JAKARTA-Pungutan-pungutan tidak resmi yang dilakukan   Koperasi TKBM (Tenaga Kerja Bongkar Muat)  di kawasan pelabuhan, mulau disasar. Di pelabuhan Samarinda misalnya, polisi temukan  indikasi korupsi dengan nilai cukup besar, Rp2,4 triliun.
Pundi-pundi uang korupsi itu diduga telah dikumpulkan sejak tahun 2010 lalu. Daru hasil pemeriksaan sejumlah saksi, ketua dan sekretaris ditetapkan sebagai tersangka. "Hasil pemeriksaan terhadap 17 saksi pengguna transportasi diketahui terdapat Rp 2,4 triliun, uang hasil pemerasan," ujar Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Tipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya kepada detikcom, Minggu (16/7/2017).
Polisi telah menetapkan Jaffar Abdul Gafar selaku Ketua Koperasi Komura, sekaligus anggota DPRD Samarinda sebagai tersangka dalam kasus ini. Sekretaris Komura, Dwi Heru juga telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan."Tersangka JA dan DH menggunakan Koperasi Komura sebagai alat untuk melakukan pungli," imbuhnya.
Jaffar seharusnya memenuhi panggilan penyidik pada Kamis 13 April lalu sebagai tersangka. Tetapi ia mangkir dari pemeriksaan polisi.
Modus operandi adalah dengan memungut tarif jasa TKBM kepada para pengusaha. Koperasi Komura menetapkan tarif secara sepihak hingga merugikan para pengusaha pengguna jasa.
Padahal, bongkar muat barang di pelabuhan sudah tidak lagi menggunakan tenaga manusia, melainkan dengan menggunakan peralatan salah satunya crane. (dtc/fai)