Pemerintah Kota Ternate intens melakukan upaya menjaga stabilitas pangan jelang Ramadan dan Idulfitri. Melalui Bappelitbangda Kota Ternate yang berada dalam tupoksi perencanaan, Pemkot melakukan koordinasi baik dengan Tim Pengendalian Inflasi, kerjasama Segitiga Emas Ternate-Tidore-Halbar, maupun dengan instansi dan lembaga terkait. Rabu (17/5) Bappelitbangda Kota Ternate melakukan dua forum diskusi dalam upaya menciptakan multi strategi untuk mengamankan pangan. Langkah ini sebagai upaya mengendalikan inflasi di satu sisi dan menjamin kenyamanan warga kota melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadan.

Diskusi pagi hingga siang digelar di Ruang Pertemuan Bahari Berkesan dengan melibatkan SKPD terkait daerah Kerjasama Segitiga Emas. Sorenya, diskusi dilaksanakan di Cafe Taman Nukila. Forum dalam diskusi kedua ini  menghadirkan Kepala Bappelitbangda Kota Ternate Dr. Said Assagaf, SH, MM, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Maluku Utara Dwi Tugas Waluyanto, Ekonom Unkhair Dr. Mohtar Adam, Kadis Perindag Kota Ternate Nuryadin Rahman, Anggota Komisi 2 DPRD Kota Ternate Mohdar Bailussy dan perwakilan Distributor Nona Yohanis dari Firma Agung.

Berikut nukilan pandangan dan  pemikiran solutif dari dua forum diskusi yang diramu Ismit Alkatiri dari Malut Post:

 

Multi Strategi Amankan Bahan Pangan

di Momen Ramadan dan Idulfitri 

Forum Rapat Koordinasi Kerjasama Segitiga Emas yang diawali presentase tentang Roadmap (peta jalan) kerjasama tiga daerah oleh Dr. Janib Ahmad, akhirnya memfokuskan pada pembahasan program jangka pendek menyangkut upaya menjaga kestabilan bahan pangan memasuki Ramadan.

Selain membahas strategi dan langkah-langkah teknis untuk mengatur stabilitas harga bahan pokok yang biasanya cenderung meningkat di saat Ramadan dan jelang Idulfitri, forum Rakor juga mendata potensi produksi pangan khususnya sayur dan rempah-rempah dapur, ikan dan daging dari daerah sentra produksi.

Seirama dengan implementasi Kerjasama Segitiga Emas khususnya sektor pertanian dan perikanan, dua daerah sentra produksi yakni Tidore dan Halbar telah melakukan upaya sejak kerjasama ini ditandatangani tiga kepala daerah. Sementara Ternate sebagai pasar utama, selain membenahi infrastruktur ekonomi juga menelorkan kebijakan pendukung termasuk transportasi yang terkait distribusi arus barang.

Dalam Rakor itu, terungkap beberapa hal menyangkut persiapan produksi pangan. Halbar yang memprogramkan padi gogo seluas 12.010 ha, 80 persen di antaranya telah ditanam dan panen pada Juni (saat Ramadan dan memasuki Idulfitri). Dengan asumsi 1 ha menghasilkan 4 ton, maka pada saat panen nanti produksi beras Halbar diestimasi mencapai 38.432 ton. Selain beras, kesiapan pangan dari sentra produksi di Halbar yang siap disuplai ke pasar utama berupa sayur mayur dan daing sapi, kedela serta jagung.

Sementara Tikep juga sudah siap panen beberapa komoditi utama seperti tomat dan bawang merah. Memasuki Ramadan, panen bawang Topo mencapai 10 ton, dan jelang Idulfitri juga 10 ton. Sementara tomat Tikep sepanjang masa panen pada Ramadan dan jelang Idulfitri mencapai 6 ton/hari. Sementara suplai ikan, selain ikan segar, diperkirakan setiap hari akan disuplai ikan asap ke beberapa pasar utama di Kota Ternate.

Rakor dalam menyiasati kebutuhan pangan di bulan suci Ramadan, merekomendasi beberapa strategi guna menjaga stabilitas harga. Selain meningkatkan koordinasi antardaerah terkait produksi dan stok bahan pangan, diperlukan kebijakan untuk standarisasi harga melalui pengawasan, penyediaan pasar grosir, serta subsidi transportasi dari sentra produksi ke pasar utama.(*)

 

 

Operasi Pasar Antisipasi Lonjakan Harga 

Forum diskusi yang digelar di Cafe Taman Nukila juga tak kalah menggembirakan. Fakta dan pemikiran yang terkuak dalam diskusi ini sangat memberi harapan bagi ketersediaan stok pangan selama Ramadan dan pengendalian inflasi yang dikhawatirkan terjadi secara tidak wajar.

Kepala Bappelitbangda Kota Ternate Dr. Said Assagaf, SH, MM ketika mengawali pembicaraan menguraikan bahwa Pemkot Ternate concern terhadap stabilitas harga dengan tujuan mengantisipasi laju inflasi dan menjamin kenyamanan umat Islam melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadan.

Pemerintah Kota, sebutnya, memiliki komitmen terhadap hal ini karena visi misi yang diemban dalam RPJMD juga terkait pertumbuhan ekonomi di satu sisi, dan di sisi lain menjadi kota yang agamais. “Ini bagian dari pelayanan publik, terutama memasuki momen Ramadan dan Idulfitri,” tandasnya.

Strategi yang dilakukan Pemkot Ternate pada tahun ini terkait stabilitas harga bahan pokok pangan dirangkai dengan implementasi program Kerjasama Segitiga Emas Ternate-Tidore-Halbar. ”Melalui kerjasama Segitiga Emas HaTTi ini, kita telah melakukan koordinasi antar-SKPD dari tiga daerah melalui program jangka pendek. Alhamdulillah, daerah mitra kerjasama yang merupakan sentra produksi pangan sudah sangat siap baik untuk suplai sayur-sayuran seperti tomat, bawang dan lainnya serta beras, ikan dan daging menghadapi lonjakan permintaan pasar pada Ramadan dan Idulfitri,” tukasnya.

Salah satu upaya pengendalian harga bahan pokok selama Ramadan dan jelang Idulfitri, Kepala Dinas Perindag Kota Ternate Nuryadin Rahman menyatakan bahwa pihaknya melakukan langkah operasi pasar. Operasi pasar ini dimaksudkan agar konsumen mendapatkan harga yang wajar. Di sisi lain, secara psikologis para pedagang tidak akan berani melakukan penimbunan bahan pokok dengan harapan kenaikan harga yang disebabkan tingginya permintaan.

Dalam melakukan operasi pasar itu, pihaknya menggandeng Dolog dan distributor terutama untuk bahan makanan yang didatangkan dari luar provinsi seperti beras, gula, terigu, mentega, susu dan lain-lain. Sedangkan untuk bahan sayur mayur dan Barito (bawang-rica-tomat), Disperindag juga membangun koordinasi dengan para pelaku usaha di sentra-sentra produksi. “Kami juga akan turun ke beberapa daerah sentra produksi pangan, termasuk Subaim dan sekitarnya,” tambahnya.

Soal ketersediaan stok ini, para konsumen mestinya tidak perlu khawatir. Nona Yohanis dari Firma Agung, perusahaan distributor menyebutkan bahwa stok bahan pokok yang disiapkan pihaknya bukan saja sampai Idulfitri tapi lebih dari itu.

Ada fenomena menarik. Menurut Nona, biasanya pada saat dua minggu jelang Ramadan, para pedagang mulai borong bahan. Kenyataannya, tahun ini permintaan pasar masih wajar-wajar saja. Beberapa komoditi bahkan mengalami penurunan harga. ”Kami tetap akan men-support pemerintah dalam upaya menjamin stabilitas harga bahan pokok. Kami juga siap bersama Disperindag melakukan operasi pasar dengan harga wajar sehingga masyarakat bisa menjangkau kebutuhan tanpa kenaikan harga,” tambahnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Maluku Utara Dwi Tugas Waluyanto pada kesempatan itu menyatakan, apa yang dialami Firma Agung soal permintaan pasar yang masih stabil dalam waktu dua pekan sebelum Ramadan merupakan fenomena menarik. ”Biasanya pada momen-momen ini inflasi merupakan sesuatu yang wajar. Kalau kenyataan seperti yang disebut Firma Agung tadi merupakan kabar gembira bagi kita meski tidak gembira bagi distributor. Namun, setidaknya apabila inflasi maka kita harapkan tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya,” tuturnya.

Tentang langkah operasi pasar yang dilakukan Disperindag, Dwi Tugas Waluyanto memberi apresiasi sebagai upaya menciptakan pasar penyeimbang. ”Sangat efektif jika operasi pasar itu dilakukan di pasar sehingga secara psikologis akan meredakan niat pedagang nakal memainkan harga,” tambahnya.

Mohdar Bailussy dari Komisi 2 DPRD Kota Ternate menilai, Pemerintah Kota Ternate pada tahun ini tampaknya lebih siap dalam mengantisipasi gejolak harga bahan pokok jelang Ramadan dan Idulfitri. Dia berharap, kondisi yang baik ini akan terjaga pada sektor-sektor lain seperti minyak dan gas, energi serta air bersih. ”Kita memang dikejutkan dengan kabar soal kenaikan tarif air PDAM. Namun, kami telah menyikapi kebijakan itu agar tidak sampai mempengaruhi stabilitas harga,” tandasnya seraya menambahkan, Dekot akan terus memberikan dukungan politik dan anggaran terhadap program Pemkot yang prorakyat.

Dr. Mohtar Adam, ekonom Unkhair dalam paparannya mengutarakan perilaku konsumen yang melakukan aksi borong jelang Ramadan dan Idulfitri tidak lepas dari pengaruh kultur.  “Sejak zaman dulu, orang-orang tua kita mengumpul  bahan kebutuhan selama sebulan sebelum memasuki Ramadan. Padi, kayu bakar, kelapa dan lain-lain sudah siap dua minggu sebelum Ramadan. Kultur itu terbawa sampai sekarang meski berbagai kebutuhan dapat dibeli setiap hari. Akibatnya tradisi memborong bahan pokok itu berimplikasi pada kenaikan harga akibat permintaan pasar yang cukup tinggi,” tukasnya.

Di sisi lain, menurutnya, ada fakta yang kontradiktif. Al Qur’an  telah memperingatkan untuk tidak berlebih-lebihan, sehingga seyoginya konsumsi di bulan puasa tidak lebih dari bulan-bulan biasa. Namun, pemenuhan kebutuhan bahan pokok yang tinggi juga merupakan alasan beramal karena setiap orang berlomba-lomba menyumbang fakir miskin dan orang berpuasa dengan bahan utama makanan. “Karena itu, dibutuhkan pencerahan dari para ustadz dan da’i di masjid-masjid agar warga yang berpuasa tidak konsumtif, tapi juga kalau mau beramal tidak selamanya dengan bahan makanan,” tukasnya.

Berbagai strategi yang dilakukan pemerintah dalam menjaga stabilitas bahan pokok dan harga, menurut dia, mesti diikuti juga dengan pengawasan dan tindakan tegas aparat terhadap pedagang nakal yang menimbun bahan pokok dan sengaja memainkan harga. ”Mereka yang menimbun bahan pokok dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan besar merupakan tindakan yang lebih sadis ketimbang pengedar narkoba,” tambahnya.(*) 

 

 

Persiapan Menghadapi Ramadan

Oleh: Dwi Tugas Waluyanto

(Kepala Perwakilan BI Malut)

 

Pada Ramadan tiga tahun terakhir terjadi pada Juni-Juli. Top 10 komoditas yang mengalami inflasi pada Ramadan tiga tahun terakhir itu bervariasi.

Ramadan 2014 sampai 2016, kelompok makanan yang memicu tingginya inflasi adalah ikan malalugis/sorihi, tomat, ikan selar/tude, ikan lolosi, ikan kembung, bawang merah, cakalang, cabe rawit, dan cabe merah.

Untuk menekan inflasi pada kelompok volatile food, perludipastikan pasokan selama Ramadan dan Idulfitri. Untuk memastikan hal tersebut, perlu dilakukan operasi pasar dan sidak ke pedagang dan pemasok. Agar pengawasan lebih optimal, operasi pasar dan sidak perlu dilakukan dua kali, yakni sebelum Ramadan dan sebelum Idulfitri.

Administered Price

Menjelang datangnya Ramadan, terdapat isu jebaujab harga dari komoditas yang harganya ditentukan oleh pemerintah atau administered price. Komoditas yang diperkirakan akan mengalami kenaikan harga antara lain BBM, tarif dasar listrik, tarif PDAM. Sebagaimana diketahui, kenaikan harga pada komoditas tersebut akan memberi dampak multiplier pada kenaikan harga komoditas lainnya.

Mengingat penentuan harga BBM dan tarif dasar listrik merupakan wewenang dari pemerintah pusat, satu-satunya langkah yang dapat dilakukan adalah pemerintah perlu memberikan masukan kepada pemerintah pusat untuk tidak menaikkan harga menjelang Ramadan. Sementara untuk PDAM, TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) dapat menghimbau agar PDAM Kota Ternate untuk tidak menaikkn tarifnya. Apabila tarif mendesak untuk dinaikkan, dapat diberikan himbauan untuk tidak menaikkan harga di dekat Ramadan.

Secara umum, inflasi juga dipengaruhi oleh ekspektasi masyarakat. Untuk mengontrol ekspektasi masyarakat, perlu dilakukan langkah-langkah; 1) Membuat buletin di masjid-masjid yang berisikan himbauan untuk tidak belanja secara berlebihan di bulan Ramadan, 2) Memuat informasi terkait TPID di media massa secara rutin, 3) Penyampaian informasi oleh Pemerintah Kota terkait ketersediaan pasokan pangan, dan 4) Melakukan sosialisasi kepada pedagang untuk menjaga harga agar tidak meningkat terlalu tinggi.(*)