KUNJUNGAN: Kapolda Brigjen (Pol) Tugas Dwi Aprianto saat berjabat tangan dengan para Napi, kemarin. KUNJUNGAN: Kapolda Brigjen (Pol) Tugas Dwi Aprianto saat berjabat tangan dengan para Napi, kemarin.

TERNATE – Kapolda Malut Brigjen (Pol) Tugas Dwi Apriyanto bersama pejabat utamanya melakukan kunjungan ke lembaga pemasyarakatan (Lapas) kelas IIA Ternate dan rumah tahanan (Rutan) kelas IIB Ternate, Kamis (18/5). Tidak hanya petugas Lapas dan Rutan, narapidana (Napi) pun menyambut baik kunjungan jenderal bintang satu itu.
Menurut Kapolda, kunjungan di Lapas dan Rutan ini atas perintah Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, menyusul insiden Napi di Lapas Provinsi Riau yang melarikan diri belum lama ini.
Kapolda mengawali kunjungan di Lapas. Ia didampingi Kepala Devisi Permasyarakatan Kemenkum HAM Malut Suprobowati dan Plt Kepala Lapas kelas IIA Nihono Jatmokoadi. Kapolda menggelar pertemuan dengan para Napido lapangan olahraga Lapas. Terjadi dialog antara Kapolda dana para Napi. Kapolda memberikan motivasi kepada para Napi agar terus berbuat hal-hal yang positif selama hidup.
Mantan Wakil Bupati Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) Rusdan T Haruna mengawali para Napi untuk berdialog di lapangan terbuka dengan Kapolda. Menurut Rusdan, kondisi Lapas kelas IIA Ternate yang terlatak di Kelurahan Jambula itu hingga kini dalam kondisi yang kondusif, tidak seperti Lapas di daerah lain termasuk Lapas Riau. Rusdan yang merupakan penghuni Lapas itu juga menganggap kunjungan Kapolda ke Lapas tersebut merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi para Napi. Ia berharap kepala daerah dan pimpinan lembaga vertikal lainnya di Malut mengikuti jejak Kapolda untuk kunjungi Napi. Penajat di Malut harus intens berkunjung di Lapas dan Rutan agar tahu kehidupan di dua lembaga tersebut, termasuk untuk mengcover situasi terkini yang dialami para Napi. Selain itu, Napi tentu membutuhkan nasihat dari pejabat.
“Lapas Ternate ini unik, meski dalam 1x24 jam itu hanya ada sekitar lima  petugas, tapi sangat aman, karena masing-masing Napi jadi pengamanan untuk diri masing-masing. Semoga kunjungan ini tidak hanya dilakukan oleh Kapolda tapi juga dilakukan oleh petinggi-petinggi Forkopimda untuk melihat kondisi Lapas ini,”pintanya.
Suhirman M Talib, napi kasus narkotika ikut ambil bagian. Ia menyoal pemberian justice collaborator dari aparat penegak hukum. Menurutnya, aparat kepolisian sering bersikap tidak adil memberikan Justice Collaborator kepada pelaku kasus narkoba. Ada perbedaan antara Satuan Narkoba Polres Ternate dan Direktorat Reserse Narkoba Polda. Di Polres Ternate, meski ada pelaku yang ditangkap dan telah membongkar jaringan narkoba, tapi belum juga diberikan gelar justice collaborator. Padahal pelaku itu sudah ditahan selama lima bulan. Kondisi di Polres Ternate itu berbeda dengan di Polda Malut. Di Polda, apabila ada pelaku yang membongkar jaringan narkoba, langsung diberi gelar juctice collaborator. Pria yang divonis 7,4 tahun ini berharap Kapolda memberi perhatian khusus untuk Napi yang menjadi juctice collaborator. “Kalau boleh kami dapat remisi saat tiba hari besar, seperti 17 Agustus, lebaran dan lainnya,”harapnya.
Setelah berdialog dengan Napi di Lapas, Kapolda melanjutkan kunjungan di Rutan. Di Rutan, Kapolda tidak berkesempatan berdialog dengan para tahanan. Usai kunjungan, orang nomor satu di Polda Malut ini mengatakan, ia akan mamback up pengamanan di Lapas dan Rutan. Kapolda meminta pihak Lapas dan Rutan untuk memperbanyak CCTV di setiap sudut. Selain itu, kunjungan kemarin itu termasuk kerja sama dalam rangka membasmi narkoba di Lapas dan Rutan.
“Pemberantasan narkoba di Lapas dan Rutan juga menjadi konsentrasi kami, saya sudah berbisik ke pihak Lapas dan Rutan bahwa kita akan memotong dari jalur-jalur mana peredaran narkoba di Lapas dan Rutan. Kami juga komitmen bahwa tidak hanya warga sipil tapi pegawai-pegawai kami yang di dalam juga harus dibersihkan karena selama orang dalam terlibat itu akan susah bagi kita untuk berantas narkoba,”tuturnya.
Orang nomor satu di Polda Malut itu juga berjanji akan memperbantukan anggotanya khususnya tenaga medis untuk dapat memberi pertolongan dan pelayanan kesehatan di Lapas maupun Rutan. Tugas Dwi Apriyanto juga berjanji akan menghidupkan kembali program keluarga sadar hukum (Kadarkum) kepada pada Napi yang ada.
“Kalau Justice Collaborator itu nanti tergantung dari penilaian assessment. Tapi itu diberikan permasing-masing Napi, jadi tidak bisa diberikan secara kolektif,”tambahnya.
Sementara, Kepala Devisi Permasyarakatan, Suprobowati mengatakan, kunjungan Kapolda ke Lapas dan Rutan merupakan suatu pencerahan bagi devisi pemasyarakatan Malut. Pasalnya, selama ini, jarang sekali pejabat-pejabat di daerah yang berkunjung ke Lapas dan Rutan.
“Kedatangan Kapolda ini menjadi motivasi para Napi untuk berbuat yang terbaik,” katanya.
Kunjungan Kapolda tersebut juga akan ditindaklanjuti dengan MoU tentang pemenuhan beberapa kekuragan yang ada di Lapas dan Rutan seperti penambahan anggota keamanan, pelayanan kesehatan dan lain sebagainnya.
“Kunjungan Kapolda ini luar biasa karena warga binaan merasa tersanjung,” ujarnya.
Suprobowati juga bertekad untuk membantu Polda Malut dan BNNP Malut dalam memerangi peredaran narkotika di Lapas dan Rutan.
“Kami sangat berhati hati jangan sampai narkoba bisa masuk ke dalam, tapi mereka yang keluar dari persidangan itu dan masuk kembali ke Rutan itu biasanya sudah positif,”akunya.
Ia mengungkapkan, devisi pemayarakatan bersama Direktorat Narkoba Polda pernah melakukan pemeriksaan urine terhadap tahanan-tahanan yang baru kembali dari persidangan. Alhasil, dari sembilan tahanan yang keluar menghadiri sidang itu positif narkoba saat kembali ke Rutan.
“Itu mungkin karena saat mereka di luar itu mereka bisa berkomunikasi dengan jaringan-jaringan mereka. ini yang jadi dampaknya. Kami bersama Dir Narkoba Polda selalu lakukan itu. Insya Allah kedepan dengan adanya kerjasama ini kami dan kepolisian serta BNNP bisa memberantas narkoba di Lapas dan Rutan,” tutupnya.(tr-04/lex)