PEMERKOSAAN: Pelaku yang memperkosa anak kandungnya. PEMERKOSAAN: Pelaku yang memperkosa anak kandungnya.

Hati siapapun tak akan tega melihat kondisi Lisa (bukan nama sebenarnya). Gadis 14 tahun itu terus menunduk saat memberikan keterangan pada polisi di Unit Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Ternate. Suaranya bergetar. Sebuah topi pet hitam ditancapkan dalam-dalam menutupi wajahnya yang tampak tertekan.
Di dekatnya, sang ibu MM alias Ani tak sanggup menahan tangisan. Bahkan begitu keluar dari ruangan, wanita setengah baya itu langsung menangis tersedu-sedu di pelukan salah satu kerabatnya. Saat Lisa dibawa ke rumah sakit untuk menjalani visum, Ani terpaksa dipulangkan lantaran terlampau syok.
Ekspresi trauma dan kesedihan yang ditunjukkan Lisa dan ibunya tak lepas dari kelakuan bejat sang ayah, MS alias Ong, 36. Pria tambun itu tega hati menjadikan putrinya sebagai budak nafsunya. Ya, Ong diketahui telah menggauli Lisa selama lima tahun. Aksi bejatnya dilakukan sejak gadis tersebut duduk di bangku kelas 5 saat ia berumur 9 tahun. Saat ini Lisa sendiri sudah duduk di bangku kelas X.
Informasi yang dihimpun Malut Post, Ong pertama kali menggauli putrinya saat dalam kondisi mabuk. Warga salah satu kelurahan di Ternate Utara ini memang dikenal sebagai seorang pemabuk. Bertepatan dengan kondisi rumah yang sepi lantaran istrinya tengah keluar rumah, Ong lantas merenggut kesucian korban.
Usai peristiwa traumatis tersebut, gadis kecil yang ketakutan itu tak berani buka mulut pada siapapun. Ia mengaku amat takut pada ayahnya. Ong disebutnya amat jahat saat sedang marah.
Memanfaatkan ketakutan Lisa, Ong lantas menjadikannya sebagai budak seksnya selama lima tahun. Tak terhitung lagi berapa kali pria bejat itu menggauli putrinya. Kondisi rumah yang sepi tiap kali istrinya keluar rumah membuat Ong leluasa melakukan aksi busuknya.
Perbuatan Ong baru terungkap Minggu (7/5) lalu setelah korban berani menceritakan penderitaannya pada salah satu temannya. Teman tersebut langsung melanjutkan cerita pahit tersebut pada keluarga korban. Kisah tragis itu membuat semua pihak yang mendengarnya naik pitam. Baik keluarga korban maupun warga sekitar lalu menciduk Ong dan mengeroyoknya habis-habisan.
Beruntung, pihak kepolisian keburu mengamankan pelaku yang babak belur. Ia langsung digelandang ke Mapolres Ternate, sementara keluarga korban langsung membuat laporan polisi Minggu (7/5) malam lalu. ”Sebenarnya masalah ini sudah lama dicurigai, tapi belum diketahui pasti, makanya keluarga masih menahan diri,” kata salah satu kerabat yang enggan namanya dikorankan.
Keluarga korban sendiri menolak untuk diwawancarai. Sementara tetangga sekitar rumah korban mengaku tak suka bergaul dengan pelaku. Pasalnya, pelaku kerap mabuk-mabukan dan membuat onar. ”Kalau dia (Ong) sudah mabuk, dia sering cari masalah. Makanya kurang bergaul dengan mereka,” tutur para tetangga.
Saat ini, perkara ini telah masuk penyelidikan polisi. Korban pun telah menjalani visum. Sedangkan pelaku ditahan di sel tahanan Mapolres untuk pemeriksaan lebih lanjut. ”Pelaku sementara ditahan untuk menjalani pemeriksaan,” ujar Kapolres AKBP Kamal Bahtiar.
Kapolres menyatakan, kuat dugaan masih ada korban lain tindakan bejat Ong. ”Tapi itu nanti diselidiki, apakah benar atau tidak,” katanya.

Minim Kontrol Internal
Peristiwa yang menggegerkan Kota Ternate ini juga mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Direktur Pusat Studi Perempuan dan Anak (Puspa) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) Laily Ramdhani mengecam keras peristiwa tersebut. Menurutnya, kasus pemerkosaan di lingkungan keluarga yang terjadi di Malut, khususnya di Kota Ternate, merupakan suatu kasus yang mencoreng nilai dan norma masyarakat Moloku Kieraha. ”Ini adalah kasus yang memalukan. Untuk itu pelakunya harus diberikan hukuman yang setimpal agar memberi efek jera sehingga ke depan tidak terulang lagi,” tegasnya.
Dikatakan Laily, penyebab terjadinya kasus pemerkosaan yang dilakukan ayah terhadap anak kandung ini ada beberapa faktor. Diantaranya adalah lemahnya fungsi keluarga dalam mengontrol perilaku anggota keluarganya. ”Penyebab lain adalah mental pelaku yang memang senang melakukan tindakan kekerasan seksual, termasuk kepada anggota keluarganya,” tuturnya.
Dampak dari kasus pemerkosaan, kata laily, sudah tentu akan mengundang kecaman terhadap pelaku. Oleh karena itu, selaku pemerhati perempuan dan anak, dirinya menginginkan agar pelaku dihukum setimpal. ”Sementara dampak bagi korban sendiri, tentunya akan meninggalkan penderitaan panjang terutama bagi masa depan sang anak dan rasa malu bagi lingkungan sosialnya,” tutup dosen UMMU itu.(*)