Kadinsos Curiga Ada Bisnis Kamar di Panti Jompo

  • Wednesday, Sep 13 2017

SOFIFI - Diam-diam, Kepala Dinas Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Maluku Utara Muhammad Ismail membuat pernyataan yang cukup mengejutkan, yaitu adanya bisnis jual kamar di panti jompo himo-himo. "Saya curiga ada bisnis kamar, tapi saya cari tahu dulu. Sebab ada penghuni yang memiliki fasilitas kamar yang serba ada," kata Ismail tanpa menyebut nama penghuni tersebut di kantor DPRD Senin (11/9).
Dia menduga ada oknum petugas panti yang "bermain", menyewa kamar di panti jompo himo-himo. Sayangnya, penyewa kamar tersebut dihitung sebagai penghuni panti jompo dari keluarga yang tidak mampu.
Sambung Ismail, kondisi yang terjadi disebabkan tidak memiliki database penghuni panti jompo himo-himo sehingga tidak diketahui siapa, dan dari mana saja penghuni rumah pemerintah tersebut.
"Selama ini kami tidak punya data yang lengkap, dari mana penghuni ini berasal, apakah dia dari keluarga miskin, atau dari keluarga orang kaya," sambung Ismail lagi. Dia mengaku, database panti jompo ini persoalan klasik sebelum dirinya menjabat. "Iya sudah tiga tahun saya menjabat, tapi kami belum siapkan database itu,"akunya
Ditanya soal kasus penghuni yang diusir, dia mengaku bukan diusir, tapi karena ada perlakuan penghuni yang melebihi batas, sehingga memancing emosi petugas. "Tapi sudah diselesaikan. Tidak perlu dibesar-besarkan," singkatnya.
Beragam persoalan di panti jompo ini memdapat perhatian dari Ketua Komisi IV DPRD Provinsi (Deprov) Malut Farida Djama. Politisi Partai Golkar itu menegaskan, bagaimana panti jompo himo-himo memiliki database yang lengkap, kalau kepala dinasnya sendiri hanya sibuk baronda ke Jakarta.
Srikandi yang vokal itu menilai, selama ini dinas Sosial tidak becus mengurus panti jompo, sampai-sampai menimbulkan permasalahan antar penghuni. "Dinas tidak melakukan program apapun terhadap penghuni, mereka hanya diberikan makan minum siang malam dan menunggu ajal tiba. Padahal dinas bisa membuat program pembinaan keagamaan atau kegiatan pertanian dengan memanfaatkan pekarangan. Tapi selama ini tidak ada sama sekali," imbuhnya
Menurutnya, jika penghuni tidak disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang produktif maka jangan heran jika sering terjadi perselisihan antar sesama. "Selain itu, bisa jadi ada praktek perselingkuhan sesama penghuni. Sebab dari sisi usia mereka sudah tua, tapi keinginan birahi pasti masi ada, kalau tidak diikuti dengan pembinaan maka hal-hal kriminalisasi bisa terjadi. Rapat beberapa waktu lalu, saya sudah tegaskan, dibuatkan program untuk penghuni, namun ternyata tidak dilakukan," tukasnya. (udy)