BENCANA: longsor terjadi di jalan menghubungkan Togafo dan Tadumaonel, Ternate Barat, Sabtu (17/6), menyebabkan bibir jalan amblas.Foto lain, banjir yang terjadi di Oba (kanan), Tikep BENCANA: longsor terjadi di jalan menghubungkan Togafo dan Tadumaonel, Ternate Barat, Sabtu (17/6), menyebabkan bibir jalan amblas.Foto lain, banjir yang terjadi di Oba (kanan), Tikep

         TIDORE – Alam sedang tak ramah. Cuaca ekstrem yang melanda Maluku Utara beberapa hari belakangan berdampak amat memprihatinkan. Bencana terjadi di mana-mana, mulai dari banjir hingga longsor dan gelombang tinggi.
Sejak Sabtu (17/6), ratusan warga Kecamatan Oba dan Oba Tengah, Kota Tidore Kepulauan (Tikep) harus berjibaku dengan genangan air setinggi 1 meter lebih. Total ada 685 rumah terendam banjir di enam desa dan satu kelurahan. Warga Desa Yehu dan Lola di Oba Tengah, serta Desa Tului, Bale, Trans Koli, Kosa, Trans Kosa, dan Kelurahan Payahe di Oba pun sempat mengungsi untuk menghindari banjir. Meski tak ada korban jiwa, kerugian materiil diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Banjir terparah terjadi di Kosa dan Trans Koli. Aliran tiga kali besar, yakni Kali Yehu, Tului, dan Kayu Laka yang meluap membuat ratusan warga harus menanggung akibatnya. Tercatat 70 rumah di Desa Yehu terendam banjir, 28 rumah di Lola, 103 rumah di Tului, 65 rumah di Bale, 186 rumah di Trans Koli, 122 rumah di Kosa, 94 rumah di Trans Kosa dan 15 rumah di Payahe. ”Sampai Minggu (18/6), warga korban banjir masih membersihkan rumah mereka,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tikep Iqbal Japono saat dikonfirmasi Malut Post, Minggu (18/6).
Bencana banjir itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIT dan mulai surut pada pukul 16.30 WIT. Malamnya usai tarawih, Wali Kota Tikep Capt. Ali Ibrahim menggelar pertemuan dengan instansi terkait. Rapat yang dipimpin Wali Kota ini dihadiri Sekretaris Kota Tikep Thamrin Fabanyo, Kapolres Tikep AKBP Azhari Juanda S.I.K, dan Dandim 1505/Tidore Letkol (Inf) Harrisal Ismail. ”Malam ini (Sabtu malam, Red) kami langsung kerahkan bantuan yang mendesak berupa air minum dan mie instan, selimut, serta mengutus tenaga medis dan dokter empat orang, dan empat mobil ambulans ke lokasi bencana,” terang Ali Ibrahim.
Ali juga menyatakan keprihatinannya atas musibah banjir yang dialami warganya pada bulan Ramadan ini. ”Saya imbau kepada masyarakat korban banjir agar tetap bersabar atas kondisi ini,” tuturnya.
Pada Minggu (18/6) pagi kemarin, Wali Kota langsung turun meninjau lokasi banjir di Oba dan Oba Tengah. 1.000 kardus mie instan dan empat truk yang mengangkut air mineral juga dikerahkan ke sana. ”Saya juga sudah instruksikan instansi terkait untuk mengidentifikasi penyebab banjir dan mencari tahu jumlah ibu hamil, balita, dan lansia yang menjadi korban banjir,” ungkapnya.
Langkah cepat juga dilakukan BPBD Tikep. Badan ini langsung menyiapkan 10 unit tenda regu dan 10 unit tenda keluarga untuk menampung warga yang mengungsi. Tenda dipusatkan di titik aman di wilayah dua kecamatan tersebut.
Dalam tatap muka dengan Wali Kota, para korban banjir meminta bantuan kasur dan mendesak Pemkot melakukan normalisasi kali. Wali Kota segera menyanggupinya. Ia menyatakan, guna antisipasi banjir susulan, Pemerintah Kota (Pemkot) Tikep berencana membangun pos rawan banjir di sejumlah desa. ”Sementara keluhan mengenai gangguan kesehatan, saat tim dari dinas kesehatan turun, sampai sejauh ini belum ada keluhan,” tutur Wali Kota.
Mansur, 34, salah satu korban banjir saat dihubungi Malut Post via ponsel mengemukakan, banjir di dua kecamatan tersebut bukanlah hal baru. Lantaran telah terjadi berulangkali, ia mendesak pemerintah segera melakukan normalisasi kali di sungai-sungai yang dianggap rawan. ”Ini bukan hal baru. Selama ini, terutama di Kali Kayu Laka, PU sering turun dan melakukan normalisasi kali. Namun semua itu sama ///deng/// bohong saja. Tidak ada yang berubah, banjir terus terjadi. Karena itu perlu Wali Kota melakukan evaluasi pekerjaan,” desaknya.
Tak hanya banjir, longsor juga menjadi ancaman tersendiri bagi warga di wilayah ini. Keberadaan posko untuk informasi titik rawan bencana pun dirasa kian urgen. ”Saat ini kita juga akan mendirikan posko, selain mengantisipasi banjir, juga mengantisipasi rawan longsor. Kita himbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam beraktifitas,” tambah Kepala BPBD.

Lahan Rusak
           Tak hanya rumah, banjir juga memupus harapan para petani di Trans Kosa dan Koli. Tercatat 23 hektare lahan pertanian di desa transmigrasi itu gagal panen. Tanaman holtikultura berupa tomat, cabai, bawang, dan sayur mayur siap panen rusak berat akibat tergenang banjir.
Petani terpaksa gigit jari. Tanaman-tanaman itu sedianya dipersiapkan untuk dipanen sebelum Idul Fitri. Alhasil, lebaran kali ini tampaknya akan dilewati dengan kesedihan akibat alam yang tak bersahabat.
Berharap pada bantuan pemerintah menjadi satu-satunya jalan. Namun sejauh ini, Pemkot belum juga turun mendata kerugian para petani. ”Yang jelas saat pertemuan Wali Kota dengan warga transmigrasi, ada petani yang mengeluhkan tanaman-tanaman mereka di atas lahan 23 hektare rusak karena banjir,” ungkap Kepala BPBD Tikep.
Sementara Kepala Dinas Pertanian Kota Tikep Imran Jasin saat dikonfirmasi menyampaikan, sejauh ini pihaknya belum menerima laporan langsung dari penyuluh yang bertugas di wilayah Oba. Bahkan agenda Wali Kota ke Oba dalam kesiapan tanggap darurat ini pihaknya tak dilibatkan. Namun ia membenarkan adanya puluhan hektare lahan yang rusak.
Menurut Imran, tahun ini Pemkot berencana membuka 100 hektare lahan cetak sawah baru. Hanya saja, akibat banjir kemarin, 25 hektare lahan rusak. Ia mengaku Pemkot tak bisa berbuat banyak untuk bantuan terhadap petani. Pasalnya, bantuan tersebut melekat di Pemerintah Provinsi Maluku Utara. ”Untuk tahun ini ada bantuan tapi itu melekat di Provinsi. Sementara di Kota Tikep bantuan itu tidak ada,” akunya.

Drainase Buruk
          Selain wilayah Tikep, banjir juga melanda Kota Ternate. Buruknya drainase dan maraknya aktivitas galian membuat sebagian kelurahan terkena dampak banjir saat hujan turun dengan intensitas tinggi Sabtu kemarin. Pantauan Malut Post, sepanjang ruas jalan di Kelurahan Bastiong, Ubo Ubo, Mangga Dua, Salero, Gamalama, Kalumpang, dan Fitu terendam banjir. Akibatnya, arus lalu lintas yang melintasi jalur tersebut sedikit terhambat lantaran debit air setinggi betis orang dewasa.
Banjir juga masuk hingga ke rumah warga, seperti yang terjadi di Kelurahan Bastiong dan Fitu. Belasan rumah warga di kelurahan tersebut dimasuki air setinggi 1 meter lebih. Warga dua kelurahan itu terlihat panik dan sibuk mengamankan barang-barang yang ada di dalam rumah mereka. Bahkan ada sebagian warga yang alat elektroniknya rusak terendam air lantaran tak sempat diungsikan.
Siti, warga Kelurahan Bastiong mengatakan, setiap terjadi hujan, sebagian rumah di Kelurahan Bastiong selalu menjadi langganan banjir. Banjir bukan hanya terjadi di jalan saja, melainkan masuk hingga ke rumah warga. "Drainasenya terlalu kecil, akhirnya air meluap keluar dan masuk ke rumah warga," ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, air yang meluap ke jalan disebabkan banyaknya sedimentasi dalam selokan. "Bastiong ini setiap hujan bukan hanya air yang masuk, tapi sampah kiriman juga masuk dalam rumah warga, baik itu popok bayi, hingga plastik dan botol-botol minuman," katanya.
Jika di Bastiong drainasenya buruk, penyebab banjir di Fitu justru diakibatkan aktivitas galian C yang marak dilakukan. Risno Wahid, warga Fitu menuturkan, sudah berulangkali warga di situ menanggung akibat galian C tersebut. Warga bahkan sudah beberapa kali memblokade aktivitas penggalian. Keluhan ke Pemkot Ternate pun telah beberapa kali dilayangkan. Hanya saja, hingga kini tak ada hasilnya. ”Ketika terjadi hujan deras, air tidak lagi mengalir melalui kali mati sebelah galian itu, lantaran jalur air menuju kali itu sudah dibongkar oleh pemilik galian. Akhirnya ketika hujan air mengalir masuk ke rumah warga hingga ke badan jalan," jelas Risno.
Risno berharap agar pemerintah segera menghentikan aktivitas galian itu. Selain beresiko, galian itu juga tidak mempunyai izin. "Tiap kali hujan turun, warga pasti tidak bisa tidur nyenyak lantaran takut,” tambahnya.
Bencana banjir juga melanda Pulau Moti di Ternate, Kota Weda di Halmahera Tengah, dan sejumlah desa di Halmahera Barat. Bahkan di Kelurahan Takofi, Pulau Moti, tinggi air mencapai leher orang dewasa. Beruntung, banjir yang terjadi usai waktu sahur itu tak merenggut korban jiwa. Namun 26 rumah mengalami kerusakan akibat terendam air.
Kepala BPBD Kota Ternate Hasyim Yusuf saat dikonfirmasi mengatakan BPBD siap memperbaiki kerusakan rumah warga akibat banjir. Banjir di Moti sendiri disebabkan meluapnya aliran dari kali mati di Takofi yang telah dipenuhi material. Padahal, dalam kali mati itu sendiri mencapai 4 meter. "Akan kita berikan bantuan kepada rumah warga yang rusak itu. Sabtu kemarin juga kami dan pihak Kodim 1501 dan PUPR juga membantu warga untuk mengevakuasi mereka ke keluarga di kelurahan sebelahnya," ungkapnya.
Hasyim juga mengaku pihaknya akan menormalisasi sungai yang menjadi pemicu banjir. "Dalam waktu dekat kami akan koordinasi dengan PUPR untuk menormalisasi sungai tersebut. Untuk menormalisasi sungai itu butuh anggaran sekitar Rp 750 juta," katanya.
Pernyataan ini dibenarkan Kepala Dinas PUPR Ternate Risval Tribudiyanto. Menurutnya, dalam waktu dekat PUPR akan mengirim alat berat ke Moti. "Untuk menormalisasi sungai itu. Tapi yang jelas kami harus menunggu jadwal feri agar bisa mengirim eksavator ke Moti," singkatnya.
Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman saat dikonfirmasi kemarin menegaskan dirinya akan memerintahkan BPBD dan PUPR untuk segera melakukan penanganan cepat normalisasi kali. "Dalam waktu dekat sudah akan dinormalisasi kali mati itu, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan saat hujan lagi," jelasnya.
Sementara warga yang menjadi korban banjir akan diberikan bantuan sesuai tingkat kerusakan rumah. "Akan ada bantuan, seperti yang terjadi di Kelurahan Tabona beberapa hari lalu," tandasnya.
Hujan deras Sabtu kemarin tak hanya mengakibatkan banjir. Longsor pun terjadi di jalan raya antara perbatasan Togafo dan Taduma, Pulau Ternate. Akibat longsor, badan jalan ikut ambruk dan menjadi berbahaya untuk dilewati kendaraan.
Risval Tribudiyanto mengatakan, pihaknya sudah bekerja sama dengan kontraktor di Kota Ternate untuk mengatasi jalan tersebut. "Akan diperbaiki dalam waktu dekat ini. Kontraktor sudah menurunkan alatnya dan segera lakukan perbaikan. Jalan itu untuk sementara kami lakukan pelebaran di sisi kirinya, untuk menghindari longsor," jelasnya.
Sementara itu, Prakirawan BMKG Maluku Utara Muhammad Riva mengatakan, dalam dua hari ke depan wilayah Maluku Utara masih akan dilanda hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. "Masih terjadi potensi hujan, biasa terjadi di malam hingga menjelang pagi hari. Karena itu, masyarakat yang tinggal di bantaran kali perlu waspada. Begitu juga warga yang hendak mudik agar waspada gelombang tinggi," imbaunya.(tr-05/far/ato/rid/kai)

 Dampak  Hujan Sabtu 17 Juni 2017
TERNATE:
-Air meluap hingga memasuki pemukiman sebagian  warga di beberapa wilayah seperti  Bastiong, Ubo Ubo, Mangga Dua, Salero, Gamalama, Kalumpang dan  Fitu serta Takofi .
-Paling parah terjadi  di Kelurahan Takofi  Kecamatan Pulau  Moti
-Longsor terjadi di ruas jalan yang menghubungkan Kelurahan  Togafo dan Taduma


TIKEP:
Banjir terjadi di Desa Kosa dan Desa  Trans Koli, Kecamatan Oba. Sedikitnya 23 hektar  lahan pertanian rusak


HALTENG:
-Sungai Fidi meluap mengakibatkan sejumlah rumah i Desa Fidi Jaya terendam banjir


HALBAR:
RSUD Jailolo Ikut Kebanjiran
-Sedikitnya empat desa  di Jailolo terendam banjir , yakni Desa Payo, Bobo, Jalan Baru dan Hatebicara