Posisi Cagub Seakan Hanya Milik Figur Tertentu


Pemilihan gubernur (pilgub) Malut akan dilaksanakan tahun 2018 nanti. Sudah jauh-jauh hari sebelumnya, sejumlah figur mendeklarasikan diri maju bertarung. Tapi, peta sementara ini berbeda dengan sebelumnya. Betapa tidak, sebagian besar lebih memilih menuver calon wakil gubernur (cawagub). Lihat saja baliho sejumlah figur yang dipasang di tepi jalan. Bahkan ada juga yang memposting di media sosial. Praktis, hanya empat nama yang mendeklarasikan diri sebagai calon gubernur (cagub). Mereka adalah mantan Bupati Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) Namto Hui Roba, mantan Bupati Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), Gubernur Malut Abdul Gani Kasuba, Wali Kota Tikep Capt. Ali Ibrahim dan anggota DPD RI Abdurahman Lahabato.
Sementara lebih dari 12 orang yang hanya berani melirik calon orang nomor dua di Pemprov Malut. Banyaknya figur yang hanya mendeklarasikan diri sebagai cawagub, terlihat semacam gejala. Beberapa pengamat politik di Malut mengatakan, rata-rata figur lebih memilih kursi nomor dua, karena berpikir realistis. Artinya, mereka memiliki banyak keterbatasan, seperti finansial, tidak punya akses kuat pada lintas partai dan tidak memiliki relasi hebat di nasional. Tapi, pada skala lokal, menurut lebih dua pengamat politik, para figur ini dikenal publik karena memiliki modal sosial.
Banyaknya figur yang pasang badan untuk merebut kursi nomor dua di Malut terlihat massif setelah politisi Partai Golkar Ahmad Hidayat Mus (AHM) menggelar pertemuan di Royal Restaurant belum lama ini. Pada pertemuan itu, AHM mengundang sejumlah tokoh. Di depan para tokoh, ia mendeklarasikan diri maju bertarung pada pilgub 2018 nanti. Pada saat itu juga, AHM menyatakan bahwa calon wakilnya akan ditentukan melalui survey. Usai pertemuan itu, satu per satu figur di daerah ini muncul dan terbilang menjamur. Sejumlah figur bahkan melakukan cara yang tak terduga. Mereka membuat stiker dan spanduk. Dalam stiker dan spanduk itu, gambar mereka didekatkan dengan gambar AHM.
Selain itu, menjamurnya figur yang hanya manuver cawagub, seakan posisi cagub sudah dipesan jauh-jauh sebelumnya sehingga tidak bisa diganggu. Lebih eksplisit, seakan-akan posisi cagub hanya milik AHM dan AGK.
Bagaimana pun bentuk dinamika pilgub, publik hanya berharap siapa saja yang terpilih nanti mampu mengubah wajah daerah dari sisi infrastruktur, mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, mengurangi praktik tidak pidana korupsi, membasmi narkoba, premanisme, prostitusi dan yang paling penting adalah mampu mensejahterakan masyarakat.
Setelah terpilih nanti, tetaplah menjadi pribadi yang sebagaimana anda melakukan konsolidasi untuk merebut hati masyarakat. Bukan pribadi baru. Memang terbilang sulit, dan ini pasti dirasakan sendiri oleh semua figur yang sudah menyatakan diri maju bertarung, bahwa mempraktikkan Dramaturgi (rekayasa kehidupan) di tengah-tengah masyarakat justru sang figur tidak pernah memunculkan pribadi yang sebenarnya. Foto di baliho didesain begitu bagus, demi mempengaruhi publik untuk yakin bahwa figur A, B dan C sangat berwibawa. Praktik Persuasi Subliminal ini masih terbilang jitu. Apalagi para figur membentuk pribadi barunya yang menyesuaikan dengan budaya masyarakat setempat. Semoga masyarakat Malut sudah bisa mampu menyadari figur mana yang harus dipilih untuk kepentingan daerah dan semua masyarakat di Malut.(*)