JAKARTA – Dosen-dosen di Indonesia banyak yang memilih ambil aman. Buktinya mayoritas dosen di Indonesia hanya bergelar magister (S2). Sayangnya upaya pemerintah mencetak 14 ribu dosen bergelar doktor (S3) pada 2019 nanti sulit terwujud.
Saat ini jumlah dosen di Indonesia berkisar 250 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 155.519 orang (62,2 persen) dosen masih bergelar S2. Memang tidak salah ada dosen bergelar S2, karena itu standar minimalnya. ’’Tetapi kalau ingin meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, harus bergelar doktor,’’ kata Senior Expert Ditjen Sumber Daya Ristek-Dikti, Kemenristekdikti, John Pariwono di forum Doctoral Program Information Day Monash University kemarin (11/9).
John menuturkan saat ini jumlah dosen yang masih bergelar S1 mencapai 37.047 orang. Kemudian yang sudah bergelar doktor (S3) ada 31.554. orang. Lalu yang mencapai gelar guru besar atau profesor ada 3.011 orang. Dia menuturkan pemerintah ingin menggeser kurva dosen bergelar S2 ke S3. ’’Dilihat dari grafiknya memang jomplang. Idealnya dosen tidak stop di S2,’’ tutur dia.
Pemerintah sejatinya sudah menerapkan program memberikan beasiswa atau bantuan kuliah S3 bagi para dosen. Bahkan target pada 2019 nanti ada 14 ribu dosen yang sekarang bergelar S2 bisa melanjutkan studi di jenjang doktoral. Tetapi ternyata program menambah jumlah doktor itu sulit terealisasi.
Diantara penyebabnya adalah anggaran dari APBN yang terbatas. Menurut John setiap pemerintahan memiliki fokus pembangunan yang berbeda-beda. Kebetulan tahun ini dan 2018 nanti, fokus pemerintah adalah untuk infrastruktur. Sehingga anggaran pendidikan, termasuk didalamnya untuk kuliah S3 para dosen, juga terbatas.
Selain dipicu soal anggaran dari pemerintah yang tidak mencukupi, juga terkait dengan kesiapan dari para dosennya sendiri. Terkadang ada lowongan beasiswa kuliah doktor bagi para dosen, tetapi peminatnya sepeti. Seperti yang terlihat pada program S2 beasiswa unggulan dosen Indonesia luar negeri (BUDI-LN).
Dirjen Sumber Daya Iptek-Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti menuturkan alokasi beasiswa BUDI-LN tahun ini mencapai 500 orang. Tetapi jumlah pendaftarnya hanya 351 orang. ’’Setelah dilakukan seleksi, jumlah pendaftar itu pasti susut lagi,’’ tuturnya.
Dia berharap dosen-dosen yang masih bergelar magister memiliki semangat untuk melanjutkan studinya ke jenjang doktoral. Kemudian untuk lembaga perguruan tingginya, juga ikut aktif mendorong dosen-dosennya untuk meraih gelar doktor. Apalagi jumlah doktor memperngaruhi penilaian saat akreditasi program studi maupun lembaga perguruan tinggi.(jpg/kai)