Berbenah Lebih Penting Ketimbang Cari Kambing Hitam

  • Monday, Oct 30 2017

POLEMIK soal siapa aktor di balik bocornya berkas salah satu pemain Persiter U-17 yang berlaga di Piala Soeratin putaran nasional masih menjadi misteri. Publik terus bertanya-tanya, siapa oknum yang mengatur terkuaknya foto ijazah asli milik Dedi Usman yang bermain menggunakan nama Andi Hamanur.
Penting memang mencari siapa kambing hitam di balik musibah yang menimpa Persiter. Namun yang tak kalah penting adalah membenahi manajemen klub yang bermarkas di Ternate itu.
Sekretaris Umum Asprov PSSI Malut Maurice Tuguis yang juga tokoh sepak bola Maluku Utara mengatakan, persoalan yang menimpa Persiter ini mestinya dijadikan pelajaran. Ia menjelaskan, setiap regulasi yang berkaitan dengan sepakbola harus dipatuhi, termasuk melarang mencuri umur bagi kompetisi kategori usia. “Ini jadi pembelajaran bagi kita semua. Setiap regulasi dalam sepakbola itu adalah mengedepankan sportifitas dan fair play. Itu maknanya sangat tajam, ada kejujuran yang juga harus diutamakan. Jadi tidak perlu lagi kita mencari siapa salah, siapa benar,” ujar pria yang akrab di sapa Ko Dit ini.
Persoalan Persiter ini, yang mesti dilakukan adalah jangan sampai naik ke Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Sejauh ini, Persiter baru diberi sanksi diskualifikasi oleh Panitia Disiplin (Pandis) dari Piala Soeratin 2017.
Menurut Maurice, Asprov PSSI Malut siap pasang dada agar klub yang berjuluk Laskar Kie Raha ini tidak mendapat sanksi sebagaimana dicantumkan dalam regulasi Piala Soeratin 2017. Untuk diketahui, dalam regulasi Piala Soeratin 2017 Pasal 29 tentang Pemain telah dijelaskan soal sanksi pemain. Termaktub dalam poin 4 adalah, setiap klub yang terbukti melakukan pencurian umur, maka pemain, pelatih dan klub akan dikenakan sanksi larangan mengikuti kompetisi atau turnamen yang diselenggarakan oleh PSSI, minimal hukuman 1 (satu) tahun dan maksimal 3 (tiga) tahun. “Ini memang kesalahan fatal. Tapi kita Asprov juga tidak tinggal diam. Kita berjuang agar tidak naik ke Komdis PSSI. Karena itu, saya harap tidak perlu lagi mencari siapa yang membocorkan masalah ini. Intinya, kita sudah salah dan melakukan pelanggaran. Ini menjadi pelajaran dan ke depan Persiter harus berbenah dan tidak lagi mengulangi hal yang sama,” terangnya.
Hal senada juga disampaikan eks Kapten Persiter yang memenangkan Piala Soeratin 1978, Luthfi Alhadar. Menurutnya, persoalan ini memang benar-benar fatal dan bisa dipastikan mendapat sanksi berat. Sebagai mantan pemain Persiter yang membawa tim itu meraih satu-satunya Piala Soeratin, Luthfi merasa amat kecewa. ”Jangan lagi menghabiskan waktu untuk mencari siapa yang membocorkan masalah tersebut di Pandis,” pintanya.
Menurut Luthfi, apa yang dilakukan oknum tersebut juga tidak salah. “Memang pengurus yang harus lebih bertanggungjawab. Kalau kita mau juara, harus yang sportif dan tidak melanggar aturan. Kalau mau jujur, orang yang melaporkan ini harus dijuluki pahlawan,” ujarnya saat dihubungi Malut Post, kemarin.
Lutfi menyayangkan, jika Persiter nanti mendapat sanksi dari Komdis. Sebab, hal itu bakal membunuh talenta-talenta muda Persiter. Menurutnya, memang semua tim bermain punya target untuk harus meraih juara. Namun, tidak mesti membunuh karir para pemain dengan cara-cara yang tidak sah.
“Menurut saya juara itu tidak penting. Yang penting adalah pemain-pemain muda kita bisa mendapat kesempatan main di tingkat nasional,” katanya.
Luthfi berharap, Persiter bisa mengambil hikmah dari kesalahan yang sudah dilakukan tersebut. ”Meski di satu sisi dapat mencederai nama baik Persiter di persepakbolaan nasional,” tandasnya.(yun)