Guru Tua, Pahlawan Nasional Dari Timur Indonesia

  • Saturday, Mar 11 2017
ALKHAIRAAT: Rapat Koordinasi teknis pelaksanaan temu alumni Abna Alkhairaat Provinsi Maluku Uatara ALKHAIRAAT: Rapat Koordinasi teknis pelaksanaan temu alumni Abna Alkhairaat Provinsi Maluku Uatara

Muhdi Alhadar
Ketua Komda Alkhairaat Ternate
   
    Melewati jalan yang jauh dengan berbagai rintangan dilakukan oleh Al-Alimul Allamah Alhabib Sayyid Idrus Bin Salim Al-djufrie, tak tanggung-tanggung dari Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah sampai Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara dilalui dengan menempuh jalan darat dengan transportasi seadanya, mulai dari berjalan kaki sampai naik gerobak, perjalanan yang harus ditempuh sampai berminggu-minggu bahkan berbulan lamanya tak menjadi keluh Sang Guru Tua (sebuah gelar yang disamatkan kepada Habib Idrus), dengan keterbatasan menggunakan bahasa lokal sang Guru Tua yang berasal dari Hadramaut tak pernah menyerah menyampaikan dakwah Islam.
    Bukan dakwah biasa sebab yang dihadapi Guru Tua adalah sebuah komunitas masyarakat Kaili  di Sulawesi Tengah yang belum mengenal ajaran Islam dengan baik bahkan tak hanya itu ikhtiar dakwah yang dilakukannya juga harus berhadap-hadapan dengan kebengisan kaum penjajah, sebab ajaran Islam yang disampaikan Sang Guru Tua dianggap membahayakan hegemoni kaum penjajah dengan konsep ajaran yang penuh dengan semangat nasionalisme dan spirit patriotisme.
    Kehidupannya adalah kehidupan ilmu, pendidikan dan dakwah di jalan Allah. Beliaulah pendiri madrasah Alkhairaat di kepulauan Timur Indonesia. Keturunan beliau adalah ad-da'I (pendakwah) atau juru dakwah. Guru Tua masuk ke Indonesia dan menetap di Pekalongan untuk beberapa waktu lamanya dan menikah dengan pasangan hidupnya Sy. Aminah binti Thalib Aljufri dan bersama menikmati pahit manisnya kehidupan. Ketika itu beliau berdagang kain batik tetapi tidak mendapat kemajuan karena cintanya kepada dunia pendidikan melebihi dari segala-galanya. Kemudian beliau meninggalkan perdagangan dan beliau pindah ke Solo, beliau dilantik sebagai Guru dan Kepala Sekolah di Madrasah Rabithah Al-Alawiyyah. Setelah beberapa tahun beliau pindah ke Jombang  dan tinggal beberapa lama di sana. Kemudian beliau memulai perjalanannya ke Timur Indonesia untuk memberi petunjuk dan berdakwah di jalan Allah hingga sampailah beliau di Palu yang kala itu bernama "Celebes" pada masa penjajahan Belanda. Beliau berasal dari keluarga yang baik, berilmu, beramal, bertaqwa dan lemah lembut. Tiada dari kalangan mereka, selain ulama yang muslih  dan da'i.
    Dalam menjalankan dakwhanya Guru Tua senantiasa memegang prinsip yang sesuai dengan firman Allah : ("serulah ke jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan peringatan yang baik serta berdialog (berdebatlah) dengan cara yang baik") dan juga dari sabda Nabi SAW : ("Mudahkanlah dan jangan menyusahkan, berilah kabar gembira dan jangan menakut-nakuti"). Dengan demikian cara penyebaran ilmu dan budaya Islam haruslah dengan jalan yang mudah dan cara yang bijak melalui pembukaan sekolah dan majlis Ta'lim untuk menghimpun anak-anak Islam.
    Bangunan sekolah yang pertama adalah di bangun atas biaya beliau sendiri di kota Palu yang sekarang menjadi Ibukota Sulteng salah satu wilayah yang terletak di Timur Indonesia, yang merupakan sekolah Islam yang pertama di Negeri Palu dan kemudian berkembang menjadi cabang-cabang mencapai ratusan madrasah tersebar di kota-kota dan kampong-kampung di bagian Timur Indonesia sampai ke bumi Maluku Kie Raha yang diberi nama "ALKHAIRAAT", dengan harapan optimis dan keberkahan dari nama tersebut yang banyak kali di sebut dalam Al-Qur'an dan secara resmi madrasah tersebut di buka pada tanggal 14 Muharram 1349 H bertepatan dengan 11 Juni 1930. dan pada peresmian itu di hadiri oleh para pemuka-pemuka Arab yang tinggal di Palu dan sebagian petinggi-petinggi negeri.
    Guru Tua telah memertaruhkan seluruh hidupnya dalam mengarungi perjalanan panjang dengan berbagai sarana ke kepulauan di sekitar Sulawesi dan kepualauan Muluku Utara untuk menyiarkan pengetahuan Islam serta pentingnya menanamkan jiwa nasionalisme dan anti penjajahan. Senantiasa berpindah dari satu pulau ke pulau yang lain menggunakan parahu sampan dengan bermacam resiko, tantangan dan bahaya yang selalu mengancam di setiap saat. akan tetapi Guru Tua yang dirahmati Allah selalu merasakan kenikmatan di antara pertaruhan jiwanya dan beliau rela memberikan apa saja meski jiwanya sekalipun. Sang Gur Tua tetap tabah dalam mengarungi pelayaran itu sampai berbulan-bulan lamanya. Dan kadang-kadang perjalanan itu di tempuh dengan berjalan kaki jika tidak mendapatkan alat-alat transportasi.
    Meski tak lahir di negeri Indonesia namun spirit ke-Indonesiaannya mampu mengalahkan orang yang lahir dan besar di Indonesia, pemahaman beliau yang dalam tentang ajaran Islam justru menguatkan rasa cinta tanah air Indonesia, sebuah sikap yang terbalik dengan beberapa kalangan yang sering membenturkan antara rasa cinta tanah air dengan spirit keberIslaman, sebab menurut Guru Tua Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman. Hal ini member isyarat bahwa pemahaman akan keyakinan kita tentang Islam sejatinya dapat meneguhkan rasa cinta tanah air dan jika tidak, maka sebenarnya ada problem dari cara keber-imanan kita
    Sebagai seorang ulama besar sekaligus nasionalis sejati ungkapan kecintaannya kepada negeri ini bisa juga dilihat dari syair beliau.  pada detik-detik
Berkibarlah bendera kemuliaan di angkasa
daratan dan gunung-gunungnya hijau
Sungguh hari kebangkitannya adalah hari kebanggaan
orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya
Tiap tahun hari itu menjadi peringatan
muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya
Tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan
dan simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih
Wahai Sukarno! Engkau telah jadikan hidup kami bahagia
dengan obatmu telah hilang penyakit kami
Wahai Presiden yang penuh berkah untuk kami
engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat
Dengan perantara pena dan politikmu kau unggul
telah datang berita engkau menang dengannya
Jangan hiraukan jiwa dan anak-anak
demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu
Gandengkan menuju ke depan untuk kemuliaan dengan tangan-tangan
tujuh puluh juta jiwa bersamamu dan para pemimpin
Pasti engkau jumpai dari rakyat kepercayaan
dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin
Makmurkan untuk Negara pembangunan materil dan spiritual
buktikan kepada masyarakat bahwa kamu mampu
Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu
dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuh..

   
KH. Drs. Adam Ma’rus, M.Pd.I
Ketua Dewan Surya NU Maluku Utara
   Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau biasa dikenal dengan “Guru Tua” atau yang biasa masyarakat Maluku Utara kenal sebagai “Habib Aljufri” merupakan tokoh pendidikan Nasioanl sekaligus juga seorang pejuang kemerdekaan. Berangkat dari latar belakang sebagai pejuang kemerdekaan Yaman (Hadramaut), Habib Idrus melihat kondisi bangsa Indonesia yang mirip dengan negara-negara Arab yang masih dijajah (Yaman masih di jajah Inggris). Munculah kesadaran habib untuk melakukan perjuangan lewat media pendidikan, habib Idrus memulai perjalanannya dari tanah jawa, kemudian ke Sulawesi tengah, Sulawesi Utara, Kalimnatan, Maluku, kemudian berlanjut ke Maluku Utara.
   Di Maluku Utara, tepatnya di kota Ternate, habib Idrus bertemu dengan Mufti Kesultanan Ternate yakni habib Hasyim Albaar atau yang biasa dikenal dengan sebutan Tuan Guru Kota Malibuku, habib Hasyim menyarankan agar habib Idrus membuka pendidikan madrasah di Sulawesi Tengah karena di Ternate sudah ada ulama-ulama yang mengjarkan ibu agama.
   Perjuangan habib Idrus dalam melakukan pendidikan demi mencerdaskan anak bangsa mendapat tantangan yang sangat besar. Pada masa itu, kependudukan jepang begitu represif, beberapa kitab-kitab yang di ajarkan di Madrasah Alkhairaat disita oleh penjajah jepang, bahkan madrasah Alkhairaat mengalami terror dan pengeboman di Palu, dan pada puncaknya madrasah/sekolah Alkhairaat harus di tutup.
   Perjuangan habib Idrus lewat pendidikan tidak hanya berperan di Sulawesi tengah atau kota Palu khususnya, akan tetapi menyebar ke seluruh pelosok timur indonesia, dengan cara, habib Idrus mendatangi langsung daerah tersebut, mengajak putra daerah untuk belajar, dan mengirimkan guru-guru ke wilayah-wilayah terpencil.
   Bisa dibayangkan pada saat itu dengan kondisi transportasi dan infrastruktur jalan yang seadanya. Habib Idrus membuka pendidikan di pelosok-pelosok negeri yang bahkan –di beberapa wilayah- belum terjamah oleh pendidikan formal.
   Selain memberikan ilmu-ilmu keagamaan, habib Idrus juga mengajarkan dan menanamkan semangat nasionalisme, dengan semboyan yang sama dengan yang di dengungkan Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, yakni “Hubbul wathon, Minal Iman” atau cinta tanah air sebagian dari Iman.
   Pada akhirnya, pendidikan Alkhairaat mampu memberikan kontribusi nyata terhadap kemerdekaan Indonesia, yang ditempuh melalui perjuangan lewat media pendidikan. Alkhairaat dulu dan kini, telah mencetak manusia-manusia unggul yang memberikan pengabdiannya untuk Bangsa Indonesia. 


Mujur G. Somadayo, S.H
Ketua Panitia Temu Alumni Alkhairaat Maluku Utara
   Peranan Alkhairaat dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia melalui media pendidikan adalah nyata, dengan tersebarnya Alkhairaat di seluruh pelosok Negeri Indonesia, dari Kalimantan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua, menjadi suatu bukti bahwa kontribusi Alkhairaat begitu nyata. Ratusan ribu, bahkan jutaan kader alkhairaat yang disebut dengan Abna Alkhairaat telah tercipta dan mengabdikan dirinya kepada bangsa, Negara dan agama, sesuai dengan amanat “guru tua” dan janji setia Alkhairaat yang telah diikrarkan oleh jutaan santri Alkhairaat.
   Begitu besarnya kontribusi “guru tua” lewat perjuangannya dan lembaga pendidikan Alkhairaat sehingga menimbulkan pertanyaan besar, apa yang telah Negara berikan untuk guru tua? Apresiasi apa yang pantas Negara berikan untuk “guru tua”? dan Apa yang harus Negara lakukan untuk Alkhairaat sebagai warisan perjuangan “guru tua”? salah satu jawabannya tentu, tidak lain dan tidak bukan adalah pemberian gelar pahlawan nasional kepada “guru tua” sebagai apresiasi atas jasa, perjuangan, dan pengorbanannya.
   Pada akhirnya, sudah menjadi kewajiban bagi seluruh Abna Wal Banaat Alkhairar (putera-puteri) Alkhairaat untuk menuntut keadilan kepada Negara atas jasa “guru tua” dengan menjadikannya pahlawan nasional. Sebab, guru tua sangat pantas, dan layak untuk diberikan gelar Pahlawan nasional.


KH. Muhammad Said
Murid Kesayangan Guru Tua
   Membangun sebuah Negara harus menggunakan Ilmu dan pengorbanan Harta, itulah yang diajarkan dan dicontohkan habib Idrus bin Salim Aljufri. Sebab kebodohan adalah musuh besar suatu bangsa, oleh sebab itu, sebagai langkah awal perjuangan, maka pendidikan keagamaan dan nasionalisme sebagai “ruh” dari perlawanan terhadap penjajahan harus dibangun. Dan habib Idrus Bin Salim Al Jufri telah berhasil mewujudkannya lewat pendidikan yang dilandaskan keikhlasan dan semangat perjuangan.
   Ikhlas menjadi kunci perjuangan guru tua – habib idrus bin salim aljufri-, begitu juga yang diajarkan guru tua kepada murid-muridnya, pesan guru tua kepada muridnya ketika diutus mengajar di pelosok negeri adalah “aku utus kamu untuk mengajar, percayalah bahwa rezeki itu sudah di atur Allah”.
   Keikhlasan guru tua tersebut menciptakan kader-kader Alkhairaat yang unggul disemua bidang, sekaligus pengabdian guru tua kepada bangsa dan Negara Indonesia menjadi Inspirasi bagi jutaan kader Alkhairaat. Pada akhirnya, keikhlasan atas perjuanga sudah selayaknya mendapatkan penghargaan dari Negara.