Masyarakat Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) digegerkan dengan penangkapan tiga pria, Kamis (4/5) lalu, oleh Polres Halsel. Pasalnya, ketiganya ternyata merupakan anggota sindikat pembunuh bayaran. Hal ini dipastikan dari hasil pendalaman polisi dari satu pelaku yang tertangkap paling awal.
Dalam konferensi pers yang digelar Polres Halsel, terungkap bahwa ketiga pria tersebut sudah menjadi target operasi (TO) Reskrim Polres Halsel. Ketiganya disebut terlibat dalam penembakan La Nurdin, warga Babang, Bacan Timur, Januari lalu. Keberhasilan Polres Halsel kali ini diharapkan menjadi catatan awal kinerja polisi di sana menuntaskan sejumlah kasus pembunuhan yang hingga kini belum terungkap.
Kapolres Halsel AKBP Zainuddin Agus Binarto mengungkapkan, terbongkarnya sindikat pembunuh bayaran di Halsel bermula dari penangkapan Babay Lukman Syah, 29. Pria asal Bau-Bau itu diringkus di Pelabuhan Habibi, Bacan, lantaran menodongkan pistol pada salah satu motoris //speed boat// rute Doko, Kasiruta-Labuha, Bacan. Sebelum ditangkap pekan lalu, Babay sendiri sudah lama diintai lantaran dicurigai menjadi pelaku penembakan La Nurdin.
Kecurigaan tersebut terbukti setelah Babay diringkus. Barang bukti (BB) pistol yang disita dari tangannya membongkar keterlibatannya. Proyektil peluru dari tubuh korban dengan proyektil di senjata api (senpi) Babay ternyata cocok. "Dari hasil pengakuan BLS, diakui kalau aksi penembakan di Babang dilakukan bersama dua temannya yakni SS dan AMH atas suruhan LU dan WM, warga Buton yang berdomisili di Labuha," terang Agus.
Awalnya, Babay bersama dua rekannya, Sudirman Said, 22, warga Doko, dan Anton M Hasim, 33, warga Sambiki, Obi, menerima pesanan dari pasangan suami istri LU, 80, dan WM, 70, untuk membunuh La Nurdin. Latar belakang pembunuhan ini adalah dendam. ”Mereka dibayar sebesar Rp 30 juta untuk menghabisi La Nurdin, warga Babang, namun korban masih selamat,” ungkap Kapolres yang didampingi Kasat Reskrim AKP Syahrul Haryadi.
Mantan Kabag Ops Halsel ini menuturkan, berdasarkan pengakuan Babay tersebut, pihaknya lantas bergerak cepat memburu dan menangkap Sudirman, Anton, serta pasutri LU dan WM. Keempatnya diringkus di lokasi berbeda. Sudirman di Ternate, Anton di Obi, sementara LU dan WM di Labuha. ”Saat ini kelima orang itu, baik pelaku penembakan maupun yang menyuruh melakukan penembakan terhadap La Nurdin sudah ditahan dan akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” papar Agus.
Babay juga mengaku, usai percobaan pembunuhan terhadap La Nurdin, ia lalu kembali ke Buton. Saat berada di Buton, ia kembali mendapat pesanan untuk membunuh di Halsel. Babay pun datang lagi ke Negeri Saruma. "BLS mendapat perintah dari salah satu warga di Bacan untuk membunuh salah satu warga di Kecamatan Kasiruta. Karena itu pelaku kemudian ke Kasiruta untuk memantau situasi dan kondisi korban yang ditarget," beber Agus.
Namun, sambung Agus, belum sempat beraksi, Babay sudah lebih dulu diamankan lantaran menodong motoris. ”Sampai saat ini targetnya belum diketahui siapa. Hanya saja dia mengaku kalau ada target yang akan dia bunuh. Ini yang masih kami telusuri," tambahnya.

Menurut Agus, Babay mengaku baru sekali menjalankan aksinya. Namun setelah upaya pembunuhan pertama itu, ia telah beberapa kali mendapat pesanan untuk membunuh orang juga. "Tapi BLS ini sudah profesional. Apalagi pasca menembak dia melarikan diri ke Buton dan kembali lagi ke Halsel untuk menjalankan aksi pembunuhan yang diorder seseorang. Sasaran korban yang akan dibunuh nanti di Desa Doko dan beberapa lainnya," ungkap Kapolres. "Dia profesional, sehingga pekerjaan bersih. Namun usaha kita masih baik, Alhamdulillah. Jadi motif pembunuhannya dendam karena pernah berselisih."
Bayaran Rp 30 juta yang didapat dari upaya membunuh La Nurdin, menurut Agus, telah dihabiskan oleh Babay. Ia dan kedua rekannya masing-masing mendapat jatah Rp 10 juta. "BLS merupakan residivis, kita sudah lakukan penahanan terhadap kelima orang tersebut, tiga eksekutor dan dua penyuruh," katanya.
Akibat tindakannya, kelima tersangka dijerat pasal pembunuhan berencana Pasal 55 dan Pasal 340 KUHP dengan ancaman kurungan seumur hidup. "Ini perbuatan sudah dilakukan, walaupun korban tidak meninggal," ujar Agus.
Dalam penangkapan kali ini, Polres mengamankan BB berupa senpi rakitan laras pendek, peluru kaliber 38 psa tiga butir, peluru laras panjang 7,8 lima butir, kaliber 95 satu butir, pistol KWC dilengkapi satu magasin, dan 4 buah tabung gas serta satu kotak peluru, dua unit ponsel, senter, pisau, badik, belati, dan uang Rp 1,8 juta. "Jadi senpi tersebut didapat sewaktu masih kerusuhan, dan didapat dari Bau-Bau. Sementara peluru ini organik dari TNI/Polri," tutup Agus.(*)