempat memukul pelaku.  Aksi warga ini membuat aparat berang. Seorang anggota polisi balik menampar warga yang memukul pelaku. Kondisi ini petugas mengambil langkah cepat membawa pelaku masuk mobil dan bergegas meninggalkan bandara.
     Di sisi lain, kebenaran identitas pelaku sebagaimana tertera di kartu tanda  penduduk (KTP) miliknya  ternyata diragukan. Kepala Desa Liaro, Halsel  Najarlis Mansur  menegaskan, Musrad bukan warganya. “Identitas Musrad dalam KTP yang tercantum Desa Liaro itu hanya karena kepentingan pemilihan kepala desa belum lama ini. Musrad juga bukan seorang mahasiwa. Untuk itu, sekali lagi saya sampaikan bahwa Musrad bukan warga di Desa Liaro,” kata   Najarlis kepada Malut Post kemarin. (berita terkait di halaman 19).
Sementara di Dowora, Kota Tikep, polisi masih berjaga-jaga di rumah keluarga  Musrad.  Selain mengantisipasi aksi anarkisme  warga yang emosi terhadap pelaku,  polisi juga memasng garis polisi di rumah tersebut untuk kepentingan penyelidikan.
     Lurah Dowora Husain Abd. Rahim mengimbau warganya tidak main hakim sendiri dengan merusak rumah milik kakak Musrad.  “Karena kasus ini masih dalam proses. Apa yang ada dalam rumah ini menjadi kewenangan polisi terkait kepentingan penyelidikan,” kata Husain. (mg-04/far/mg-03/fai)