LITERASI: Suasana diskusi Komunitas Jarod tentang gerakan literasi, kemarin (22/9) LITERASI: Suasana diskusi Komunitas Jarod tentang gerakan literasi, kemarin (22/9)

Beredarnya berita bohong (hoax) melalui media sosial (medsos) nyaris sulit dihentikan. Tanpa disadari, bisa dibilang hoax menjadi “makanan” sehari-hari masyarakat di Negara ini, termasuk di Maluku Utara (Malut). Mirisnya, masyarakat menerima begitu gampang isi pesan hoax.
Di suatu Negara atau daerah (termasuk Malut), apabila literasinya lemah, maka sudah pasti hoax marak. Setidaknya semua pihak sadar secara kolektif, bahwa hoax hampir rata-rata memprovokasi dan menyebarkan kebencian. Ketika masyarakat ikut terpancing, lantaran percaya isi hoax, maka awal dari konflik telah terbuka.
Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, Indonesia berada pada posisi ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). (dari berbagai sumber)
Minimnya kesadaran membudayakan literasi, sudah pasti membuka ruang menyebarnya hoax. Masyarakat juga harus memiliki kesadaran untuk memverifikasi sumber bacaan. Tanpa referensi yang kuat, masyarakat akan terjebak dalam pesan hoax. 
Siapa saja tentu mengakui bahwa buku adalah jendela dunia. Kegiatan membaca buku merupakan suatu cara untuk membuka jendela tersebut agar dapat mengetahui lebih tentang dunia yang belum kita tahu sebelumnya. Atas dasar itu, kebiasaan membaca harus ditumbuhkan sejak usia dini.
Di Malut, kesadaran membudayakan gerakan literasi hanya dilakukan oleh kelompok tertentu. Pemerintah daerah bisa saja disebut tidak ambil pusing tentang literasi. Di Malut, hanya di Kota Ternate, di mana Pemkot sempat memfasilitasi beberapa kelompok untuk melahirkan kegiatan “Ternate Membaca”. Ternate Membaca digelar satu tahun sekali dan baru dua kali dilangsungkan.
Pemprov Malut, Pemkab/Pemkot harus dasar besar bahwa literasi itu penting. Bayangkan saja, ketika saat ini pemerintah daerah menggerakkan literasi di setiap kelurahan/desa, maka 5 atau 10 tahun akan datang, daerah ini memiliki kelompok muda yang punya kemampuan di atas rata-rata.
Dengan membaca, bukan hanya memperkaya pengetahuan. Tapi membaca itu juga memudahkan setiap orang untuk menulis. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik.  
Ketika pemerintah daerah mau menggerakan literasi, maka civil society di daerah ini akan memiliki kesadaran luar biasa. Kelompok non pemerintah akan melancarkan kritik yang konstruktif, ketika program pemerintah tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat. Cara civil society melayangkan kritik yang baik, bahkan termasuk memberikan masukan positif ke pemerintah, karena mereka memiliki kesadaran dan tentu punya segudang referensi. Bukan tidak mungkin lagi, hebatnya civil society di suatu daerah karena literasi daerah itu tumbuh subur.   
Gerakan literasi juga membuat masyarakat skeptis dan kritis menelaah suatu masalah. Bahkan, masyarakat akan punya kemampuan setingkat menganalisa konstruksi yang dibangun media massa.(*)