DITANGKAP: Pelaku saat tiba di Bandara Sultan Babullah, kemarin DITANGKAP: Pelaku saat tiba di Bandara Sultan Babullah, kemarin

TERNATE - Musrad Hi Jafar mengaku   membunuh bidan Afivah Arachman karena kecewa cintanya ditolak. Pria 20 tahun itu juga mengaku hanya seorang diri menghabisi nyawa bidan cantik itu.
     “Yang bersangkutan (pelaku, Red) mengaku dendam karena korban menolak cintanya,” kata Kapolda Malut Brigjen (Pol) Tugas Dwi Apriyanto kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (18/4).
 Di hadapan polisi, Masrad mengaku menyatakan cintanya kepada korban pada suatu acara pesta perkawinan belum lama ini. “Setelah cintanya ditolak, dia (pelaku) mengaku langsung berniat membunuh korban,” ujar Kapolda.
Informasi yang dihimpun Malut Post dari sumber-sumber terpercaya menyebutkan motif Musrad menghabisi nyawa Afivah karena dendam setelah korban menolak cintanya. Musrad yang  tinggal tak jauh dari tempat tinggal korban rupanya jatuh  cinta sama korban. Malam sebelum korban ditemukan tewas  di kamarnya,  Musrad sempat bertemu korban.  Pertemuan mereka terjadi sekitar pukul 21.00 WIT di acara pesta perkawinan salah satu warga di Kelurahan Tomagoba.  Kamis (6/4) malam itu, Musrad yang lebih muda 4 tahun dengan korban mengutarakan isi hatinya.  Bahwa dia mencintai korban dan mengajak berpacaran. Namun korban menolak dengan ucapan yang bernada kasar. Hati Musrad  rupanya terluka malam itu.
    Dia langsung pulang ke rumahnya dan menyiapkan rencana membunuh korban. Di kamar, Musrad sempat menceritakan kepada sepupunya M Arjun Harun bahwa Afivah  menolak cintanya.   Sekira pukul 02.00 WIB, Jumat (7/4) dini hari,  Musrad pun keluar kamar menuju tempat tinggal korban di Puskesmas Pembantu (Pustu) Kelurahan Dowora Kecamatan Tidore Timur. Dia berjalan keluar dengan membawa sebuah gunting seng. Jarak tempat tinggal pelaku dengan Pustu hanya sekitar 50 meter dan masih dalam lingkungan RT 04. 
    Sesampai di Pustu, Musrad mencari jalan masuk. Dia kemudian melangkah ke belakang Pustu. Sebelum masuk  lewat pintu belakang, dia memotong tali jemuran yang ada di sekitar situ. Setelah itu,   Musrad berupaya mencongkel gerendel pintu belakang. Hampir sejam, Musrad akhirnya berhasil masuk dari arah dapur menuju kamar korban.
Dengan membawa seutas tali dengan panjang sekitar 1 meter dan gunting seng, Musrad langsung bereaksi. Aksi pertama, pelaku diduga mencabuli korban dengan meraba-raba tubuh korban.  Korban terjaga dan melakukan perlawanan. Sayangnya, pelaku lebih dulu menjerat leher korban dengan tali.  Meski begitu, korban masih tetap melakukan perlawanan. Dua jari korban putus karena diduga menahan cekikan pelaku.   Namun jeratan tali di leher  yang begitu kencang membuat korban sulit bernapas dan akhirnya tewas.  Setelah tewas, pelaku kemudian mengambil handphone Apple iPhone 6  milik korban dan kabur.
    Sekitar pukul 04.30 WIT,  Musrad kembali ke rumahnya.  Pagi sekitar pukul 07.00 WIT, dia masih sempat melakukan pekerjaan sehari-harinya sebagai buruh di salah satu toko di Pasar Goto.  Dia juga sempat balik ke lokasi Pustu setelah mendapat  pesan singkat dari sepupunya yang mengabarkan kematian Afivah.   Dengan tenang, Musrad menyempatkan diri di tengah-tengah kerumunan warga yang heboh dengan penemuan jenazah Afivah.  Baru sekitar pukul 17.00 WIT, Musrad meninggalkan Tidore menuju Ternate. Malamnya, pemuda kelahiran Wayaloar, Obi  Halmahera Selatan (Halsel) itu bertolak ke Labuha. Senin (17/4), pelarian pelaku pembunuhan sadis itu akhirnya berakhir. Ia ditangkap polisi di  Desa Labuha, Bacan, Halmahera Selatan.
Kemarin,  Musrad diamankan sementara di Mapolres Ternate sebelum diserahkan ke Polres  Kota Tidore Kepulauan (Tikep). Rencananya hari ini, pelaku dibawa ke Polres Tikep sekaligus dilakukan reka ulang.   
   
Reka Ulang
           Sementara Kapolda Brigjen (Pol) Tugas Dwi Apriyanto mengatakan polisi belum sepenuhnya percaya dengan pengakuan pelaku. “Yang bersangkutan sudah mengakui  Bahwa dia dendam setelah cintanya ditolak. Kemudian mempunyai rencana untuk menghabisi korban,” kata Kapolda. Namun menurut Kapolda, pengakuan pelaku itu masih bersifat sepihak. Untuk itu, polisi akan melakukan reka ulang untuk mendalami lebih jauh kebenaran peristiwa pembunuhan tersebut. “Untuk membuktikan kebenaran motif pembunuhan tersebut, kepolisian Polres Tikep dibantu Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimsus) Polda Malut akan melakukan reka ulang di tempat kejadian perkara (TKP),” ujar Kapolda.
Jenderal asal Surakarta itu menambahkan, pelaku juga mengaku seorang diri membunuh korban. “Tentunya kita tidak langsung percaya. Nanti kami cek lagi melalui rekonstruksi,” tandasnya.
 Dikatakan Kapolda, bila merujuk keterangan tersangka dan kondisi di TKP, dapat disimpulkan perbuatan tersebut merupakan sesuatu yang sudah direncanakan. “Bisa dikatakan pembunuhan berencana sesuai Pasal 340 KUHP,” terangnya.
Pasal 340 KUHP  menyebutkan barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan nyawa orang lain dihukum karena pembunuhan direncanakan  dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.
Kapolda menyatakan pihaknya tetap bekerja secara profesional untuk mengungkap kasus tersebut. Karena itu, dia meminta masyarakat, terutama warga Dowora agar menyerahkan kasus ini kepada polisi. Kapolda mengaku kondisi di Dowora lagi memanas pascapenangkapan tersangka.
“Karena itu, yang bersangkutan (pelaku) diamankan di Ternate dulu karena informasi yang saya terima dari Kapolres Tikep bahwa situasi di Tidore masih panas. Jadi kami hanya menghindari tindakan massa yang main hakim sendiri,” katanya.
Sementara di Tikep kemarin, Polres setempat  terlihat mulai menyiapkan ruang tahanan khusus untuk Musrad. “Ruang tahanan isolasi untuk menerima terduga Musrad. Berjaga-jaga terduga dibawa ke polres Tikep,” kata Kasat Tahanan dan Barang Bukti Polres Tidore, IPDA Irwansyah kepada Malut Post, kemarin. Polisi sendiri belum memberikan keterangan lebih jauh soal pemeriksaan  pelaku.
Kapolres Tikep  AKBP Azhari Juanda belum mau memberikan keterangan apa pun soal penangkapan Musrad. “Pak Kapolres belum mau mengomentari kasus ini.  Jadi tunggu saja,” kata Paur Humas Polres Tidore IPTU Jamal Salim kepada wartawan di Polres Tikep, Selasa (18/4).
Sementara Kasat Reskrim Polres Tikep Iptu Muhammad Hafif dan sejumlah penyidik  Polda Malut terlihat turun melakukan penggeledahan di rumah tempat tinggal Musrad. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Musrad tinggal sementara bersama kakaknya, Nurhayati Husen. Nurhayati sendiri bersama suaminya, Syafril Sarif sudah diamankan polisi ke Mapolres sejak Senin (17/4) malam lalu.  Pemilik rumah tersebut diamankan karena khawatir menjadi korban amukan warga setempat. Ikut pula saat penggeledahan di rumah tersebut, Kasat Sabhara Polres Tidore IPTU Ridwan Usman SH. Lurah Dowora Husain Abd. Rahim dan tokoh masyarakat ikut menyaksikan polisi melakukan penggeledahan. Target polisi adalah gunting seng yang dibawa pelaku saat membunuh korban. Hingga penggeledahan selesai, polisi enggan memberikan keterangan soal keberadaan gunting tersebut. “Tunggu sampai semua jelas dulu. Baru Pak Kapolres komentar,” kata Paur Humas Iptu Jamal Salim. (tr04/far/fai)

Pengakuan Pelaku ke Polisi:
-Pelaku nekat membunuh korban karena sakit hati setelah cintanya ditolak
-Pelaku hanya seorang diri membunuh korban
Sumber: Keterangan Kapolda Malut
== = =
Dugaan Kronologi Pembunuhan

Kamis 6 April 2017:
-Sekitar pukul 21.00 WIT,  pelaku bertemu korban di salah satu acara pesta perkawinan 
-Pelaku mengutarakan isi hatinya bahwa dirinya mencintai korban, namun korban menolak dengan kata-kata yang bernada kasar 
-Pelaku pulang dengan sakit hati dan berencana membunuh korban
JUMAT 7 APRIL 2017:
-Sekitar pukul 02. 00 WIT dini hari, pelaku  keluar rumah menuju tempat tinggal korban, Pustu Dowora
-Pelaku membawa sebuah gunting seng dan mencongkel gerendel pintu belakang pustu
-Sebelum masuk, pelaku memotong tali jemuran di belakang Pustu dan membawanya untuk menjerat leher korban
-Pelaku masuk dari pintu belakang dan langsung menuju kamar korban
-Pelaku sempat meraba-raba tubuh korban sebelum menjerat leher korban
-Korban terjaga dan melakukan perlawanan sengit, namun pelaku sudah lebih dulu menjerat leher korban dengan tali
-Jeratan tali di leher membuat korban sulit bernapas dan akhirnya tewas
 Setelah tewas, pelaku kemudian mengambil handphone Apple iPhone 6  milik korban dan kabur.
-    Sekitar pukul 04.30 WIT, pelaku  pelaku kembali ke rumah
-Pukul 07.00 WIT, pelaku masih sempat  buruh di salah satu toko di Pasar Goto
-Pelaku sempat balik ke lokasi Pustu setelah mendapat  pesan singkat dari sepupunya yang mengabarkan kematian Afivah. 
 -Pukul 17.00 WIT, pelaku meninggalkan Tidore menuju Ternate. –Pukul 20.00 WIT, pelaku bertolak ke Labuha

Sumber: Diolah dari berbagai sumber
== = = ==
Senin 17 April 2017: Pelaku ditangkap di Labuha
Selasa 18 April 2017:  Pelaku dibawa ke Ternate dan ditahan sementara di Mapolres Ternate