Rudiantara Rudiantara

JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Informatika (KOminfo) Rudiantara menyadari bahwa mesin sensor internet yang akan digunakan Kemenkominfo tidak akan bisa menjaring 100 persen konten negatif. Dia mengatakan, sebagus-bagusnya mekanisme yang dilakukan, kemungkinan kebocoran pasti ada. Karena itu juga, selain melakukan aksi di hilir, Kemenkominfo juga akan bergerah di sektor hulu.

”Kami bersama Setneg, BeKraf, komunitas, NGO, korporasi, dan yang lainnya bergerak untuk meningkatkan literasi. Jadi bukan semata membangun infrastruktur fisik. Tapi juga membangun kecerdasan,” tutur Rudiantara kepada wartawan saat ditemui di Gedung DPR-RI kemarin (16/10).

Pria yang disapa Chief RA itu mengatakan, tindakan penapisan tidak cukup untuk menyikapi maraknya konten negatif. Kemenkominfo percaya bahwa perlu pelibatan pemangku kepentingan majemuk (multistakeholder) agar masyarakat Indonesia dapat mengoptimalkan Internet bagi hal yang positif dan produktif. Sekaligus meminimalisir dampak yang merugikan karena maraknya konten negatif.

Proses penapisan, kata Chief RA, pada dasarnya adalah upaya mendekati sisi hilir karena terkait erat dengan penegakan hukum. Perlu ada upaya yang berkelanjutan pada sisi hulu. Yaitu melalui edukasi literasi digital ke masyarakat umum.

”Untuk itulah maka Kemkominfo bersama masyarakat luas terus mendorong inisiasi-inisiasi pada sisi hulu tersebut. Salah satunya melalui Gerakan Nasional Literasi Digital #SIBERKREASI yang akan dideklarasikan pada 28 Oktober 2017,” terang dia.

Dengan literasi yang baik, harapannya, masyarakat bisa menetapkan mana yang bagus dan mana yang jelek. Dengan begitu, mereka akan secara otomatis meninggalkan hal jelek. Bukan semata mengandalkan penutupan dari pemerintah. Yang lebih penting, timbul kesadaran literasi yang tinggi.

”Ah, saya enggak mau baca ini. Ini menunjukan kedewasaan masyarakat. Kedewasaan bangsa. Di sisi lain, tentu pemerintah akan tetap melakukan penutupan terhadap yang jelek-jelek itu,” jelas dia.

Sebagai langkah awal, kata Chief RA, pihaknya akan fokus memberantas konten berbau pornografi. Menurutnya, konten pornografi menjadi konten negatif yang paling banyak beredar. Chief RA mengatakan, di beberapa negara, pornografi sudah menjadi industri. Pasarnya pun ada. Karena itu juga, produk yang dihasilnya sangat banyak dan dengan mudah menyebar ke negara lain. termasuk Indonesia.

”Di sana kan diperbolehkan. Ada pasarnya. Ada yang jual,” ucap dia.

Selama ini, mulai dari menteri periode sebelumnya hingga sekarang, jumlahnya situs pornografi yang ditutup Kemenkominfo sudah hampir 800 ribu situs. Namun, melakukan penelusuran untuk pemblokiran secara manual tidak efektif. Dengan adanya mesin sensor internet nanti, penelusuran bisa lebih efektif. (JPG/fai)