MELANTAI: Puluhan siswa kelas IV SD Negeri 40 Ternate mengikuti proses belajar-mengajar dengan melantai lantaran kelas tersebut tak memiliki mobiler. Kondisi ini telah berlangsung selama setahun HARIYANTO TENG/MALUT POST MELANTAI: Puluhan siswa kelas IV SD Negeri 40 Ternate mengikuti proses belajar-mengajar dengan melantai lantaran kelas tersebut tak memiliki mobiler. Kondisi ini telah berlangsung selama setahun HARIYANTO TENG/MALUT POST

     TERNATE – Dunia pendidikan Kota Ternate patut mengevaluasi diri. Di wilayah pusat kota, masih ada sekolah milik pemerintah yang kekurangan mobiler. Akibatnya, siswa harus belajar di lantai. Mirisnya lagi, kondisi ini sudah berlangsung setahun lamanya.
Adalah SD Negeri 40 Kota Ternate. Sudah setahun lamanya, siswa kelas IV SD yang terletak di Jl. AM Kamarudin Kelurahan Salero, Ternate Utara itu mengikuti proses belajar-mengajar dengan cara melantai. Pantauan Malut Post kemarin (11/1), kelas tersebut dialasi tikar plastik. 38 siswa kelas itu harus berbaring tengkurap di lantai tiap kali hendak menulis. Tak ada meja dan kursi yang layak untuk mereka gunakan.
Meski belajar dalam kondisi yang memprihatinkan, para siswa terlihat serius mengikuti proses belajar-mengajar. Begitu juga dengan guru yang mengajar, tampaknya tak lagi terganggu dengan kondisi tersebut. Namun tetap saja, siswa mengeluh dengan kondisi ruang kelas mereka. Salah seorang siswa yang ditemui kemarin mengatakan belajar seperti itu membuatnya cepat kelelahan. "Belajar cuma duduk di tikar saja. Lelah juga, tidak ada tempat sandar," ungkapnya.
Menurut informasi yang dihimpun Malut Post dari salah satu orangtua siswa yang enggan namanya dikorankan, kondisi ini telah berlangsung pascarenovasi sekolah setahun lalu. Para orangtua sendiri merasa prihatin melihat anaknya belajar di lantai. ”Sangat memprihatinkan. Tentunya hal ini perlu ada bantuan dari pemerintah. Sebab ini sudah lama terjadi. Pascarenovasi sekolah mereka hingga menggunakan bangunan baru, mereka belajar beralaskan tikar," ujarnya.
Para orangtua siswa juga mengaku telah menyatakan sikap siap urunan untuk pengadaan mobiler sekolah. Hal ini, katanya, telah dibicarakan dalam rapat dengan komite sekolah beberapa waktu lalu. ”Waktu rapat itu, kami para orangtua sepakat membantu dengan memberikan sumbangan Rp 75 ribu per siswa agar bisa membeli meja dan kursi. Namun komite belum memberikan jawaban mengenai bantuan itu sampai sekarang. Mungkin takut dibilang pungli. Tapi kami orangtua ikhlas membantu,” tuturnya.
Belum adanya tanda-tanda bakal dilakukan pengadaan mobiler untuk fasilitas belajar membuat orangtua tersebut pesimis. Ia mengaku sempat hendak memindahkan anaknya ke sekolah lain yang lebih layak. ”Tapi setelah dipikir-pikir, tidak jadi untuk pindah. Karena anak kami sudah masuk kelas IV, dan juga sekolah itu merupakan salah satu sekolah unggulan dan penerapan materi dari guru-guru juga bagus dan cepat ditangkap oleh siswa," terangnya.
Kepala Sekolah SDN 40 Samin Ishak saat ditemui kemarin mengakui kondisi sekolah yang dipimpinnya. Bahkan ia menyatakan, sebelumnya ada dua kelas yang harus mengalami belajar di lantai, yakni kelas IV dan II. ”Ada dua kelas yang meja dan kursinya masih kosong dan siswa belajar menggunakan tikar. Namun di kelas II, Selasa kemarin dari Dikbud (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Red) sudah lakukan pengadaan meja dan kursi 32 pasang. Jadi yang masih kekurangan ini hanya kelas IV saja. 38 siswa itu masih belajar menggunakan tikar," tuturnya.
Menurut pria yang akrab disapa Ustad ini, saat renovasi sekolah lalu, mobiler kelas banyak yang mengalami kerusakan. ”Karena renovasi gedung tahun lalu itu, kursi milik kami pun banyak yang rusak. Akhirnya terjadi kekurangan di kelas itu," katanya.
Samin juga mengakui pernah muncul wacana sumbangan dari orangtua sebesar Rp 75 ribu. Namun karena takut bermasalah di kemudian hari, ia lantas membatalkannya. "Sebenarnya orangtua ikhlas membantu, namun saya takut melakukannya. Jangan samapi dibilang ada pungli lagi di SD Negeri 40 Kota ternate. Akhirnya saya pun koordinasi dengan Diknas dan alhamdulillah sudah diatasi satu kelas, dan tinggal kelas IV saja," terangnya.
Ia menyatakan sejauh ini telah berkoordinasi dengan Kepala Dikbud Ibrahim Muhammad. Kadis berjanji dalam waktu dekat akan segera mengisi kekurangan fasilitas di SDN 40. Selain itu, Samin juga pernah meminjam mobiler SDN 39 yang beberapa waktu lalu bangunannya juga direnovasi. ”Namun pada tanggal 4 januari kemarin, setelah bangunan sekolah mereka selesai direnovasi dan aktivitas sekolah sudah mulai berjalan lancar, mereka sudah mengambil 38 pasang kursi dan meja mereka kembali,” imbuhnya.
Samin sendiri mengaku sedih dan tak tega melihat siswanya belajar dalam kondisi seperti itu. ”Semoga segera ada bantuan dari Dikbud," harapnya.

Dikbud Dievaluasi
       Sementara Komisi III DPRD Kota Ternate yang mendapatkan informasi tentang kondisi SDN 40 dari awak media langsung turun langsung ke sekolah kemarin. Anggota Komisi III Nurlela Syarif saat diwawancarai kemarin mengatakan, temuan ini menjadi pelajaran dan catatan penting buat Dikbud. "Ini perlu menjadi catatan buat Dikbud, bahwa masalah ini perlu segera dituntaskan. Hal ini akan kami sampaikan ke Kadis nantinya," ujar politisi Partai NasDem tersebut.
Wanita yang akrab disapa Nella itu membeberkan, bukan hanya sekolah di dalam kota saja yang mengalami kekurangan mobiler. Hasil tinjauan DPRD, sekolah-sekolah di kecamatan terluar seperti Moti dan Batang Dua juga fasilitasnya masih banyak yang memprihatinkan. ”Bukan hanya kursi dan meja, alat di laboratoriumnya juga pun belum ada. Bagaimana mau majukan pendidikan di Kota Ternate, sementara peran pemerintah belum bisa menyentuh langsung pelayanan publik? Ini sangat miris. Masak masih ada sekolah yang belajar menggunakan tikar? Letaknya di pusat kota lagi," ujar Nella dengan nada kesal.
Ia menegaskan, dalam waktu dekat Komisi III akan memanggil Kepala Dikbud. ”Ini akan jadi bahan evaluasi untuk Dikbud," tegasnya.
Terpisah, Kadikbud Ibrahim Muhammad saat dikonfirmasi berjanji dalam waktu dekat sudah melengkapi fasilitas yang ada di SDN 40. "Kemarin sudah ada bantuan untuk kelas II. Dan dalam waktu dekat juga ada bantuan kursi dan meja untuk di kelas IV yang masih kurang hingga saat ini," katanya singkat.(tr-05/kai)