Kombes (Pol) Arif Budi Winofa Kombes (Pol) Arif Budi Winofa

TERNATE – Ternyata masih banyak oknum tak bertanggungjawab yang merusak terumbuh karang di Malut. Mereka merusak karang ketika membom ikan. Perilaku tidak terpuji ini lebih banyak terjadi di Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel). Bayangkan saja, di Halsel terdapat lima titik yang sering terjadi pemboman ikan, yakni di perairan Kayoa, perairan Kasiruta, perairan Bacan, perairan Obi dan perairan Bacan Timur.
Selain di Halsel, bom ikan juga terjadi di perairan Morotai, perairan Pulau Kupa-Kupa, perairan Jailolo, perairan Taliabu dan perairan Limba. 
“Yang sering ditemukan aparat itu di perairan Kasiruta. Wilayah lainnya sudah mulai berkurang, karena petugas intens melakukan patroli,”jelas Direktur Direktorat Polair Polda Malut, Kombes (Pol) Arif Budi Winofa, kemarin (10/10).
Menurutnya, untuk meniadakan perilaku bom ikan, personel Polair menggandeng tokoh agama dan tokoh masyarakat di setiap desa. Tokoh agama bertugas menyampaikan pesan-pesan religi kepada pelaku bom ikan agar takut mengulangi perbuatan buruk tersebut.
“Saya minta masyarakat yang berada di pesisir untuk mengawasi perairannya masing-masing agar terumbuh karangnya tidak dirusak pelaku bom ikan. Setiap kapal yang masuk harus diawasi ketat. Karena memang ada larangan kapal masuk di sembarangan wilayah, meski punya izin,”katanya.
Ia menjelaskan, ada pemberlakuan jalur satu dan jalur dua. “Jalur satu adalah 4 mili dari bibir pantai, sedangkan jalur dua adalah 12 mil dari bibir pantai,”jelasnya.
Kapal dengan kapasitas di atas 30 GT tidak dibolehkan melaut di 12 milil atau sekitar 20 kilometer dari bibir pantai. Pasalnya, wilayah itu hanya milik nelayan kecil.(tr-03/lex)