SAMBUTAN HANGAT: Konvoi penyambutan skuad Persiter U-17 memenuhi jalanan Kota Ternate, Minggu (29/10). Meski gagal ke final, Persiter tetap disambut hangat dan mendapatkan penghormatan. HIZBULLAH MUJI/MALUT POST SAMBUTAN HANGAT: Konvoi penyambutan skuad Persiter U-17 memenuhi jalanan Kota Ternate, Minggu (29/10). Meski gagal ke final, Persiter tetap disambut hangat dan mendapatkan penghormatan. HIZBULLAH MUJI/MALUT POST

TERNATE – Skuad Persiter U-17 akhirnya kembali ke Maluku Utara pagi kemarin (29/10). Meski gagal berlaga di final Piala Soeratin 2017, tim asuhan Rahmat “Poci” Rivai itu tetap disambut hangat warga Ternate. Sepanjang jalannya konvoi penyambutan dari Bandara Babullah, Sebastian Veron cs dielu-elukan layaknya pahlawan pulang perang.
Di balik hukuman diskualifikasi yang diterima Persiter, misteri siapa aktor di balik beredarnya bukti pemalsuan dokumen administrasi sejumlah pemain Persiter masih menarik minat publik. Spekulasi terus bermunculan, disuarakan dengan viral di media sosial.
Sekretaris Umum Persiter Amin Subuh mengatakan, pengurus tetap bertanggungjawab atas persoalan yang menimpa klub kebanggaan warga Ternate itu. Menurut Amin, mekanisme pembentukan tim terdiri atas beberapa tahapan. Ia menjelaskan, setelah mendapat surat dari PSSI untuk menjadi peserta Piala Soeratin putaran nasional, pengurus langsung menggelar rapat dan memutuskan untuk ikut.
Surat dari PSSI itu lalu dibalas, berisi kesediaan Persiter untuk menjadi kontestan putaran nasional. Setelah itu, pengurus langsung membentuk manajemen tim yang disertai SK. ”Kemudian kami merekomendasikan sekitar 60 pemain, hasil scouting Persiter di beberapa turnamen lokal untuk dipanggil dan diadakan seleksi oleh pelatih atau manajemen tim yang sudah di-SK-kan. Mereka (pelatih, Red) punya kewenangan untuk mencoret atau menambah pemain dari luar. Kemudian setelah tim sudah fix langsung didaftarkan pemain dan data pemain oleh manajemen tim,” terang Amin, kemarin.
Amin mengakui, persoalan ini menjadi pukulan telak bagi Persiter untuk terus berbenah. Klub juga harus berusaha agar situasi serupa tidak terulang lagi. ”Intinya, Persiter tentu bertanggungjawab atas permasalahan ini. Kita akan upayakan agar ke depan tidak lagi terulang,” ujarnya.
Sementara manajer tim Persiter U-17 Nuryadin Rachman menyampaikan kekecewaan atas musibah yang menimpa timnya. Sebelumnya, Persiter sendiri sudah digadang-gadangkan akan memboyong trofi Soeratin 2017. Menurut Nuryadin, semua berkas pemain di-screening dari tingkat terbawah, sebelum didaftarkan ke PSSI. Bahkan, setelah terdaftar, panitia penyelenggara Piala Soeratin kembali melakukan screening. ”Saya menyimpulkan bahwa ini adalah skenario besar yang coba dilakukan oknum tertentu. Saya tidak tahu siapa, tapi yang jelas ada skenario untuk menggagalkan Persiter,” kata Nuryadin.
Nuryadin juga menjabarkan, sebelumnya ada dua pilihan yang diberikan Wakil Ketua Panitia Disiplin (Pandis) untuk Persiter. Pertama, Persiter diberi kesempatan main tapi tidak di final melainkan memperebutkan juara tiga melawan PS Sleman. Menurutnya, opsi pertama ini Persiter dihukum dengan sanksi kartu merah yang didapat Sebastian Veron. Opsi kedua, Persiter didiskualifikasi dengan kasus pemalsuan data pemain.
”Saya memutuskan untuk menolak merebut peringkat tiga. Artinya, jangan sampai publik sepakbola Maluku Utara berspekulasi ada apa dengan Persiter? Lebih baik kita kecewa, daripada kita harus mengikuti putusan Pandis yang akan membunuh kreativitas pemain,” terangnya.

Telepon Misterius
     Sejauh ini, manajemen Persiter belum blak-blakan mengeluarkan pernyataan tentang pemalsuan data yang dilakukan. Tak ada pula pihak yang tunjuk jari mengakui bahwa memalsukan dokumen adalah idenya. Namun secara tersurat Exco Asprov PSSI Malut Asghar Saleh telah mengakui soal pelanggaran tersebut dalam unggahan di akun Facebook-nya.
Dalam status yang diunggah kemarin itu, Asghar memaparkan bagaimana Persita Tangerang, tim yang dikalahkan Persiter di semifinal, akhirnya bisa mendapatkan bukti foto ijazah asli Dedi Usman. Dalam gelaran Piala Soeratin kemarin, Dedi Usman bermain di bawah nama Andi Hamanur. “Andi Hamanur” ini bahkan mencetak dua gol saat menaklukkan Persita. Sayangnya, Dedi diketahui kelahiran 1998, yang berarti tahun ini usianya sudah menginjak 19 tahun.
Lewat unggahannya, Asghar yang juga manajer Persiter U-15 itu menuturkan, oknum yang mendatangi rumah Dedi di Desa Saria, Jailolo, Halamahera Barat, untuk mendapatkan foto ijazah asli Dedi adalah seorang pelatih sepakbola bernama Mukaram Ali. Mukaram, sebut Asghar, disuruh oleh Alfian Rivai, pelatih Persiter Liga 3. Alfian sendiri adalah adik kandung Rahmat “Poci” Rivai. ”Sudah kami konfirmasi lengkap dengan video dan surat pernyataan, keduanya mengakui melakukan hal terkutuk ini. Apakah keduanya (Alfian dan Mukaram, Red) bermain sendiri? Alfian menolak untuk terbuka,” kata Asghar dalam status Facebook-nya.
Alfian Rivai yang dihubungi Malut Post kemarin membantah pernyataan Asghar. Ia memang mengakui telah menyuruh Mukaram memotret ijazah Dedi. Namun menurutnya, semua itu dilakukan setelah mendapat panggilan telepon dari seseorang bernama Amran di Sofifi. Amran mengaku sebagai Manajer Pra-PON Remaja yang dibentuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Malut. ”Awalnya saya ditawari untuk melatih tim Pra-PON, tapi saya tolak karena masih fokus melatih Persiter (Liga 3). Lalu saya diminta mencari dua pemain untuk tim Pra-PON, salah satunya Dedi Usman itu,” ceritanya.
Meski tidak mengenal siapa Amran, Alfian meminta Mukaram membantunya. Foto ijazah itu lalu dimintanya dikirimkan ke nomor Amran lewat aplikasi WhatsApp. Setelah itu, Alfian mengaku tak lagi berhubungan dengan pria misterius tersebut. ”Sebab pikir saya yang saya lakukan hanya untuk kepentingan tim Pra-PON,” tuturnya.
Alfian sendiri menyatakan telah melakukan klarifikasi ke pengurus Persiter, Jumat (27/10). Sayangnya, saat diminta memberikan nomor Amran, Alfian mengaku telah menghapusnya. ”Saya sudah jelaskan semuanya di depan pengurus Persiter. Jadi apa yang disangkakan kepada saya di FB, sengaja untuk merusak nama baik saya,” tandasnya.

Tuntut Terbuka
         Selain perang sosmed, para pendukung Laskar Kie Raha ikut mengekspresikan kemarahan dan kekecewaan atas terjungkalnya langkah Persiter di dunia nyata. Di sejumlah titik di Kota ternate, tampak terpasang spanduk provokatif sejak Sabtu (28/10) malam. Para pendukung juga membakar ban serta melakukan orasi menuntut manajemen terbuka dan diusutnya aktor-aktor di balik terhentinya langkah tim kesayangan mereka. “Aksi yang kita lakukan ini sebagai bentuk protes terhadap oknum yang sengaja menggagalkan Persiter U-17, sehingga tidak bisa mengikuti final di Piala Soeratin,” ungkap Maskur, Koordinator Warga Pencinta Persiter, di sela-sela aksi malam itu di Kampung Pisang-Maliaro.
Aksi ini, lanjut Maskur, juga sebagai bentuk dukungan terhadap anak-anak muda yang tergabung dalam Persiter U-17 dan para pengurus Persiter lainnya yang masih memiliki itikad baik mendorong semangat persepakbolaan di Malut. “Kita mendesak Ketua Umum Persiter Ternate Bapak Haji Burhan Abdurahman untuk menindak tegas oknum pengurus Persiter yang tidak bertanggungjawab,” tegasnya.(mg-04/tr-04/yun/kai)