Ngobrol” Strategi, Kembangkan UKM di Kota Ternate

  • Saturday, Oct 14 2017

 

 UKM (usaha kecil menengah) terbukti mampu menjadi “benteng” saat Indonesia diterpa krisis moneter dan berlanjut krisis ekonomi pada tahun 1998. Banyak perusahaan konglomerasi gulung tikar. UKM justru kokoh dan jadi penopang ekonomi di tanah air. Saat ini, berbagai negara justru menjadikan UKM sebagai kekuatan pertumbuhan ekonomi.

 

Ternate yang merupakan kota utama di Maluku Utara juga mengandalkan perdangan dan jasa. Dua sektor ini sangat erat kaitannya dengan UKM. Pertumbuhan ekonomi Kota Ternate misalnya, pada 2016 mencapai 8,02 persen. Fakta ini berbanding lurus dengan dinamika pertumbuhan usaha kecil di kota berpenduduk sekitar 270 ribu jiwa ini.

 

Pertumbuhan UKM memberi efek terhadap ekonomi daerah. Selain membuka lapangan kerja baru, berbagai usaha kecil dan menengah—terutama industri kecil dan menengah—memberi multiplier effect baik terhadap kepariwisataan maupun sektor produksi lainnya karena banyak menggunakan bahan baku lokal.

 

Namun, dinamika pertumbuhan UKM ini belum optimal. Banyak permasalahan masih saja melilit para pelaku usaha kecil. Jika saja berbagai permasalahan itu diurai dan disiasati penyelesaiannya, maka bukan tidak mungkin sektor ini yang dominan memberi pengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Ternate dan bahkan mampu menggerek pertumbuhan ekonomi Maluku Utara.

 

Berbagai strategi coba diupayakan. Salah satunya, melalui Diklat PIM IV, salah seorang Reformer Suryaningsih, SE, Msi merumuskan model pengembangan UKM melalui Program “Ngoni Pasti Sukses” (NGObrol iNspiratIf PerkarA STrategI SUKSES). Menyiasati isu tersebut, Bappeda Kota Ternate bekerjasama dengan Propublik Malut Post mengangkat topik diskusi  tentang bagaimana upaya penguatan UKM di Kota Ternate. Diskusi ini menghadirkan narasumber Dr. H. Said Assagaf, SH, MM (Kepala Bappelitbangda Kota Ternate), Dwi Tugas Waluyanto (Kepala Perwakilan BI Maluku Utara), Mahdi Nurdin (Kepala DPM - PTSP Kota Ternate), Dr. Suryati Tjokroningrat (Akademisi Unkhair), Risdan Harly (Direktur BPRS Bahari Berkesan), dan Prof. Dr. Hadi Sirat, SE, MS  (Peneliti UKM). Berikut intisari diskusi:

 

 ----------------------------

 

 

 

Dr. H. Said Assagaf, SH, MM dalam forum itu mengatakan, berangkat dari kerangka dasar kebijakan Pemerintah Kota Ternate yang merupakan visi misi Walikota; salah satunya adalah menjadikan Ternate Kota Mandiri. Salah satu indikator untuk mewujudkan Ternate sebagai Kota Mandiri terletak pada pendapatan daerah dan tingkat pendapatan sumber-sumber yang memberi kontribusi pada pendapatan daerah.

 

Untuk mendorong pencapaian misi tersebut, Pemkot Ternate telah mengusung beberapa program prioritas di antaranya mendorong UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah). ”Saat ini kita mewnyusun KUA-PPS dan RKA 2018. Kita tentu melakukan penguatan terhadap  program prioritas berbasis UMKM dan IKM karena kota melihat ke depan, yang dapat meningkatkan PAD itu adalah UMKM dan IKM. Tentu sektor ini dapat mengatasi berbagai masalah seperti meningkatkan pertumbuhan angkatan kerja, meningkatkan pendapatan serta menekan angka pengangguran. Karena itu, kami menyatakan salut terhadap pimpinan Bank Indonesia Maluku Utara yang tidak sekadar melaksanakan fungsi pengawasan moneter namun juga turun langsung dalam memacu UMKM melalui berbagai program,” tandasnya.

 

Dia berharap forum diskusi yang mengangkat tema penguatan UKM (usaha kecil dan menengah) di Kota Ternate dapat melahirkan solusi-solusi konkrit melalui program yang berkelanjutan. “Tentu, permasalahan ini tidak hanya dalam konteks jangka pendek namun juga jangka menengah dan jangka panjang. Kami sedang menyusun Rencana Pembangunan Daerah. Tentu di dalamnya ditetapkan kerangka dasar dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, khususnya dari sektor UMKM dan IKM,” tandas Assagaf.

 

Dwi Tugas Waluyanto menyatakan, UKM sebagai ekonomi kreatif hampir di semua negara justru telah menjadi penopang utama ekonomi. Zaman dulu ada ekonomi pertanian lalu bergeser ke industrialisasi lalu masuk ke era informasi. Saat ini, eranya ekonomi kreatif seperti yang paling kelihatan di Korea. “Ekonomi kreatif itu sendiri melingkupi banyak bidang mulai dari arsitektur, fashion, kuliner, termasuk film dan seni budaya. Ternate ini ideal membangun ekonomi kreatif. Pertama jumlah penduduknya yang mencapai 250 ribu sampai 270 ribu jiwa, sarana dan prasarana sangat mencukupi. Listrik bahkan surplus yang tentu ideal untuk pengembangan ekonomi kreatif. Kemudian banyak tamu semakin banyak datang ke Ternate. Karena itu ke depan, ekonomi kreatif harus didorong dan dikembangkan di sini,” tandasnya.

 

UMKM menurut dia, harus menjadi penopang utama ekonomi karena sektor ini yang lebih banyak mengandalkan konten lokal. Dia mencontohkan Pitcan, produk kamplang Bacan yang berinovasi dalam bentuk dan kemasan—produk yang didorong Bank Indonesia berkerja sama dengan Kodim Labuha—seluruh bahan baku ikan dan sagu berasal dari Bacan. “Ini konten lokalnya 100 persen kecuali kemasannya. Ke depan inovasi seperti ini harus kita dorong karena krisis ekonomi bagaimanapun yang melanda dunia, tidak akan berpengaruh. Nah kita mesti dorong juga industri kreatif seperti fashion seperti industri tenun. Kalau mutunya kita tingkatkan, orang yang datang ke sini pasti mencari itu,” tambahnya seraya menambahkan, industri kreatif ini akan memberi dampak tinggi terhadap perekonomian daerah.

 

Bidang pertanian, menurutnya, juga perlu dikembangkan karena kondisi lahan yang sangat subur. “Meski Ternate dikatakan lahan terbatas namun masih banyak lahan terbiar nyang dapat dimanfaatkan dengan sistem integratif faming antara peternakan dan pertanian.

 

Bank Indonesia Maluku Utara sedang membuat percontohan di Pasentren Hidayatullah. Di sini, selain pertanian, BI juga menyiapkan tempat penitipan sapi. Manfaatnya, selain sapi tidak berkeliaran, kotorannya bermanfaat sebagai pupuk kandang. Lahan pertanian ini menjadi bagian dari kegiatan pendidikan. “Kita berharap, para santri selain bisa menghafal Al Qur’an, mereka juga dapat menyiram tanaman dan belajar mengelola hasil pertanian. Demikian halnya kegiatan rekreasi anak-anak SD dan SMP akan kita arahkan ke lokasi ini sehingga mereka bisa belajar,” tambahnya. Di samping itu, BI juga mendorong ekspor komoditi Maluku Utara.

 

Sementara menurut Mahdi Nurdin, mengacu pernyataan Kepala Bappelitbangda tentang visi Ternate Kota Mandiri, maka BPM PTSP Kota Ternate menjawab misi itu dalam program penguatan UKM. Dalam berbagai even, produk UKM yang tampil sesungguhnya tidak kalah dibanding daerah lain.

 

Untuk menopang IKM terutama dari sisi investasi, BPM PTSP melakukan pembinaan UMKM, mengembangkan berbagai produk lokal yang tentu merupakan bagian dari penguatan ekonomi daerah.

 

Namun, yang harus kita upayakan adalah kemasan yang lebih menarik dan aman dari segi higienisnya untuk bisa bersaing dengan produk daerah lain. “Kita contohkan sirup pala. Ada beberapa daerah sudah  produksi juga,  namun cita rasa pala masih lebih bagus dari sini,” tandasnya.

 

Di tengah spirit itu, Dr. Suryati Tjokroningrat menyatakan, sirup pala dan berbagai produk IKM cukup baik untuk pengembangan ekonomi kreatif. Namun, yang harus menjadi perhatian kita adalah dari mana bahan baku itu berasal. Sirup pala maupun manisan pala dibuat dari buah pala. “Di Maluku Utara ini perkebunan pala bisa bertahan berabad-abad tanpa pemupukan. Kesuburan tanah yang menopang daya tahan tanaman ini tidak lepas dari kontribusi buah pala yang dibiarkan petani di bawah-bawah pohon saat panen. Untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbahan baku pala ini, boleh dilakukan namun kita harus memikirkan substitusi nutrisi tanah yang mencapai 60 persen sebagai pengganti peran huah pala yang diambil untuk industri,” tandasnya.

 

Tahun 1980-an, di Sulawesi Utara ramai dengan minyak atsiri yang menggunakan daun cengkih. Saat itu, Sonder sebagai salah satu daerah sentra produksi cengkih sempat menghadapi masalah. Para petani kehilangan produksi cengkih karena tanaman tidak berbuah secara baik. Ternyata, penyebabnya adalah banyak daun cengking yang gugur sudah diambil untuk bahan baku minyak atsiri. “Jadi, terhadap pengembangan industri kreatif pala ini, kita harus carikan substitusi lain jika buah pala itu diambil,” tandasnya.

 

Dalam kaitan dengan UMKM, diperlukan suatu kebijakan dari pemerintah untuk mewajibkan penggunaan batik khusus Ternate untuk digunakan PNS. Demikian halnya instansi pemerintah lainnya wajib menggunakan perabot kantor dari produksi lokal.

 

Dari sisi permodalan, Risdan Harly menegaskan, BPRS Bahari Berkesan yang didirikan Pemkot Ternate salah satu tujuan untuk menopang modal pengusaha kecil. “Ini sudah kami wujudkan sejak BPRS beroperasi pada 2012. Kita start awal dengan menggandeng IKM-IKM yang bergabung dalam Degranasda. Dari sinergitas ini kita mengeluarkan kebijakan khusus pelaku IKM yang produknya masuk di swalayan Taranoate kita berikan modal sampai dengan 10 juta rupiah tanpa jaminan,” tuturnya.

 

Namun demikian, kelompok IKM yang jadi nasabah BPRS Bahari Berkesan ini semuanya lancar dalam memenuhi kewajiban pinjaman. Tentu hal itu membuktikan bahwa produk mereka memiliki nilai jual di pasaran. “Ini memberi spirit bagi kami untuk mencari lagi IKM-IKM lain untuk memperoleh akses permodalan. Tetapi tentunya kita berharap para pelaku IKM ini benar-benar serius melakukan aktifitas usaha agar benar-benar sukses yang tentu berimplikasi pada pengembalian modal,” tambahnya.

 

BPRS Bahari Berkesan, kata dia, akan terus men-support pelaku IKM dalam mengembangkan usaha ekonomi kreatif terutama produk-produk lokal yang ikut meransang kepariwisataan. “Ini sejalan dengan program Pemerintah Kota Ternate yang salah satunya mengandalkan jasa pariwisata,” tukasnya.

 

Sementara Prof. Dr. Hadi Sirat, SE, MS yang melakukan penelitian UKM mengakui, terkait daya saing, terdapat riset berkelanjutan yang dilakukan NUS (National Univesity of Singapore), bahwa daya saing Maluku Utara berada pada urutan ke-32 dari 33 provinsi di Indonesia. Pada sisi kontribusi UMKM, banyak negara di luar dalam hal ini Jepang dan USA termasuk di Indonesia mengandalkan kontribusi UMKM, walau dari sisi tenaga kerja luar biasa, namun dari sisi PDB masih tergolong kecil, karena dari 76 persen UMKM di Indonesia kontribusi ke PDB kurang lebih 30 persen, sementara yang usaha skala besar hanya berada di 26-27 persen kontribusinya, sehingga hal tersebut harus menjadi perhatian bersama.

 

“Penelitian World Bank, pada saat terjadinya krisis moneter 1998-2002, dimana banyak perusahaan-perusahaan besar yang kolaps, UMKM mampu bertahan pada angka hanya 2 persen yang kolaps. Dari pengalaman di Jawa Timur, dari 33 kabupaten/kota, pemberdayaan sektor UMKM dilakukan dengan beberapa strategi, pertama melakukan kerjasama dan dukungan antar stakeholder, kedua kreativitas pelaku bisnis dengan sentra-sentra produksi yang tersebar. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan dan perlunya kebijakan Dinas-dinas terkait untuk pengembangan UMKM yang memiliki nilai potensi lokal dan tenaga ahli yang mampu melatih dan mendampingi pelaku usaha kecil serta bantuan inovasi kemasan produk untuk meningkatkan daya saing usaha kecil,” tuturnya.(*)     

 

 

 

Mengusung Konsep

 

Ngoni Pasti Sukses

 

 Mengapa harus Ngobrol inspiratif? Suryaningsih, SE, Msi mengakui bahwa berbagai permasalahan utama yang dihadapi usaha kecil menengah khususnya di Kota Ternate bersifat multi dimensi, mencakup masalah internal dari setiap unit usaha dan masalah eksternal terkait masalah upaya pemberdayaan, masalah global dan masalah kemajuan teknologi informasi.

 

Peserta Diklat PIM IV yang dimentori Nuryani Amra, SSTP, Msi dan Coach Najemiah M. Amin, SPd, Msi ini mengatakan, secara internal usaha kecil menengah diperhadapkan pada keterbatasan sumber daya manusia. Ciri yang pada pelaku usaha mikro adalah kapasitas dan ketrampilan pelaku usaha yang masih rendah, sehingga hal ini menjadikan wawasan bisnis mereka menjadi sempit, semangat wirausaha masih rendah serta belum mengenal konsep manajemen usaha. Ciri umum lainnya dari pelaku usaha mikro ini adalah bahwa usaha ekonomi yang dijalankan masih bersifat konsumtif, artinya masih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan mendasar dan belum menyentuh ke konsep usaha produktif.

 

Sedangkan secara eksternal kurangnya workshop yang menyentuh terkait semangat entrepreneurship dan pola pemberdayaan usaha yang bersifat sosialisasi yang tidak terlalu menyentuh keinginan dan kebutuhan pelaku usaha. “Hal ini menjadi kewenangan pemerintah, sehingga akan mempengaruhi pengembangan sektor usaha kecil. Ditambah lagi kurangnya koordinasi antar stakeholder terkait pemberdayaan sektor usaha membuat peningkatan produktivitas usaha kecil dan menengah menjadi terhambat,” tuturnya.

 

Pembinaan dan pengembangan serta pemberdayaan usaha kecil terus dipacu demi kebebasan ekonomi di Kota Ternate. Pola kemitraan usaha dalam bentuk pendampingan, pemberian bantuan modal, berbagi pengalaman dan pengetahuan (knowledge Sharing) yang dimaksudkan untuk dapat memacu pengembangan dan pemberdayaan usaha demi pencapaian usaha kecil modern. “Di  sisi lain beberapa potensi yang ada hingga kini belum sepenuhnya dioptimalkan. Dengan peluang yang masih terbuka lebar, pengembangan potensi dan pemberdayaan usaha kecil menengah patut mendapatkan dukungan pemerintah dalam hal ini Dinas Penanaman Modal dan PTSP Kota Ternate dalam upaya peningkatan nilai investasi daerah dari sektor usaha mikro usaha mikro, kecil dan menengah,” tukasnya.

 

Kesempatan dan peluang untuk pemberdayaan dan pengembangan usaha kecil menengah dapat dilakukan melalui pembauran antarpengusaha dan pelaku usaha kecil yang dikemas dalam bentuk temu wicara atau dialog berbagi pengetahuan tentang kisah, pengalaman, ide, ilmu dan pengetahuan dalam usaha, kendala dan hambatan usaha yang kesemuanya ditujukan bagi calon pelaku atau pelaku usaha kecil menengah, untuk meningkatkan kemampuan membaca peluang pasar, menciptakan produk yang berdaya saing inovatif, yang ditunjang dengan peningkatan motivasi wirausaha serta kemampuan usaha dalam pengelolaan manajemen.

 

Pengembangan kapasitas pelaku UKM melalui “NGONI PASTI – SUKSES” ini bertujuan terjalinnya komunikasi efektif bagi pelaku dunia usaha kecil dan menengah dengan pengusaha serta pemangku kepentingan di Kota Ternate. Serta tujuan jangka pendek Terwujudnya Pengembangan Kapasitas Pelaku Usaha Kecil Dan Menengah Melalui “NGONI PASTI - SUKSES” (NGObrol, iNspiratIf PerkarA STrategI - SUKSES). Tujuan jangka menengah  terbentuknya wadah interaktif “NGONI PASTI – SUKSES” untuk mengoptimalkan komunikasi antar pelaku usaha kecil dan menengah serta masyarakat dengan pengusaha dan stakeholder sektor usaha kecil dan menengah lainnya secara dinamis dan terintegrasi, sehingga pembauran antar pengusaha dan pelaku usaha kecil yang dikemas dalam bentuk layanan penanganan masalah dunia usaha kecil dan menengah bersifat parsial dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah penyelenggaraan secara rutin pertemuan dan interaksi antar pengusaha dan calon/pelaku usaha dengan melibatkan pemangku kepentingan sektor usaha yang difasilitasi oleh DPMPTSP Kota Ternate, dengan tetap difokuskan pada kegiatan berbagi pengetahuan tentang kisah, pengalaman, ide, ilmu dan pengetahuan dalam usaha, kendala dan hambatan usaha yang kesemuanya ditujukan bagi calon pelaku atau pelaku usaha kecil untuk meningkatkan kemampuan membaca peluang pasar, menciptakan produk yang berdaya saing inovatif. Hal ini diharapkan dapat berlangsung secara kontinyu dan berkesinambungan dengan keterlibatan pihak-pihak yang lebih besar dan dapat melibatkan BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) dalam mendukung kegiatan “NGONI PASTI - SUKSES”.

 

Jadi, ngobrol inspiratif, menurutnya, perlu menjadi budaya dalam menciptakan strategi sukses bagi pelaku usaha kecil sekaligus wahana membangun sinergitas antarpelaku usaha sebagai suatu kekuatan bersama membangun ekonomi.(*)

 

 

 

 

 

APA KATA MENTOR

 

 

 

Drs. H. Ismit Alkatiri

 

(Mentor Tim Propublik MP)

 

 

 

Konsep perubahan pelaku UKM melalui “Ngoni Pasti Sukses” yang ditawarkan Suryaningsih merupakan jawaban bahwa komunikasi bisnis menjadi kekuatan terpenting dalam mengembangkan usaha. Komunikasi bisnis bisa bersifat menyerap inspirasi untuk melakukan inovasi terhadap produk.  Bahkan, komunikasi bisnis juga bisa menjadi salah satu inovasi strategis dalam meerebut pasar seluas-luasnya sebagai bagian dari menjawab kebutuhan zaman.(*)

 

 

 

 

 

Kurniawan Ardiansyah

 

(Mentor Tim Fala Tanawan Industri)

 

Melalui pertemuan Ngoni Pasti Sukses, kesimpulan yang kami tawarkan untuk peningkatan usaha kecil dan menengah, yang penting untuk diperhatikan adalah  bagaimana membangun usaha dengan berpikir kreatif, karena dari berpikir kreatif kita bisa menciptakan suatu produk atau usaha yang unik dan belum terpikirkan oleh orang lain.(*)

 

 

 

 

 

Gatot Wiyono

 

(Mentor Tim Hypermart)

 

Ide kreatif “Ngoni Pasti Sukses” yang digulirkan Suryaningsih, SE., M.Si, merupakan hal yang baru saya temui dan cukup luar biasa. Karena UKM merupakan ekonomi dasar dari suatu negara, dan kebangkitan suatu negara dilihat dari ekonominya. Sehingga prinsip dasar dalam mengembangkan usaha kecil adalah disiplin dalam menjaga kualitas usaha, ulet dan telaten dalam mengembangkan prospek usaha kita dan semangat untuk terus mau belajar demi pengembangan usaha. Satu hal yang penting yaitu kembangkan jiwa enterpreneur untuk membangun kemandirian usaha.(*)

 

 

 

Martin Sumbaga

 

(Mentor Tim Pengembangan UKM BI)

 

Permasalahan utama yang terjadi di Kota Ternate khususnya, adalah bagaimana membangun sebuah usaha dengan potensi memanfaatkan sumber daya lokal ? ide kreatif, semangat dan inovasi sangat dibutuhkan untuk membuat sebuah produk dapat bernilai jual tinggi dan sebuah usaha itu mampu berdaya saing, maka hadirnya “Ngoni Pasti Sukses” sangat luar biasa manfaatnya, karena dapat dijadikan wadah komunikasi lintas pelaku usaha untuk membuat jaringan usaha yang positif, sehingga berharap kedepannya konsep seperti ini terus dilanjutkan.(*)

 

 

 

Marwanti

 

(Mentor Tim Azallea Food Industry)

 

Hadirnya diskusi Ngoni Pasti Sukses ini membantu para pelaku usaha kecil dalam pengembangan sektor usaha yang difokuskan pada membangun semangat serta informasi usaha sektor pemasaran dan kemasan produk. Sehingga kami melalui Rumah Kemasan berkomitmen membantu para pelaku usaha kecil untuk mewujudkan sebuah produk yang berinovasi dan siap dipasarkan.(*)

 

 

 

Yang Lain di Kategori ini : « Literasi Lemah, Hoax Marak